Sejarah Rawon Bu Katun di Lumajang dengan Ciri Khas Unik Sejak 1950-an

Nurlela Rasyid
11 Min Read

Foto Rawon Bu Katun

Rawon adalah sup daging khas Jawa Timur berwarna kehitaman yang populer di semua kalangan usia dan dapat dinikmati kapan saja. Rawon memiliki berbagai variasi nama berdasarkan bahan utama, asal daerah, atau pembuatnya, yang menjadi ciri khas pembeda dan strategi branding dalam pemasaran.

Kabupaten Lumajang, sebuah daerah di Jawa Timur, tidak hanya memukau dengan berbagai destinasi wisata alamnya yang indah, tetapi juga kaya akan ragam kuliner yang sangat diminati oleh masyarakat setempat maupun wisatawan dari luar daerah. Wisata kuliner sendiri merupakan sebuah bentuk perjalanan yang menempatkan eksplorasi berbagai hidangan atau makanan khas suatu daerah sebagai fokus utamanya. Aktivitas ini melampaui sekadar menyantap makanan; ia juga mencakup proses pembuatannya, seperti kunjungan ke pasar tradisional, pengalaman mencicipi masakan lokal, atau bahkan mempelajari bahan-bahan serta rempah-rempah yang digunakan dalam masakan setempat. Popularitas wisata kuliner terus meningkat seiring dengan minat wisatawan untuk merasakan beragam hidangan lokal dan mencari pengalaman kuliner yang unik. Lebih jauh lagi, wisata kuliner seringkali terintegrasi dengan kegiatan wisata lainnya, seperti kegiatan budaya, sejarah, atau alam, yang secara signifikan dapat memperkaya pengalaman para pelancong. Selain memberikan keuntungan bagi wisatawan, wisata kuliner juga memberikan dampak positif pada ekonomi lokal serta berperan penting dalam pelestarian warisan kuliner dan budaya daerah tersebut.

“Saya yang terbiasa makan rawon masakan Mamak sebenarnya agak kaget juga ketika pertama kali berhadapan dengan rawon Bu Katun: warnanya gelap tapi tidak hitam pekat seperti rawon (gelapnya karena diberi kecap manis), lalu diberi semacam tumis semur kental dengan isian tahu dan jeroan, lalu diberi bumbu Bali. Toge pendek biasanya ditaruh di pinggir piring, bareng sambal. Sudah, itu saja. Rasanya ringan, pas sekali disantap pagi hari. Tak ada daging seperti di rawon yang kamu kenal. Sebagai gantinya, ada pemeran pengganti yang lebih nguawur: aneka daging dan jeroan sapi. Favorit ayah adalah empal dan otak goreng. Mamak suka babat dan paru. Saya: otak dan paru. Perhatikan: tak ada kata atau di sana. Alias sekali makan, dua lauk penyumbang angka kolesterol tinggi akan ada di piring. Bayangkan, baru jam 7 pagi kamu sudah ngganyem aneka jerohan penuh semangat. Sungguh vivere pericoloso, sarapan para pemberani. Bu Katun memang punya jam operasional yang singkat. Buka selepas subuh, jam 8 pagi mungkin sudah tinggal sisa-sisa. Meleng sedikit, otak yang lembut itu sudah lenyap dari pandangan. Selain itu, menunya memang cuma satu, ya rawon itu.”

