Pemprov Bali Siaga Hadapi Hujan Ekstrem Saat Nataru

Hendra Susanto
5 Min Read

Bali Masuk Wilayah Risiko Tinggi Hujan Ekstrem Saat Nataru

Bali kini masuk ke dalam wilayah risiko tinggi terhadap hujan ekstrem pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Hal ini menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, mengingat pengalaman banjir bandang yang terjadi di bulan September 2025 lalu. Untuk memastikan kesiapan menghadapi ancaman bencana, Pemprov Bali melaksanakan Apel Siaga Bencana di Lapangan Renon, Denpasar, pada Selasa 2 Desember 2025.

Apel tersebut dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Bali, Dewa Made Indra. Tujuan dari apel ini adalah untuk memastikan Bali siap, sigap, dan tangguh dalam menghadapi berbagai ancaman bencana. Menurut Dewa Indra, fenomena cuaca ekstrem kini semakin sering terjadi dan sulit diprediksi. Peristiwa banjir awal September lalu menjadi pembelajaran penting tentang kesiapsiagaan.

Pada saat itu, curah hujan mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan Bali belum memasuki musim hujan. Dewa Indra menyatakan bahwa situasi serupa bisa terulang kembali. Selain banjir, ancaman lain seperti angin kencang, tanah longsor, dan gelombang tinggi di kawasan pesisir juga perlu diperhatikan.

Kesiapsiagaan sebagai Kunci Mengurangi Risiko Bencana

Bali merupakan pulau dengan keindahan alam dan kekayaan budaya yang luar biasa. Namun, pulau ini juga berada di kawasan ring of fire, yang memiliki potensi ancaman bencana geologi dan hidrometeorologi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan menyeluruh menjadi kunci untuk mengurangi risiko atau dampak bencana.

Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi melalui Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian agar seluruh daerah, gubernur, dan bupati/wali kota melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan bencana. Salah satu instruksi utama adalah pelaksanaan apel siaga bencana.

Dewa Indra menegaskan beberapa hal teknis dalam apel siaga tersebut. Pertama, seluruh komponen Pentahelix, termasuk instansi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, dan akademisi, harus terus memperkuat kolaborasi. Kedua, seluruh kesiapan personel, peralatan, logistik, sistem komunikasi, dan prosedur evakuasi harus diperiksa kembali. Ketiga, seluruh kekuatan di level provinsi harus siaga dan siap dimobilisasi untuk mendukung penanganan bencana di seluruh kabupaten dan kota di Bali.

Prediksi BMKG dan Kesiapsiagaan di Wilayah Pesisir

Menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Bali saat ini sudah memasuki musim hujan. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada bulan Januari hingga Februari 2026. Hujan deras yang ekstrem ini berpotensi menyebabkan banjir dan tanah longsor.

Di sisi lain, alat pendeteksi banjir masih dalam tahap pembangunan SOP. Pemda Bali sedang menyiapkan protokol kerja agar ketika alat pendeteksi dipasang, respon sinyalnya dapat dilihat secara efektif.

Meskipun ada ancaman bencana, aktivitas pariwisata di Bali tetap berjalan. Dewa Indra menekankan bahwa pariwisata adalah lokomotif perekonomian Bali. Ia mengimbau semua pihak untuk menjaga pariwisata tetap sustain dan menciptakan iklim suasana yang kondusif.

Persiapan di Wilayah Pesisir dan Wisata Bahari

Kepala Kantor Basarnas Bali, Nyoman Sidakarya, menyatakan bahwa persiapan antisipasi bencana terkait Nataru dilakukan di wilayah pesisir seperti Pelabuhan Gilimanuk, Padang Bai, Celukan Bawang, dan Sanur. Personel siaga akan ditempatkan di berbagai lokasi wisata untuk mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan.

Sidakarya juga mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk selalu mengutamakan keselamatan saat berwisata di perairan. Personel siaga akan tetap berada di tempat-tempat wisata dengan alat operasional yang siap digunakan jika diperlukan.

Identifikasi Potensi Bencana di Bali

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menyatakan bahwa BPBD telah melakukan pemetaan potensi bencana seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang. Pemetaan ini dilakukan di jalur-jalur pariwisata, transportasi, serta area kemiringan pegunungan.

Teja menekankan bahwa tidak ada sejengkal wilayah di Bali yang sepenuhnya aman dari bencana. Ada kawasan yang terancam oleh satu hingga sepuluh jenis bencana. Yang terpenting adalah kesiapan masyarakat dan pihak terkait.

Normalisasi Setelah Banjir

Selain persiapan bencana, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali juga melakukan kegiatan normalisasi setelah banjir. Program Gotong Royong Semesta Berencana digagas oleh Gubernur Bali dan masuk fase kedua. Fase pertama telah dilakukan dengan penanaman pohon oleh 35 ribu personel.

Kepala DKLH Provinsi Bali, I Made Rentin, menyatakan bahwa program ini bertujuan untuk penanaman pohon dan kebersihan lingkungan. Target Gubernur Bali adalah meningkatkan cakupan hutan di Bali hingga 30 persen dalam dua tahun ke depan.

DKLH juga bekerja sama dengan berbagai balai di bawah Kementerian Kehutanan untuk mempersiapkan bibit pohon dan melakukan normalisasi tumpukan sedimentasi di sungai-sungai di Bali. Proses pengerukan sedimentasi akan terus dilakukan dalam beberapa bulan ke depan.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *