Sebuah Garasi Penuh Kenangan dan Kecintaan terhadap Vespa
Di sebuah garasi sederhana yang berada di kawasan Jalan Markoni Atas RT 05, Kelurahan Damai, Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, tersimpan rapi ratusan unit Vespa klasik. Tempat ini tidak hanya menjadi gudang koleksi, tetapi juga rumah bagi sejarah dan kenangan yang penuh makna.
Pemilik garasi tersebut adalah Purwantoro, seorang pria kelahiran tahun 1973 asal Malang yang akrab disapa Jegglex Vespa. Ia telah menetap di Balikpapan sejak tahun 1988, dan sejak saat itu, kecintaannya terhadap Vespa tak pernah pudar. Bagi Purwantoro, Vespa bukan sekadar kendaraan transportasi, melainkan bagian dari keluarga. Ia mengatakan bahwa dari kakek, bapak, hingga dirinya sendiri, semuanya menggunakan Vespa sebagai alat transportasi utama.
“Vespa itu bukan hobi, tapi keluarga buat kami. Dari kakek, bapak, sampai saya, semuanya pakai Vespa,” ujarnya. Ia mengaku, sejak kecil sudah akrab dengan kendaraan roda dua asal Italia tersebut. Di rumahnya, Vespa menjadi satu-satunya alat transportasi yang digunakan keluarga. “Dari lahir yang saya lihat cuma Vespa. Tidak ada kendaraan lain,” katanya. Bahkan, ayahnya pernah berkata bahwa selain Vespa, tidak ada kendaraan yang lebih nyaman untuk dikendarai.
Kecintaan terhadap Vespa kemudian berkembang menjadi kebiasaan mengoleksi sejak tahun 1991. Unit pertama yang dimiliki Purwantoro adalah Vespa VGL tahun 1963 dan VBB tahun 1961. Seiring waktu, koleksinya terus bertambah hingga mencapai sekitar 150 unit Vespa dari berbagai jenis dan negara.
Koleksi Vespa dari Berbagai Negara
Kini, di Garage Marconi Classic 87 miliknya, Purwantoro menyimpan sekitar 150 unit Vespa dari berbagai jenis dan negara. Koleksi ini mencakup produksi dari tahun 1949 hingga 2005. Asal Vespa yang dikoleksinya bervariasi, seperti:
- Italia
- Jerman
- Rusia
- Inggris
- Perancis
- India
Untuk mendapatkan koleksinya, ia rela berburu hingga ke berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke, termasuk Medan, Aceh, Ternate, Manado, Sorong, Makassar, hingga kota-kota lainnya.
Tidak hanya sebagai kolektor, sejak tahun 2010 ia juga menjadikan Vespa sebagai sumber penghidupan. Ia membuka usaha jual beli Vespa sesuai kebutuhan. “Mulai dari anak sekolah sampai kebutuhan sehari-hari, semua dari Vespa,” ungkapnya. Harga Vespa yang ia jual bervariasi, mulai dari Rp3 juta hingga ratusan juta rupiah. Bahkan, unit termahal yang pernah ia lepas mencapai kisaran Rp300 juta hingga Rp400 juta.
Meski memiliki ratusan koleksi, Purwantoro mengaku tidak merasa terbebani dalam perawatan. Baginya, semua terasa ringan karena didasari kecintaan. “Kalau sudah senang, semua pekerjaan jadi enak. Dibikin hobi saja,” katanya.
Warisan Kecintaan yang Terus Berlanjut
Kecintaan terhadap Vespa juga terus diwariskan ke generasi berikutnya. Ia menyebut, saat ini sudah ada empat generasi dalam keluarganya yang menggunakan Vespa. “Anak saya dari SMA sampai kuliah juga pakai Vespa. Mau tidak mau memang sudah jadi bagian dari keluarga,” ujarnya.
Selain mengoleksi, ia juga aktif mengikuti kegiatan touring ke berbagai daerah di Indonesia. Baginya, Vespa bukan hanya kendaraan, tetapi juga sarana memperluas persaudaraan. “Di Vespa itu ada istilah satu Vespa sejuta saudara. Kita bisa ketemu banyak orang, bertukar cerita, dan menambah relasi,” pungkasnya.