Di antara berbagai pilihan kuliner yang tersedia di Kabupaten Lumajang, seperti nasi jagung, pecel, soto ayam, sate, dan banyak lainnya, rawon menonjol dengan cita rasa yang khas dan unik, disukai oleh kalangan muda maupun tua. Rawon yang dimaksud adalah “Rawon Bu Katun” yang memiliki ciri khas tersendiri. Rawon secara umum adalah hidangan khas Jawa Timur yang dikenal luas di seluruh nusantara, terdiri dari potongan daging sapi yang dimasak dengan kuah hitam pekat yang dihasilkan dari rempah bernama keluwak, yang berfungsi sebagai pewarna kuah. Rawon biasanya disajikan dengan nasi putih, tauge, daun bawang, dan kerupuk udang. Namun, Rawon Bu Katun memiliki perbedaan yang mencolok dan menjadi ciri khasnya. Berbeda dengan rawon pada umumnya yang kuahnya hitam pekat karena keluwak, kuah Rawon Bu Katun yang hitam justru berasal dari kombinasi kecap asin dan manis. Selain itu, secara tradisional rawon mengandung potongan daging sapi dalam kuahnya, tetapi Rawon Bu Katun tidak demikian; kuahnya tidak berisi potongan daging, melainkan disajikan dengan berbagai pilihan topping seperti paru goreng dan empal. Perbedaan ini membuat Rawon Bu Katun sangat disukai oleh kalangan orang tua karena tanpa keluwak, yang dianggap berbahaya bagi penderita kolesterol, darah tinggi, dan asam lambung. Ciri khas unik lainnya yang membedakan rawon ini adalah penambahan bumbu merah bali dan sambal bawang berwarna coklat yang dituangkan di atas nasi rawon.

Sejarah Rawon Bu Katun dimulai sejak tahun 1950-an. Awalnya, usaha ini beroperasi di sebuah ruko sewaan, namun menghadapi berbagai kendala seperti persaingan dagang yang cukup ketat. Bu Katun, yang lahir sekitar tahun 1920-an dan wafat pada usia 75 tahun, menghadapi tantangan tersebut dengan memohon pertolongan Tuhan untuk kelancaran bisnis rawonnya. Akhirnya, beliau memutuskan untuk mendirikan dan membuka warung sendiri di sebelah rumahnya, yang telah beroperasi selama lebih dari 10 tahun. Perkembangan Rawon Bu Katun semakin terlihat dengan adaptasi terhadap teknologi; kini mereka menerima pesanan langsung maupun pre-order, bahkan berjualan secara online melalui layanan seperti Go-Food, yang memudahkan penyebaran dan pengenalan rawon ini kepada masyarakat luas. Saat ini, usaha legendaris Rawon Bu Katun diteruskan oleh cucunya, Bu Ana, yang telah membantu sejak masih sekolah menengah pertama hingga sekarang. Dengan keunikan ciri khas, rasa yang lezat, dan harga yang terjangkau, Rawon Bu Katun sangat direkomendasikan bagi para pecinta kuliner, baik dari dalam maupun luar daerah, sehingga kini semakin ramai dan dikenal luas.

Beberapa tantangan yang dilalui oleh Bu Katun saat membuka bisnis tersebut dari mulai nasi yang ada sebuah paku di bawah wakul dan nasi yang berwarna merah, kemudian masih banyak lagi tantangan yang diberikan oleh pesaing bisnis beliau hingga Bu Katun wafat. Sejarah dari berdiri arung Bu Katun ini pada awalnya berdiri di terminal lama di Lumajang, namaun karena terminal lama tersebut akan dibangun akhirnya pindah ke depan gedung Asia, namun hanya dengan jangka waktu yang pendek karena gedung tersebut akan dibangun sebuah plaza atau pasar klontong yang ada di Lumajang, akhirnya dengan adanya pembangunan tersebut bisnis Bu Katun yang sudah pindah ke depan Gedung Asia tersebut pindah lagi ke Pak Toha yang jualan sate saat ini di jalan Jendral Suprapto No. 6 Tompokersan Lumajang, disitulah yang paling lama bertahan hingga kemudian berpindah lagi karena lahan tersebut masih mempunyai pemilik, akhirnya pemilik lahan menjual lahan tersebut yang akhirnya mau tidak mau bergeser lagi ketenmpat lain karena dahulu masih belum ada system sewa dan kemudian pindah di rumahnya sendiri dari yang sudah lebih dari 10 tahun. Tetapi awal beridirnya tahun 1950 tersebut dimulai dari terminal lama. Rawon yang ada di Bu Katun ini yang membuat khasnya berbeda dari yang lain adalah rawon tanpa kluwak, karena rawon sendiri memiliki cirri khas rasa keluwaknya namun di Bu Kaun ini menghadirkan cirri khas yang berbeda yaitu tanpa keluwak, padahal keluwak tersebut hanya untuk pewarna saja sedangkan untuk kolesterol dan asam lambung keluwak tersebut bisa berbahaya, maka Bu Katun menghadirkan resep tanpa keluwak, di lain sisi juga keluwak juga berbahaya untuk anak-anak. Beliau berpikir daripada rawonnya hanya diperuntukkan oleh orang-orang dewasa maka lebih baik rawon tersebut mempunyai resep tersendiri agar bisa dinikmati juga oleh anak-anak. Akhirnya karena tanpa keluwak rawon Bu Katun mulai bisa dinikmati dari mulai anak-anak hingga lansia dan tentunya aman dikonsumsi.

