Menelusuri Jejak Sejarah Jembatan Merah, Simbol Keberanian Arek Suroboyo

Hendra Susanto
5 Min Read

Sejarah dan Peran Jembatan Merah dalam Kota Surabaya

Jembatan Merah adalah salah satu ikon paling bersejarah di Kota Surabaya, Jawa Timur. Berada di Kecamatan Pabean Cantikan, jembatan ini menghubungkan Jalan Rajawali di sisi barat dengan Jalan Kembang Jepun di sisi timur. Selain menjadi penghubung dua kawasan penting, Jembatan Merah juga menjadi saksi berbagai peristiwa penting sejak era kolonial hingga masa Revolusi Nasional Indonesia.

Warna merah yang melekat pada pagar jembatan menjadi ciri khas tersendiri. Meski tampak sederhana, warna tersebut menyimpan makna historis yang kuat bagi warga Kota Pahlawan. Jembatan ini dikenal sebagai Roode Brug dalam bahasa Belanda, yang berarti Jembatan Merah. Nama ini berasal dari masa kolonial ketika jembatan tersebut menjadi penghubung antara kawasan perdagangan di sisi timur Sungai Kalimas, yang banyak ditempati komunitas Tionghoa dan Arab, dengan wilayah barat yang menjadi pusat pemerintahan kolonial serta permukiman warga Eropa.

Awal Mula: Perjanjian Mataram dan VOC Tahun 1743

Keberadaan Jembatan Merah tidak lepas dari perjanjian antara Pakubuwono II dari Mataram dengan VOC pada 11 November 1743. Dalam perjanjian tersebut, sejumlah wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Surabaya, berada di bawah pengaruh VOC. Sejak saat itu, Surabaya tumbuh sebagai kota pelabuhan strategis di bawah kekuasaan Belanda.

Pada masa kolonial, Jembatan Merah memiliki peran sangat penting karena menjadi penghubung antara jalur perdagangan di Kalimas dengan Gedung Karesidenan Surabaya. Kawasan di sekitarnya berkembang pesat sebagai pusat ekonomi. Surabaya pun dikenal sebagai salah satu kota dagang tersibuk pada masa kolonial Belanda.

Perombakan Besar Tahun 1890

Memasuki akhir abad ke-19, pemerintah kolonial melakukan perubahan besar pada struktur fisik Jembatan Merah. Pada tahun 1890, pagar kayu yang semula digunakan diganti dengan pagar besi yang lebih kuat dan tahan lama. Bentuk pagar besi ini masih menjadi ciri khas hingga sekarang. Perubahan tersebut menunjukkan pentingnya posisi Jembatan Merah dalam mendukung mobilitas dan aktivitas perdagangan di Surabaya.

Selain sebagai jalur distribusi barang, jembatan ini juga menjadi penghubung utama antara kawasan Eropa dan kawasan perdagangan lokal. Secara fisik, bentuk Jembatan Merah saat ini tidak jauh berbeda dengan jembatan pada umumnya. Namun nilai sejarah yang melekat membuatnya berbeda dari jembatan lain di Surabaya.

Insiden 30 Oktober 1945 dan Tewasnya Mallaby

Nama Jembatan Merah semakin dikenal luas setelah peristiwa 30 Oktober 1945. Pada hari itu berlangsung pertemuan antara tokoh Indonesia dan pihak Sekutu untuk membahas gencatan senjata. Namun situasi di lapangan tetap tidak stabil dan bentrokan sporadis masih terjadi. Di kawasan sekitar Jembatan Merah, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, pimpinan tentara Sekutu di Surabaya, tewas dalam insiden baku tembak beberapa jam setelah pertemuan tersebut.

Peristiwa itu terjadi di sekitar sisi barat Jembatan Merah, dekat gedung Internatio. Insiden tersebut memicu kemarahan pihak Sekutu dan memperkeruh hubungan dengan pejuang Indonesia. Kematian Mallaby kemudian menjadi salah satu pemicu utama pecahnya pertempuran besar di Surabaya.

Titik Awal Pertempuran 10 November 1945

Beberapa hari setelah insiden tersebut, tepat pada 10 November 1945, terjadi pertempuran besar antara rakyat Surabaya melawan tentara Inggris dan NICA-Belanda. Pertempuran ini kemudian dikenang sebagai salah satu perlawanan paling heroik dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sekaligus diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Jembatan Merah menjadi salah satu titik penting dalam pertempuran tersebut. Ribuan arek-arek Suroboyo mempertahankan kota dari serangan pasukan yang datang dengan persenjataan lengkap. Kawasan sekitar jembatan berubah menjadi medan tempur. Dentuman meriam, tembakan, serta barikade pemuda menjadi bagian dari sejarah yang tak terpisahkan dari lokasi ini.

Sejak saat itu, Jembatan Merah tidak lagi sekadar infrastruktur kota, melainkan simbol keberanian dan perlawanan rakyat Surabaya.

Kini Dirawat dan Jadi Destinasi Wisata Sejarah

Pemerintah Kota Surabaya terus melakukan perawatan dan penataan kawasan Jembatan Merah. Lampu-lampu dipasang untuk mempercantik area jembatan, terutama pada malam hari. Selain nilai historisnya, kawasan ini juga menjadi destinasi wisata sejarah.

Di sekitarnya terdapat Jembatan Merah Plaza, Klenteng Hong Tiek Hian, Pasar Pabean, kawasan Ampel, hingga Museum Sampoerna. Bangunan-bangunan tua bergaya kolonial masih berdiri kokoh dan sebagian difungsikan sebagai perkantoran maupun perbankan.

Kini, Jembatan Merah tetap menjadi salah satu titik penting di Surabaya yang tidak hanya berfungsi sebagai jalur penghubung, tetapi juga menyimpan nilai sejarah. Keberadaannya menjadi pengingat perjalanan panjang kota ini dari masa kolonial hingga masa kemerdekaan, sekaligus bagian dari identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *