
Nama Sri Hastuti, atau yang lebih akrab dipanggil Itut, mungkin belum terlalu dikenal oleh khalayak luas. Namun dedikasinya terhadap sepak bola wanita di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) layak mendapatkan apresiasi. Sebagai pelatih PSW Putri Mataram, klub sepak bola wanita di Yogyakarta, Itut telah berkontribusi besar dalam mengembangkan bakat-bakat muda di bidang ini. Di era 1980-an, ia pernah menjadi bagian dari Timnas Wanita Indonesia dan tampil di sejumlah turnamen internasional.
Kehadiran Itut di lapangan hijau tidak hanya sebagai pelatih, tetapi juga sebagai guru yang aktif di dunia pendidikan. Selain itu, ia juga menjabat sebagai kepala sekolah di SD Negeri Ngrenak, Yogyakarta. Meskipun usianya sudah memasuki kepala enam, Itut tetap aktif melatih anak-anak Putri Mataram setiap Jumat sore dan Minggu pagi. Kini, timnya sedang bersiap untuk mengikuti HYDROPLUS Soccer League U-15 dan U-18 di Kudus.
Rumah Itut berada di Jl. Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Lokasinya dekat dengan Lapangan Nogotirto, tempat latihan rutin dilakukan. Saat kami tiba di rumahnya, suasana cukup sederhana. Lantai pertama digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan roda dua dan juga memiliki kandang untuk dua ekor kucing peliharaannya. Setelah beberapa detik memperhatikan lingkungan sekitar, kami langsung menyampaikan salam dan segera masuk ke dalam rumah.

Di lantai dua, kami disambut oleh deretan piala yang tersusun rapi di rak cokelat tua. Piala-piala tersebut merupakan hasil kerja keras Itut selama menjadi pelatih. Selain itu, ada juga berbagai prize board yang bertuliskan juara pertama, runner-up, hingga peringkat ketiga. Decak kagum meluncur begitu saja dari mulut kami. Itut pun tersenyum dan mempersilakan kami duduk di atas tikar yang sudah disiapkan, lengkap dengan minuman.
Setelah meminumnya, kami langsung memulai sesi wawancara. Itut bercerita tentang kesibukannya saat ini, bagaimana ia tetap aktif melatih di usia yang telah menginjak kepala enam, serta pengalamannya bermain untuk Timnas Wanita Indonesia di era 1980-an. Kami larut mendengarkan ceritanya hingga waktu berjalan 15 menit. Kami lalu memutuskan untuk memulai sesi wawancara di depan dua rak cokelat berisi piala-piala itu.

Itut ternyata juga bekerja sebagai Pegawai Negara Sipil (PNS) dan menjabat sebagai kepala sekolah di SD Negeri Ngrenak, Yogyakarta. Dari pagi sampai sore hari, ia bekerja sebagai kepala sekolah, lalu setiap Jumat sore dan Minggu pagi melatih anak-anak Putri Mataram. Awalnya, Itut mengabdi sebagai guru olahraga di SD Negeri Pandanpuro 2 selama 25 tahun. Setelah itu, ia menjabat sebagai kepala sekolah di SD Negeri Kandangan 2 selama tujuh tahun. Kemudian, ia dipindah lagi menjadi kepala sekolah di SD Negeri Karaan selama kurang lebih enam tahun. Sekarang, ia menjabat sebagai kepala sekolah di SD Negeri Ngrenak, Godean. Ia akan pensiun pada 1 Agustus 2026.

