Tantangan dan Peluang di Tahun 2026 bagi Industri Perbankan
Tahun 2026 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi sektor perbankan. Meskipun ada harapan akan terjadinya pemulihan ekonomi, berbagai indikator menunjukkan bahwa kinerja industri masih menghadapi tekanan. Dari sisi kredit, pertumbuhan kredit pada November 2025 melambat menjadi 7,74% secara tahunan (year-on-year/YoY), dibandingkan dengan level 10,79% YoY pada November 2024 dan 10,27% YoY pada Januari 2025. Pada bulan Juli 2025, pertumbuhan kredit bahkan mencapai level terendah sejak Maret 2022, yaitu hanya 7,03% YoY.
Selain itu, beberapa bank besar seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Mandiri mengalami penurunan laba pada periode yang sama. BRI terkoreksi sebesar 9,12% YoY, BNI sebesar 6,01% YoY, dan Bank Mandiri sebesar 6,41% YoY. Hanya Bank Central Asia (BCA) yang berhasil meningkatkan laba sebesar 4,35% YoY dalam sebelas bulan terakhir.
Strategi untuk Menghadapi Tantangan
Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri, Novita Widya, percaya bahwa pengalaman menghadapi siklus ekonomi dapat menjadi modal penting dalam memperkuat manajemen risiko, permodalan, serta kesiapan operasional. Menurutnya, arah kebijakan bisnis Bank Mandiri akan terus berfokus pada dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut, bank menetapkan target pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) di level dua digit hingga akhir tahun nanti.
“Kami melihat prospek ekonomi nasional yang tetap terjaga sebagai peluang untuk mempertahankan kinerja yang solid,” ujar Novita.
Di sisi lain, Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, melihat tahun depan masih akan penuh tantangan. Ia menilai daya beli masyarakat menjadi faktor utama pelemahan permintaan kredit dan belanja. Meski likuiditas bank dianggap cukup, permintaan kredit dan investasi dinilai masih lemah. Namun, ia tetap berharap adanya perbaikan dari peningkatan belanja pemerintah yang didorong oleh program-program strategis.
Fokus pada Sektor Properti dan Kredit Ritel
Bank Tabungan Negara (BTN) juga melihat peluang dari program pemerintah yang bisa menjadi mesin pendorong kinerja. Sebagai bank yang fokus pada kredit perumahan, BTN mendapatkan keuntungan dari insentif pemerintah untuk sektor properti. Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa bank telah menetapkan target pertumbuhan kredit di kisaran 10–12% untuk tahun depan. Target ini sejalan dengan rekomendasi Bank Indonesia (BI) yang menetapkan pertumbuhan kredit industri di level 8%–12%.
Nixon menyebutkan bahwa dua motor utama pertumbuhan kredit BTN adalah fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) dan kredit program perumahan (KPP). “Satu produk saja sudah bisa mendorong pertumbuhan 8–9%, ditambah yang satu lagi bisa mencapai 10–12%,” tambahnya.
Selain itu, target pertumbuhan DPK di BTN dipasang lebih masif daripada kredit, sementara target pertumbuhan laba dipasang di level double digit.
Optimisme dari Bank Digital
Bank-bank digital yang sedang berupaya memperluas cakupan usaha tampak lebih optimistis menghadapi tahun 2026. Presiden Direktur Krom Bank Indonesia, Anton Hermawan, menyatakan bahwa pihaknya tetap menetapkan target pertumbuhan kredit dan laba di level double digit untuk tahun depan. Anton menjelaskan bahwa bank akan memanfaatkan momentum pasar untuk menjaga pertumbuhan.
Ia mengakui bahwa faktor eksternal seperti perlambatan ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, dan isu geopolitik bisa memengaruhi pertumbuhan. Namun, ia yakin bahwa fokus pemerintah pada kesinambungan kebijakan fiskal dan moneter, serta meningkatnya ekonomi produktif dan kreatif, akan mendorong pertumbuhan industri.
“Kami melihat likuiditas perbankan masih ample karena BI dan regulator menjaga stabilitas likuiditas melalui kebijakan moneter dan makroprudensial,” kata Anton.
Bank digital ini akan fokus pada sektor prioritas dalam penyaluran kredit, yaitu sektor UMKM, konsumsi produktif, serta pembiayaan retail. Kredit UMKM dan konsumsi memang menjadi perhatian BI, karena bank cenderung lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit tersebut. Pada November 2025, kredit UMKM terkontraksi 0,64% YoY, sementara kredit konsumsi masih tumbuh 7,2% YoY.
Segmen Ritel Digital Tetap Jadi Prioritas
Direktur Utama Bank Neo Commerce, Eri Budiono, menyebutkan bahwa segmen ritel digital akan tetap menjadi fokus utama bank. Menurutnya, segmen ini merupakan bisnis inti bank. Meski pertumbuhan kredit belum akan pesat, Eri tetap optimis bahwa ada ruang untuk penyaluran kredit ke depannya.
“Kredit belum akan tumbuh pesat, tetapi akan sejalan dengan ekspektasi pemerintah mendorong tumbuhnya ekonomi di 2026,” tutur Eri.