JAKARTA – Perusahaan laboratorium kesehatan PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) mengalami penurunan kinerja pada tahun 2025. Laba bersih perseroan mengalami penurunan sebesar 23,46% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan, Prodia berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 1,31% menjadi Rp2,28 triliun dari posisi Rp2,25 triliun pada periode Januari—Desember 2024. Pendapatan terbesar berasal dari wilayah Jakarta Raya dengan nilai mencapai Rp909,49 miliar.
Sementara itu, pendapatan Prodia di Sumatra turun sedikit menjadi Rp252,37 miliar, di Jawa Barat tumbuh tipis menjadi Rp161,38 miliar, di Jawa Tengah sebesar Rp231,72 miliar, Jawa Timur dan Bali Nusra sebesar Rp364,69 miliar, serta Kalimantan senilai Rp362,02 miliar.
Seiring dengan pertumbuhan pendapatan di beberapa wilayah, beban pokok pendapatan Prodia juga meningkat menjadi Rp948,96 miliar per Desember 2025, naik dari Rp900,16 miliar per Desember 2024. Kenaikan ini mencapai 5,42% secara tahunan.
Penyebab utama kenaikan beban pokok pendapatan adalah beban pokok langsung yang meningkat menjadi Rp318,19 miliar dan beban gaji yang membengkak menjadi Rp223,87 miliar. Manajemen menjelaskan bahwa kenaikan biaya ini disebabkan oleh peningkatan volume tes dan ekspansi layanan di berbagai wilayah.
“Kenaikan biaya ini juga dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan medis, reagen, serta investasi dalam kualitas layanan dan teknologi diagnostik,” ujar manajemen dalam keterbukaan informasi, Kamis (12/3/2026).
Akibatnya, Prodia hanya mampu mencatat laba kotor senilai Rp1,33 triliun pada periode Januari—Desember 2025, yang turun 1,42% YoY dari Rp1,35 triliun pada periode yang sama 2024. Setelah dikurangi berbagai beban dan pajak, Prodia akhirnya hanya mampu membukukan laba bersih senilai Rp206,78 miliar, turun 23,46% YoY dari Rp270,19 miliar pada periode yang sama 2024.
Dari sisi neraca keuangan, Prodia mencatat total aset senilai Rp2,69 triliun, yang lebih rendah dari Rp2,84 triliun pada Desember 2024. Manajemen menyatakan bahwa hal ini menunjukkan kapasitas sumber daya yang kuat untuk mendukung pertumbuhan perusahaan secara jangka panjang.
Selain itu, total liabilitas perseroan tercatat senilai Rp302,47 miliar dengan total ekuitas mencapai Rp2,39 triliun. Hal ini mencerminkan tingkat leverage yang rendah dan fleksibilitas keuangan yang tinggi.
Pada tahun 2025, Prodia telah merealisasikan capex senilai Rp165 miliar, yang difokuskan untuk pengembangan infrastruktur, modernisasi peralatan laboratorium, serta inovasi layanan digital.
“Investasi ini menjadi pondasi penting dalam memperkuat daya saing, meningkatkan efisiensi operasional, serta mendukung strategi ekspansi yang berkelanjutan di masa mendatang,” ujarnya.
Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty menjelaskan bahwa pendapatan senilai Rp2,28 triliun pada 2025 mencerminkan efektivitas strategi yang diterapkan perseroan dalam melakukan inovasi, memperkuat ekosistem digital, hingga melakukan optimalisasi terhadap jaringan layanan.
Memasuki tahun 2026, Prodia akan semakin memperkuat pengembangan precision medicine melalui ekspansi specialty clinic di bidang Stem Cell, Autoimune, dan Longevity. Selain itu, Prodia akan semakin memperkuat ekosistem digital untuk meningkatkan engagement pelanggan.
“Prodia berada pada posisi yang kuat untuk memimpin pengembangan layanan berbasis precision medicine di Indonesia, melalui integrasi optimal antara layanan klinik dan pemeriksaan diagnostik yang relevan dengan kebutuhan klinis masyarakat yang terus berkembang,” katanya dalam keterangan resmi yang sama.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.