Awal Melatih PSW Putri Mataram
Sebelum menjadi pelatih kepala di PSW Putri Mataram, Itut adalah seorang pemain aktif di klub tersebut. Ia mulai membela Putri Mataram pada 1981, saat masih duduk di kelas 1 SMP. Saat itu, PSW Putri Mataram dilatih oleh Almarhum Sudarsono, salah satu sosok yang turut membentuk PSS Sleman. Setelahnya, posisi pelatih sempat dipegang Eko, Restu Sagita, dan Putut. Namun, karena ketiganya sudah diterima menjadi guru di tiga kota berbeda: Lombok, Yogyakarta, dan Batang, posisi pelatih pun kosong. Dari situlah Itut mendapat kesempatan untuk memulai kariernya kepelatihannya.
“Karena Pak Darsono sudah tua, akhirnya saya diminta untuk menjadi asisten dulu awalnya. Waktu itu masih ada beliau-beliau bertiga itu masih ada, membantu mereka. Setelah ketiganya mendapat pekerjaan, nah otomatis saya, saya yang diminta Pak Darsono untuk menjadi pelatih,” kata Itut. Turnamen pertamanya saat melatih Putri Mataram adalah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) pada 2008. “Waktu itu di Porprov itu akan mempertandingkan sepak bola wanita. Nah, di situlah saya mulai menekuni benar-benar menjadi seorang pelatih kepala di Putri Mataram,” ujar Itut.
Tak Digaji Klub
Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Itut mengungkapkan alasannya masih bertahan sebagai pelatih PSW Putri Mataram. Salah satunya adalah karena minimnya pelatih perempuan di Indonesia. “Alasan kedua, karena di Putri Mataram itu tidak digaji. Jadi benar-benar kami murni tidak digaji. Tapi tidak masalah, yang penting Putri Mataram tetap eksis, atletnya semakin banyak, semakin berprestasi. Itu juga sudah merupakan gaji buat kami,” ungkap Itut.
Beruntung, kondisi Putri Mataram mulai membaik setelah dikelola pihak baru. Dampaknya pun terasa bagi Itut dan para pemain. “Jadi, sekarang untuk Putri Mataram setiap anggotanya sudah ada iurannya. Jadi kami-kami yang didapuk sebagai pelatih alhamdulillah mulai tahun 2025 kemarin istilahnya apa ya namanya… mendapatkan uang ganti bensinlah,” ucap Itut. “Kalau gaji, saya rasa belum dikatakan gaji. Tapi kalau uang ganti bensin, iya sampai saat ini,” sambungnya.

Perkuat Timnas Wanita Indonesia
Itut juga bercerita bahwa dirinya pernah memperkuat Timnas Wanita Indonesia di tahun 1980-an, tepatnya 1984. Ia terpilih sebagai salah satu pemain yang tampil dalam laga persahabatan melawan Prancis di Yogyakarta. Selain itu, Itut juga bermain di turnamen Ibu Tien Soeharto Cup di Jakarta. Puncak kariernya datang pada 1989, ketika Itut menjadi satu-satunya wakil DIY yang lolos seleksi timnas untuk Piala Asia Wanita di Hong Kong. Saat itu, Indonesia berada satu grup dengan Jepang, India, dan tuan rumah. Namun, Itut dan tim gagal lolos dari fase grup setelah kalah selisih gol dari Hong Kong yang menjadi runner-up grup. “Gitu ceritanya waktu saya membela Timnas Wanita Indonesia,” pungkas Itut.
Bela Timnas, Disambangi Wartawan
Setelah sukses bermain untuk timnas, Itut mengaku sempat disambangi wartawan sesaat setelah pulang ke rumahnya. Saat itu, wartawan yang berasal dari media Kedaulatan Rakyat tersebut mewawancarainya dan juga mengambil banyak dokumentasi. “Itu foto (hasil wawancaranya) di sana. Masih saya dokumentasikan walaupun sudah enggak begitu bagus,” ujar Itut sambil menunjuk ke sebelah kiri tempatnya berada, tempat bingkai besar dipajang tengah ruangannya. Bingkai tersebut berisi foto-foto ketika Itut masih mengenakan seragam sepak bola, baik untuk timnas maupun PSW Putri Mataram.
“Terus kemudian selisih sehari ada update kan. Nah, di situlah baru orang-orang tahu kalau saya ternyata mewakili Indonesia mengikuti timnas ke Hong Kong,” imbuhnya. Menariknya, Itut tak memberi tahu tempatnya bekerja, Unit Pelaksana Teknis (UPT), saat terbang ke luar negeri untuk mengikuti turnamen. Ia—yang saat itu sudah menjadi guru—memilih nekat bermain diam-diam. “Sebenarnya dulu saya izin itu nggak diizinkan. Jadi saya sudah jadi guru waktu itu, dan saya nggak diizinkan sama ketua UPT. Tapi saya nekat, tiga bulan di sana, TC (pemusatan latihan), kemudian sampai akhir tahun saya masih di sana. Jadi tahun barunya nggak di rumah waktu itu,” kenang Itut. “Jadi, saya nekat waktu itu. Alhamdulillah nggak ada apa-apa. Setelah terbit di koran, ketua UPT-nya langsung ngucapin selamat ke saya. Waktu itu beliau agak sepuh juga. Mungkin tahu, ‘Oh bocah kok bal-balan’ (anak kok main bola). Gitu kali ya,” pungkasnya sambil tertawa.
Kini, setelah memiliki segudang pengalaman di sepak bola, Itut memutuskan tetap berada di lapangan hijau bersama PSW Putri Mataram. Tujuannya hanya satu, ingin menanamkan ilmu kepada anak-anak asuhannya agar kelak mengikuti jejaknya—berseragam tim nasional Indonesia.