Prof Nasaruddin Umar – Mengelola Kekayaan Rohani

Hartono Hamid
5 Min Read

Perkawinan Adam dan Hawa serta Pelajaran Berharga dari Habil dan Qabil

Perkawinan antara Adam dan Hawa melahirkan beberapa anak kembar dengan jenis kelainan berpasangan. Anak pertama mereka adalah Habil dan kembarannya yang perempuan, lalu disusul oleh sepasang anak kembar lainnya yaitu Qabil dan kembarannya.

Menurut ketentuan yang berlaku, Habil seharusnya dijodohkan dengan kembaran Qabil, sedangkan Qabil dijodohkan dengan kembaran Habil. Namun, Qabil menolak ketentuan tersebut karena merasa pasangan Habil tidak secantik gadis kembarannya. Dari sini, kecemburuan, kebencian, dan dendam mulai merasuk dalam diri Qabil.

Sebaliknya, budi baik dan kearifan mulai tertanam di dalam diri Habil. Mereka juga memilih profesi dan karakter yang berbeda. Habil memilih menjadi petani, sedangkan Qabil memilih beternak hewan.

Ketika keduanya diminta untuk mengeluarkan zakat dan infak, Habil mempersembahkan hasil tanaman yang berkualitas tinggi, sedangkan Qabil mempersembahkan binatang yang kurus dan kecil. Akhirnya, Tuhan menerima persembahan Habil dan menolak persembahan Qabil.

Orang tua mereka, Adam dan Hawa, lebih menghormati perilaku Habil dibandingkan Qabil yang sering kali menunjukkan perbuatan tidak terpuji. Kebencian dan kecemburuan yang terus-menerus menggerogoti hati Qabil akhirnya membuatnya memiliki niat buruk untuk membunuh Habil.

Akibatnya, Qabil mengambil batu besar dan memukulkan ke kepala Habil. Habil jatuh tersungkur dan meninggal dunia. Inilah pembunuhan pertama dalam sejarah kemanusiaan.

Setelah terbunuh, Qabil merasa bingung bagaimana langkah selanjutnya. Ia terinspirasi oleh burung gagak yang menguburkan anaknya yang sudah mati. Dari sini, kita bisa belajar bahwa Habil simbol dari orang yang memiliki tabungan spiritual (spiritual saving) dan selalu mengontrolnya dengan baik. Ia memiliki perilaku ideal, jujur, tawadhu, sabar, dan taat beribadah kepada Tuhan, serta menghormati orang tuanya.

Sedangkan Qabil simbol dari orang yang memiliki saldo minus dalam spiritual saving. Ia memiliki sifat-sifat buruk seperti egois, curang, dikuasai hawa nafsu, jauh dari Tuhan, dan rela mengorbankan orang lain demi kepentingan pribadinya.

Cerita tentang Pemuda dan Ahli Ma’rifah

Dalam sebuah hikayat lain, ada seorang ahli ibadah muda usia yang aktif membantu warga. Ia disayangi oleh seorang ahli ma’rifah. Namun, pandangan spiritual ahli ma’rifah melihat bahwa pemuda itu akan mati keesokan harinya akibat tertimpa meteorik, yaitu batu raksasa yang akan jatuh ke bumi dan menimpa rumah pemuda tersebut.

Ternyata, dua hari kemudian pemuda itu masih hidup segar bugar dan membantu warga setempat. Ia tersenyum menyaksikan keheranan ahli ma’rifah yang menatapnya dari tadi, lalu ia menyapa, “Tuan tidak perlu kaget, apa yang tuan lihat kemarin itu benar-benar terjadi. Meteorik raksasa itu jatuh menimpa rumah saya, tetapi sebelum menimpa rumah saya, sudah hancur berkeping-keping setelah memasuki atmosfer bumi, sehingga yang jatuh ke atap rumah saya hanya debunya.”

Ahli ma’rifah kaget lagi setelah mendengar pernyataan pemuda itu. Ia bertanya, “Dari mana dia tahu kalau saya mengetahui rahasia Tuhan itu? Bagaimana dia tahu apa yang ada di dalam pikiran saya?” Pemuda itu menjawab, “Wahai ustadz, anda tidak perlu kaget, karena saya juga menyaksikan apa yang anda lihat, dan saya memahami wujud yang anda bayangkan terhadap saya seandainya batu itu tidak berubah jadi tepung.”

Dari cerita ini, kita belajar bahwa ibadah yang ditekuni oleh sang pemuda melindunginya dari bahaya besar. Dengan demikian, social and spiritual saving adalah tolak bala paling efektif.

Pelajaran dari Kedua Cerita

Kedua cerita di atas memberikan pengalaman berharga bagi kita bahwa hidup ini harus ditempuh dengan kejujuran jika ingin meraih ketenangan. Kita tidak boleh memandang enteng secara spiritual orang-orang yang secara biologis masih muda, karena boleh jadi usia spiritualnya sudah matang.

Sebaliknya, belum tentu orang yang sudah matang secara biologis usia spiritualnya juga matang. Orang yang dipilih Tuhan sebagai wali diberi kemampuan untuk mengakses alam gaib. Langkah-langkahnya mungkin tidak bisa dipahami, tetapi di kemudian hari menjadi terkenal, karena orang-orang pilihan Tuhan seringkali mendahului usia biologisnya.

Keajaiban yang diberikan Tuhan kepada orang yang dipilih-Nya tidak tertutup kemungkinan kita pun bisa meraihnya. Namun jika tidak, maka kita tidak perlu berkecil hati karena Tuhan telah menurunkan banyak jalan untuk mendekati dirinya. Mungkin bukan jalur wali, tetapi jalur lain yang tak kalah pentingnya di mata Tuhan.

Yang pasti, kita harus memiliki salah satu keistimewaan agar ada pintu masuk bagi kita untuk meraih kasih sayang Tuhan. Allahu a’lam.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *