Menjejak 2025, Menyongsong Harapan 2026

Ratna Purnama
5 Min Read

Pengalaman Hidup dan Harapan yang Masih Tertunda

Tahun 2025 telah berlalu, membawa berbagai pengalaman hidup yang tercatat rapi di laman-laman blog. Meski begitu, ada keinginan yang masih tertunda, yaitu menerbitkan buku yang berisi sisi unik kehidupan pribadi sebagai seorang orang Jawa yang pernah bersinggungan dengan tradisi kehidupan orang Sumatera. Seorang lelaki yang awalnya bersekolah di jurusan IPA, tetapi akhirnya memilih kuliah di Fakultas Sastra.

Sebagai penulis yang sudah berusia senja, kedatangan tahun 2026 tidak dianggap sebagai pencapaian target, melainkan sebagai pintu kecil yang diketuk perlahan dalam rangka menggapai keinginan dan mengejawantahkan rasa syukur.

Sampai di penghujung tahun 2025, saya meyakini bahwa angka tahun hanyalah penanda, bukan jaminan pencapaian sesuatu. Namun, ketika akan memasuki tahun 2026, ada getaran berbeda yang pelan-pelan merambat dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Bukan karena rencana besar atau target ambisius, melainkan karena dua hal sederhana yang menggelisahkan: menyambut kehadiran cucu pertama dan mewujudkan harapan menerbitkan buku.

Genduk, yang sudah menikah lebih dari tiga tahun, bersama suaminya sengaja pulang ke Yogyakarta di penghujung tahun. Saat makan malam bersama keluarga (18/12/2025), tiba-tiba anak mantu menyampaikan kabar tak terduga.

“Bapak Ibu, sebenarnya malam ini kami ingin menyampaikan sesuatu. Setelah lebih dari tiga tahun menunggu, kami sudah memastikan ke dokter Hari di Jakarta, Genduk positif hamil. Sekarang usia kandungannya sudah dua bulan,” jelas anak mantu sambil menyodorkan buku kecil bersampul putih-ungu.

Ibu Negara Omah Ampiran dengan penuh suka cita membuka buku catatan dokter kandungan, dilengkapi foto-foto tes ultrasonografi (USG).

“Alhamdulillah, semoga semua diberi kelancaran. Bapak harus siap dipanggil Eyang atau Kung,” ujar Ibu Negara Omah Ampiran seraya menatap bahagia ke arah Genduk dan anak mantu di seberang meja makan.

Menjadi eyang kakung? Menyambut kehadiran cucu pertama di bulan Juli 2026, bagi saya terasa masih awang-awangen, berada di garis imajinasi. Hanya mampu membayangkan suara tangis pertama cucu seperti gema masa lalu yang kembali menyeruak.

Menjadi eyang bukan tentang mengulang peran sebagai orang tua, melainkan menerima peran baru dengan kerendahan hati dan penuh kesabaran. Jika dulu dalam mengasuh anak-anak selalu merasa tahu segalanya; berhadapan dengan cucu kelak, justru belajar menyadari bahwa tidak semua hal perlu diarahkan seorang eyang. Bukankah kehidupan bisa berjalan dengan caranya sendiri sesuai tuntutan zaman dan kehendak kedua orang tuanya?

Tugas sebagai eyang, mungkin hanya memastikan seorang cucu tumbuh sehat dalam lingkaran kasih sayang, bukan oleh tuntutan yang akan membelenggu perkembangannya.

Di sisi lain, ada buku yang belum juga terwujud. Padahal ide-ide terus bersliweran. Beberapa tulisan di blog, rasanya layak menjadi bagian buku pengalaman hidup dari masa kanak-kanak hingga pensiun sebagai PNS di salah satu instansi pemerintah.

Memang selama ini sudah ada beberapa buku yang diterbitkan. Misalnya saja Tradisi Sastra Jawa Radio, Gagaran Lampah, Seribu Candi di Sleman, Ngelmu iku Kelakone Kanthi Laku: Proses Kreatif Sastrawan Yogyakarta, Risalah Sunyi, dan Empat Belas Purnama, akan tetapi buku-buku tersebut hasil keroyokan, ditulis bersama penulis lain.

Ada dua buku yang mencantumkan nama saya sebagai penulis tunggal, yaitu Koleksi Etnografi Museum Negeri Sonobudoyo dan Buku Panduan Museum Negeri Sonobudoyo, tetapi buku-buku tersebut diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan oleh penerbit swasta atau penerbit indie.

Saya ingin menerbitkan buku semacam autobiografi. Beberapa ide sudah dituliskan di pengalaman masa kecil, kehidupan di desa, bersentuhan dengan seni tradisi—tinggal membenahi, memperkaya bahan, menambahkan tulisan lainnya.

Kenyataannya, kerja melengkapi tulisan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kondisi ini terjadi karena saya menginginkan tulisan yang mentes, bernas, dan layak dibaca—terlalu berharap tulisan yang begitu sempurna.

Di sisi lain, seorang teman berujar bahwa perjalanan waktu mengajarkan satu hal yang kadang menyakitkan: kesempurnaan sering kali menjadi alasan untuk menunda keinginan.

Belakangan ini saya menyadari sekaligus merasakan tulisan tak bergerak ke mana-mana, kehilangan mood. Anehnya, situasi ini tidak terasa menakutkan, sebaliknya justru menenangkan. Bukankah hidup tidak harus selalu menjadi beban, tetapi cukup dijalani dengan segenap kejujuran?

Memasuki tahun 2026, saya ingin melakoni peran apa adanya. Jika cucu lahir, saya ingin hadir tanpa merasa harus menjadi tokoh utama. Seandainya buku jadi terbit, saya menerimanya sebagai bagian dari perjalanan, bukan puncak pencapaian. Tidak lebih, tidak kurang.

Menyambut cucu pertama, berarti belajar kembali menjadi sabar melihatnya tumbuh bersama kedua orang tuanya. Di sisi lain, menerbitkan buku berarti belajar merelakan tulisan menemukan jalan hidupnya sendiri. Keduanya sama-sama soal melepas, bukan memiliki.

Selamat tahun baru 2026, semoga segala kebaikan memeluk erat kita bersama. (*)

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *