Menggapai dan Mengelola Rizqi #1

Zaiful Aryanto
4 Min Read

Memahami Konsep Rizqi dalam Kehidupan

Setiap manusia memiliki rizqi yang telah ditakar. Rizqi tidak hanya terbatas pada uang atau harta benda, tetapi mencakup berbagai bentuk kemudahan dan kenikmatan yang kita rasakan sehari-hari. Dengan memahami makna rizqi, kita akan lebih sadar untuk bersyukur atas segala sesuatu yang diberikan oleh Tuhan. Sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, kita perlu melakukan ikhtiar untuk menjemput rizqi. Ikhtiar ini bisa dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari bekerja hingga berinvestasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, rizqi bisa berupa kesehatan, waktu luang, hubungan baik dengan orang lain, serta kemampuan diri sendiri. Banyak orang menganggap bahwa uang adalah satu-satunya bentuk rizqi, padahal uang hanya bagian kecil dari keseluruhan rizqi yang kita miliki. Jika uang hilang atau berkurang, kita bisa merasa kesulitan, namun hal-hal lain seperti kesehatan dan jaringan sosial juga sangat penting dalam menjalani kehidupan.

Pengalaman Pribadi Mengelola Uang

Pada masa kecil saya, orang tua bekerja sebagai PNS, sehingga ada kepastian dalam pemasukan uang bulanan. Saya tidak terlalu ingat jumlah uang saku yang saya terima, namun salah satu kenangan yang masih melekat adalah saat saya meminta Ayah untuk membelikan sepeda BMX seharga 75 ribu rupiah. Saat itu, saya belum paham apakah orang tua sedang dalam kondisi sulit atau tidak. Namun, saya tahu bahwa Ayah membelikan motor untuk Kakak saya secara kredit. Sepeda BMX ini saya gunakan hingga SMP, dan selama masa itu tidak ada permintaan yang bernilai besar selain sepeda tersebut.

Setelahnya, saya biasanya menabung uang saku dan menggunakan tabungan untuk membeli barang yang diperlukan. Salah satu contohnya adalah radio yang saya beli saat SMA kelas dua dengan harga 40 ribu rupiah. Radio ini digunakan untuk menemani belajar di malam hari.

Awal Menabung dan Investasi

Awalnya, cara saya mengelola uang adalah dengan membelanjakan dan menabung kelebihannya. Tidak ada usaha untuk berinvestasi karena kurangnya literasi tentang hal ini. Literasi ini tidak diperoleh dari keluarga maupun lingkungan pertemanan. Hal ini berlangsung cukup lama hingga suatu waktu saya membaca informasi tentang investasi.

Tabungan

Tabungan merupakan bentuk pengamanan pertama yang saya ketahui. Tabungan pertama saya saat SMP adalah TABANAS. Hingga saya kuliah pun, TABANAS menjadi sarana utama untuk menyimpan dana.

Reksadana

Seiring bertambahnya pengetahuan tentang keuangan, saya mulai mengenal Reksadana. Saya mengenalnya sekitar tahun 2013. Saat itu, sudah ada kemudahan untuk membuka rekening investasi secara online. Melalui Reksadana, dana yang kita miliki dapat diinvestasikan ke saham-saham yang memiliki potensi pertumbuhan.

Peer to Peer Lending

Selanjutnya, saya mengenal Peer to Peer Lending (P2P). Ini adalah peluang pembiayaan usaha yang bisa memberikan keuntungan. Pada beberapa pendanaan awal, saya mendapatkan bagi hasil sesuai progres usaha. Namun, setelah tahun 2020, beberapa pendanaan tidak memberikan pengembalian, bahkan modal mengalami restrukturisasi. Resiko dari P2P lending memang tinggi karena tidak ada jaminan terhadap pendanaan, kecuali jika diasuransikan.

Saham

Saya juga mulai mempelajari saham. Dulu, membeli saham terbatas pada kalangan tertentu, namun saat ini siapa saja yang memiliki KTP bisa berinvestasi saham melalui web. Dari pengalaman ini, saya menyimpulkan bahwa kita perlu sabar, memiliki informasi cukup tentang saham dan sektor industri, serta mampu menilai saham dan perusahaan. Tanpa rencana investasi, kita cenderung bingung dan terbawa FOMO.

Emas

Emas memiliki nilai yang stabil dalam jangka panjang. Dalam satu tahun terakhir, yaitu 2025, emas telah naik sebesar 67 persen dari awal tahun. Hal ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi pilihan investasi yang aman dan menguntungkan.

Share This Article
Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *