Mengungkap kisah kelam Ferenc Puskas: Dari penganiayaan rezim radikal hingga jadi ikon FIFA

Ratna Purnama
5 Min Read

Kehidupan Ferenc Puskas: Dari Tekanan Politik Hingga Jadi Legenda Sepak Bola Dunia

Ferenc Puskas adalah salah satu legenda sepak bola yang kisah hidupnya penuh dengan tantangan. Ia lahir di tengah situasi politik yang sangat ketat di Hungaria, di mana rezim radikal menguasai segala aspek kehidupan. Meskipun begitu, Puskas berhasil menjelma menjadi ikon sepak bola dunia yang dikenang hingga hari ini.

Puskas dikenal sebagai seorang penyerang yang memiliki insting gol yang luar biasa. Bahkan dalam kondisi politik yang tidak stabil, ia tetap fokus pada permainannya dan terus berjuang untuk meraih kemenangan. Namanya kini abadi melalui “Puskas Award” yang diberikan FIFA setiap tahun untuk gol terbaik. Banyak yang percaya bahwa jika penghargaan ini ada pada masa keemasannya, Puskas akan memenangkannya berkali-kali.

Salah satu momen paling ikonik dalam kariernya adalah saat ia memimpin Hungaria mengalahkan Inggris 6-3 di Wembley pada 1953. Aksinya membuat Billy Wright tertinggal jauh menjadi bukti betapa hebatnya Puskas dalam bermain.

Kariernya tidak mudah sejak klubnya, Kispest, diambil alih tentara pada 1949 dan berubah menjadi Honved. Keberadaan militer membuat sepak bola Hungaria penuh dengan tekanan politik dan kepentingan yang kompleks.

Dalam autobiografinya, Puskas, ia menyatakan bahwa ia selalu berkomitmen pada permainan dan keluarganya. “Saya harus mengatakan saya bukannya orang yang tak pernah berkomitmen,” tulisnya. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak tertarik pada politik. “Saya sama sekali tak tertarik pada politik, di dalam dunia sepak bola saya, isinya cuma bermain dan berlatih, dan memimpin kehidupan keluarga yang bahagia.”

Meski begitu, Puskas dan rekan setim tetap tampil maksimal ketika membela Hungaria. Di bawah pelatih Gusztav Sebes, mereka mencatat kemenangan beruntun selama empat tahun termasuk emas Olimpiade 1952 dan kemenangan 6-3 di Wembley.

Kiper Gyula Grosics mengungkapkan bahwa kemenangan itu lahir dari tekanan hidup yang dialami masyarakat Hungaria. “Kami hidup di bawah rezim yang sangat radikal yang menggunakan banyak senjata, termasuk intimidasi, untuk memaksakan visi,” ujarnya. Menurutnya, sepak bola menjadi ruang kecil bagi rakyat untuk bernapas.

Perjalanan Kariernya di Piala Dunia dan Revolusi 1956

Ketika Piala Dunia 1954 digelar di Swiss, publik Hungaria sangat berharap bisa mengalahkan Jerman Barat. Meski Puskas sedang mengalami cedera engkel, ia tetap bermain di final dan mencetak gol pembuka sebelum timnya kalah 2-3. Kekalahan itu memicu kemarahan publik, dan Puskas menjadi sasaran tudingan.

Ia mengaku suasana kepulangan tim terasa seperti menghadiri pemakaman. “Di jalanan, orang melihat saya seperti saya terkena penyakit,” curhatnya tentang tekanan besar yang ia hadapi.

Situasi semakin rumit ketika Revolusi Oktober 1956 pecah. Saat Honved sedang berlaga di kompetisi Eropa, tim dinilai tidak aman untuk pulang. Para pemain menolak kembali tanpa jaminan keselamatan. Akibatnya, Honved melakukan tur ke berbagai negara, termasuk Amerika Selatan, dan mendapat sanksi dari Federasi Sepak Bola Hungaria dan FIFA.

Puskas hampir bergabung dengan Inter Milan, namun sanksi menghalangi proses tersebut. Kesempatan ke Manchester United setelah tragedi Munich 1958 juga kandas sebelum terwujud.

Masa Emas di Real Madrid

Harapan baru datang ketika Real Madrid membuka pintu untuknya setelah pertemuan antara petinggi Honved dan Santiago Bernabeu. Puskas bahkan mengaku datang dengan kondisi fisik yang jauh dari prima. “Saya setidaknya kegendutan 18 kilo,” kata Puskas, yang kemudian dijawab Bernabeu dengan kalimat singkat, “Itu bukan masalah saya, itu milikmu.”

Fans Real Madrid awalnya terkejut melihat Puskas yang kelebihan berat badan dan berusia 31 tahun. Namun semua keraguan itu dijawab dengan performa luar biasa. Bersama Alfredo Di Stefano, Puskas membawa Real Madrid merajai Eropa dengan lima trofi Piala Champions beruntun.

Final 1960 di Hampden Park menjadi panggung terbaiknya ketika ia mencetak empat gol dalam kemenangan 7-3 atas Frankfurt. Itu menjadi salah satu penampilan individu terbaik dalam sejarah sepak bola Eropa.

Puskas bangga mampu tampil di level tertinggi meski usianya terus menua. “Saya sangat bangga bisa bermain di performa terbaik saya meski sudah 40 tahun,” ujarnya mengenang masa emasnya.

Karier yang Layak Masuk Hall of Fame

Puskas menjalani dua karier yang sama-sama layak masuk Hall of Fame sepak bola dunia. Hungaria 1950-an menjadi kekuatan besar internasional, sedangkan Real Madrid menjadi klub terkuat di Eropa saat Puskas menutup kariernya.

Melalui Hungaria dan Honved, ia menunjukkan kematangan mental serta jiwa kepemimpinan yang besar. Bersama Real Madrid, ia menegaskan determinasi dan kualitas yang membuatnya dikenang sebagai legenda sejati.

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *