Jakarta – Puluhan tiang monorel yang sudah lama tidak terpakai di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, akhirnya akan dibongkar. Proses ini menjadi langkah penting dalam upaya penataan kawasan yang selama ini menjadi salah satu koridor tersibuk ibu kota.
Mispersepsi Anggaran
Beberapa pihak mengira bahwa pembongkaran tiang monorel membutuhkan anggaran hingga Rp100 miliar. Namun, menurut Sugiyanto, seorang pemerhati Jakarta, hal ini adalah kesalahpahaman yang terjadi di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa biaya pembongkaran tiang monorel hanya sekitar Rp300 juta, jika dihitung berdasarkan harga satuan pembongkaran beton antara Rp400.000 hingga Rp600.000 per meter kubik.
“Jika dihitung dengan harga tersebut, total biaya fisik untuk 109 tiang monorel hanya sekitar Rp120 juta hingga Rp300 juta,” ujarnya. Menurut Sugiyanto, estimasi anggaran Rp100 miliar baru masuk akal jika seluruh pekerjaan penataan kawasan digabung dalam satu paket.
Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Heru, juga menyampaikan bahwa anggaran Rp100 miliar mencakup seluruh penataan kawasan, bukan hanya pembongkaran tiang beton. “Anggaran pembongkaran ini jadi satu dengan penataan jalan dan trotoarnya. Totalnya semua sekitar Rp100 miliar,” katanya.
Fungsi Jalan Ditingkatkan
Sementara itu, Kepala Pusdatin Dinas Bina Marga DKI, Siti Dinarwenny, menyoroti dampak tiang monorel selama puluhan tahun. Menurutnya, tiang-tiang ini membuat pemanfaatan ruang jalan di Rasuna Said tidak maksimal. Setelah pembongkaran, ruang tersebut akan digunakan untuk memperbaiki fungsi jalan dan mendukung mobilitas berkelanjutan.
Dengan begitu, penataan diharapkan membantu mengurangi kemacetan di salah satu kawasan perkantoran tersibuk Jakarta. “Penataan lanjutan ini diharapkan dapat mendukung kelancaran lalu lintas dan mobilitas berkelanjutan,” ujar Siti.
Pembongkaran Malam Hari
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan pembongkaran akan dilakukan langsung oleh Pemprov DKI setelah PT Adhi Karya tidak menuntaskan pekerjaan sesuai batas waktu yang diberikan. “Adhi Karya sudah kami surati dan batas waktunya sudah lewat, kami akan melakukan sendiri,” kata Pramono.
Untuk meminimalkan gangguan lalu lintas di kawasan padat, pembongkaran direncanakan malam hari. Kepala Dishub DKI Jakarta Syafrin Liputo menjelaskan, alat berat akan ditempatkan di jalur lambat sehingga jalur cepat tetap berfungsi. “Otomatis pembongkarannya malam hari. Window times-nya itu,” ujarnya.
Dengan skema ini, proses pembongkaran bisa berlangsung tanpa menutup jalan dan tetap aman bagi pengguna jalan.
DPRD Ingatkan Risiko
Sementara itu, DPRD DKI Jakarta menyoroti potensi risiko pembongkaran terhadap masyarakat. Ketua Komisi D, Yuke Yurike, menekankan bahwa penataan jalan protokol harus tetap nyaman dan tidak menimbulkan kemacetan baru. “Kami pastinya berharap pembenahan jalan-jalan protokol pada tahun 2026 ini menjadikan Jakarta lebih rapih, indah dan tidak terjadi macet,” ujar Yuke.
Yuke juga mengingatkan kemungkinan genangan air dan dampak cuaca yang tidak menentu jika pembongkaran tidak diantisipasi dengan baik. “Hal ini sangat diperlukan, karena meyangkut kemacetan di Jakarta akibat pembongkaran tiang monorel. Belum lagi karena adanya faktor cuaca yang tidak menentu, jangan sampai menimbulkan kemacetan dan juga genangan air yang mengganggu aktivitas masyarakat,” kata Yuke.
Sejarah Monorel
Proyek monorel di Rasuna Said dibangun sejak 2004 dan diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada era Gubernur Sutiyoso. Pramono berencana mengundang Sutiyoso saat pembongkaran sebagai simbol bahwa proyek ini bukan sekadar menghancurkan tiang beton, tetapi bagian dari upaya menata kota.
Pembongkaran tiang monorel di Rasuna Said kini menjadi momentum penataan kota Jakarta, sekaligus ujian lama pemerintah untuk menepati janji memperbaiki jalan dan trotoar yang tertunda puluhan tahun.