Mendalami Rahasia Taubat: Inabah dan Istijabah

Rizal Hartanto
5 Min Read

Jenis-Jenis Taubat dalam Pandangan Ulama Spiritual

Dalam pandangan ulama spiritual, taubat memiliki berbagai tingkatan. Tentu kita berharap bahwa taubat yang dilakukan semakin jauh meninggalkan taubat dasar, yaitu taubat yang biasa dilakukan oleh orang-orang awam. Taubat orang awam terjadi ketika mereka bertaubat setelah melakukan dosa besar. Namun, taubat akan semakin tinggi jika seseorang juga mendoakan pengampunan untuk dosa-dosa kecil yang pernah ia lakukan.

Karena sadar bahwa dosa-dosa kecil yang menumpuk bisa menjadi dosa besar, maka penting bagi seseorang untuk selalu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Bulan suci Ramadan, yang dikenal sebagai bulan pertobatan (syahr al-taubah), sebaiknya dimanfaatkan untuk melakukan pertobatan yang lebih dalam dan mendalam. Jika bisa, kita diharapkan mampu menjalani taubat yang lebih tinggi.

Syekh Ibn ‘Athaillah membedakan dua jenis taubat, yaitu taubat inabah dan taubat istijabah. Taubat inabah adalah sikap taubat seorang hamba yang didorong oleh rasa takut terhadap dosa dan maksiat yang telah dilakukannya. Dalam kondisi ini, ia terbayang kerugian besar di dunia dan siksa serta malapetaka Tuhan yang sangat pedih di neraka.

Dosa dan maksiat yang pernah ia lakukan membuatnya betul-betul takut kepada Allah SWT. Dalam suasana takut seperti itu, ia menyerahkan diri, bertaubat, dan memohon pengampunan kepada Allah. Ia selalu membayangkan api neraka yang akan menyiksa dirinya seandainya Allah tidak memaafkannya. Siang dan malam, ia terus melakukan ketaatan dengan harapan amal kebajikan bisa mengikis habis segala dosa-dosanya, sebagaimana firman Allah: Inna al-hasanat yudzhibna al-sayyi’at (sesungguhnya amal kebajikan menghapuskan segala dosa).

Sebesar apapun dosa seseorang, pengampunan dosa jauh lebih besar. Adapun taubat istijabah merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap kemuliaan-Nya. Taubat dalam tahap ini tidak lagi membayangkan Allah SWT sebagai Maha Pembalas terhadap segala dosa dan maksiat sebagaimana dalam tahap taubat inabah.

Taubat istijabah terjadi ketika seseorang lebih merasa tersiksa rasa malu terhadap Tuhannya ketimbang panasnya api neraka-Nya. Yang membuat seseorang tersiksa adalah betapa pedihnya jika terbebani rasa malu yang amat dalam terhadap Allah SWT. Mestinya ia bersyukur dan mengabdi kepada Allah SWT dengan berbagai kenikmatan yang diperoleh dari-Nya, tetapi malah melakukan dosa dan maksiyat.

Inilah yang membuatnya tersiksa, kecewa, lalu menyesali dirinya tega melakukan sesuatu yang memalukan terhadap Tuhannya. Ketersiksaannya lebih berat ketimbang ia masuk ke dalam neraka. Seandainya disuruh memilih disiksa secara fisik di neraka atau terbebani rasa malu terhadap Tuhannya, maka ia akan memilih disiksa di neraka ketimbang bahagia sesaat di dunia.

Pertanyaan-Pertanyaan Penting tentang Taubat

Pertanyaan kita adalah, jenis taubat apa yang kita miliki? Apakah kita sudah melakukan penyesalan terhadap dosa dan maksiat yang telah kita lakukan? Apakah kita tergolong yang selalu membayangkan panasnya api neraka setelah melakukan dosa dan maksiat?

Apakah sudah terbetik rasa malu kepada Allah SWT setelah kita melakukan dosa? Apakah telah muncul penyesalan mendalam dan bertekad untuk memutuskan segenap dosa-dosa dan maksiat langganan kita, karena takut atau malu kepada Allah SWT?

Apakah kita telah mengganti langganan dosa dan maksiat itu dengan amal kebajikan? Atau kita sama sekali belum melakukan perubahan di dalam diri kita, dosa dan maksiat masih berjalan terus tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun, na’udzu billah.

Memperhatikan Tanda-Tanda Ketuaan

Tak terkecuali siapa pun di antara kita sepantasnya mengintip umur kita. Tanda-tanda ketuaan apa yang kita sudah miliki semisal uban sudah bercampur di tengah rambut hitam kita, rasa ngilu di tulang persendian sebagai akibat gejala penuaan, pembatasan-pembatasan apa yang diminta dokter pribadi kita, semisal membatasi makanan dan pergerakan fisik.

Lihatlah anak-anak kita yang sudah mulai besar dan membutuhkan figure keteladanan orang tua, atau mungkin kita sudah punya cucu yang selalu mengidolakan kita? Tataplah diri kita tanpa topeng kepalsuan. Apakah diri kita pantas diidolakan atau mereka semua terkecoh dengan topeng-topeng kepalsuan yang melekat di wajah kita.

Di depan mereka kita malaikat, tetapi di luar sana kita iblis. Masyarakat modern sarat dengan tradisi hipokrasi dan kemunafikan. Hanya karena menginginkan jabatan atau harta maka di antara mereka mengorbankan musuh-musuhnya. Semoga kita semua bisa meraih taubat Istijabah pada bulan Ramadan kali ini.

Share This Article
Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *