Tragedi Ambruknya Bordes Lantai Dua Bangunan Tangsi Belanda
Pada Sabtu, 31 Januari 2026, sebuah kejadian tragis terjadi saat puluhan siswa SD IT Baitul Ridho dari Kampung Rawang Kao, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, Riau sedang melakukan study tour di Bangunan Cagar Budaya Tangsi Belanda. Kejadian ini berlangsung di Kecamatan Mempura dan menimbulkan korban luka-luka.
Kronologi Kejadian
Kegiatan study tour dimulai sekitar pukul 08.35 WIB. Rombongan terdiri dari 55 siswa kelas 5 dan 6 beserta 13 guru pendamping. Mereka dipandu oleh Safrizal, seorang pemandu wisata setempat, untuk berkeliling kompleks bangunan.
Saat rombongan memasuki salah satu ruangan di lantai dua, struktur lantai yang terbuat dari papan kayu tiba-tiba runtuh. Akibatnya, sejumlah siswa dan guru terjatuh ke lantai dasar dengan ketinggian sekitar empat meter. Kejadian ini menyebabkan kepanikan di dalam bangunan.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Siak, R Rafilla Irawan menjelaskan bahwa jumlah korban luka-luka mencapai 17 orang, termasuk 15 siswa, satu guru, dan satu pemandu wisata. Korban langsung dievakuasi oleh pengelola dan pihak terkait.
Penanganan Medis
Dari total 17 korban, sepuluh orang dibawa ke RSUD Siak untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. Sementara tujuh orang lainnya ditangani oleh petugas Puskesmas Mempura karena mengalami luka ringan. Salah satu siswa, Keisya Lutfi Latifatunnisa (12 tahun), dilaporkan mengalami luka berat akibat robekan di kepala. Guru bernama Mira Agustina (37 tahun) juga mengalami luka ringan.
Polisi langsung mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Garis polisi juga dipasang di area runtuhan guna kepentingan penyelidikan.
Sejarah dan Status Tangsi Belanda
Tangsi Belanda terletak di Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau. Bangunan ini dibangun pada abad ke-18 sebagai kompleks militer. Sungai Siak menjadi jalur perdagangan dan pertahanan penting, sehingga Belanda membangun tangsi ini sebagai pusat kontrol militer dan ekonomi.
Bangunan ini kini berstatus sebagai cagar budaya. Namun, kondisinya sangat rapuh karena struktur kayu dan beton yang sudah berusia ratusan tahun. Banyak bagian bangunan lapuk akibat usia dan serangan rayap.
Fungsi dan Peran Tangsi Belanda
Tangsi Belanda pernah berfungsi sebagai:
* Barak militer untuk tentara Belanda.
* Penjara bagi tahanan politik dan kriminal.
* Asrama untuk prajurit.
* Kantor administrasi kolonial.
* Gudang senjata dan logistik.
Sejak tahun 2017, Tangsi Belanda resmi menjadi Situs Cagar Budaya Kabupaten Siak dan bagian dari Kawasan Cagar Budaya Nasional Pusat Pemerintahan Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Dampak Tragedi
Tragedi ini menyebabkan penutupan sementara objek wisata bersejarah ini untuk investigasi dan perbaikan. Tangsi Belanda menjadi saksi perjalanan dari masa Kesultanan Siak hingga kolonial Belanda. Tempat ini sering dijadikan lokasi study tour untuk mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda.
Tangsi Belanda merupakan bagian dari identitas masyarakat Siak dan Riau, sekaligus daya tarik wisata sejarah. Kejadian ini menunjukkan pentingnya pemeliharaan dan pengawasan terhadap bangunan-bangunan bersejarah yang berpotensi membahayakan.