Kemudian rawon biasanya juga menggunakan daging biasa yang mempunyai banyak lemak. Bu Katun menggunakan daging yang dipilih yang berkualitas yang mempunyai lemak sedikit, dan mempunyai bumbu-bumbu campuran tambahan seperti bumbu bali dan bawang goreng.

Strategi penjualan rawon Bu Katun dahulu dengan cara dari mulur ke mulut berbeda dengan sekarang yang bisa menghgunakan social media seperti Facebook, Instagram dan TikTok. Kemudian karena Bu Ana saat ini sedang di Surabaya mulai berpikir akan membuat cabang raon Bu Katun di Surabaya dengan pegawai sendiri, dengan system pre order. Banyak juga kendala yang di alami oleh Bu Ana dan Bu Katun saat berjualan di jalan raya karena dahulu terkenal dengan berbisnis dengan menggunakann hal-hal ghoib, dari mulai nasi yang seperti bercampur darah namun karena Bu Ana dan BU Katun memiliki keyakinan kepada tuhan Yang Maha Kuasa hal tersebut di lawan dengan cara berdoa dam sholat dan akhirnya meskipun ada hal tersebut sangat berbanding terbalik, kondisi warung Bu Katun menjadi sangat ramai dikunjungi oleh khalayak masyarakat Lumajang hingga luar kota, nasi bercampur darah tersebut terjadi ke dua kalinya dan yang kemudian di pasrahkan kepada tuhan, tetapi keesokan harinya sudah berganti kembali dengan yang awalnya bercampur darah kemudian berganti bercampur paku besar-besar yang berada di bawah nasi. Kemudia mereka yang menggunakan hak ghoib tersebt entah mengapa mereka telah meninggal hingga tidak bisa melanjutkan bisnis tersebut kepada anak cucunya.

Keuntungan usaha Bu Katun dari awal hingga saat ini bisa membantu keponakan-keponakan yang memang tidak mempunyai seorang ayah, kemudian usaha rawon pada saat Covid 19 memiliki dampak yaitu setengah dari pelanggan yang sudah selalu datang kemudian datang hanya bisa membeli dengan cara dibungkus dan dibawa pulang, karena para pelanggan yang sudah biasa makan ditempat kemudian pada saat Covid 19 hanya bisa dibawa pulang pada akhirnya para pelanggan banyak yang tidak datang. Namun karena sudah ada Gojek atau pengantar makanan akhirnya masih bisa melanjutkan bisnis pada masa Covd 19 tersebut hingga sampai sekarang.

Pelanggan Rawon legendars di Lumajang ini juga dari beberapa instansi seperti pada waktu itu bupati yang ada di Lumajang kerap berkunjung seperti saat ada halal bihalal beliau sering pesan rawon Bu Katun untuk hidangannya, kemudian rawon Bu Katun juga bisa menerima request pesanan atau pengantaran pada saat itu dikirim ke pemandian alam Selokambang di Lumajang sekitar 700 porsi untuk hari olahraga.

Share This Article
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *