Soesilowati menjadi saksi Menteri Supeno ditembak mati oleh Belanda. Dia juga ikut bergerilya, sembunyi dari hutan ke hutan, saat Agresi Militer II.
Artikel ini diolah dari dua tulisan yang tayang di Majalah HAI edisi November 1985
Sejarah Perjuangan Soesilowati dalam Perjalanan Berdarah
Soesilowati, yang lebih akrab dipanggil Soes, adalah sosok yang tak pernah terlupakan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia bukan hanya seorang perempuan yang aktif dalam gerakan perjuangan, tetapi juga seorang pemberani yang mengalami berbagai tantangan dan pengorbanan besar selama masa Agresi Militer II. Dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), di mana Sutan Sjahrir menjadi ketuanya, hanya ada dua nama perempuan: Rangkayo Rasuna Said dan Soesilowati atau Susilowati Rikerk. Namun, meski nama Soes tidak sepopuler Rasuna Said, perannya dalam perjuangan kemerdekaan sangat signifikan.
Kehidupan Awal dan Pengaruh Keluarga
Soesilowati lahir pada tahun 1912 di Jember. Sejak kecil, ia sudah merasakan suasana perjuangan. Ayahnya, yang menjadi ketua Sarekat Islam (SI) cabang Jember, sering membantu perjuangan. Perhiasan ibunya dijual untuk disumbangkan, dan rumahnya digunakan sebagai tempat rapat-rapat kaum pemimpin pergerakan. Bahkan beberapa pemimpin pernah tinggal di rumahnya, seperti Cokroaminoto dan Haji Agus Salim. Suasana keluarga ini memengaruhi pola pikir dan sikap Soes sejak muda.
Peran dalam Gerakan Pemuda dan Politik
Di zaman Jepang, Soesilowati menolak bekerja sama dengan Jepang dan keluar dari Taman Siswa dan Sekolah Kartini tempatnya mengajar karena kedua sekolah ini mau kerja sama dengan Jepang. Ia hidup dari celengan simpanan. Setelah proklamasi kemerdekaan, Soesilowati terpilih sebagai anggota wanita satu-satunya di Badan Pekerja KNIP. Meskipun awalnya menolak karena tidak mengerti politik, akhirnya ia menerima tugas itu setelah ditantang oleh Sutan Sjahrir.
Pengalaman Berperang di Hutan
Selama Aksi Militer Belanda II, Soesilowati ikut bergerilya bersama rombongan menteri. Salah satu momen penting dalam perjalanannya adalah ketika ia menjadi saksi Menteri Supeno dieksekusi mati oleh Belanda di sekitar Nganjuk. Di tengah perjalanan, rombongan harus melarikan diri ke hutan dan menghadapi berbagai tantangan seperti kehausan, kelaparan, serta ancaman dari tentara Belanda.
Keberanian dan Ketangguhan
Soesilowati memiliki keberanian luar biasa. Ia menghadapi situasi sulit dengan tenang dan percaya bahwa Tuhan akan memberinya kekuatan. Selama perjalanan di hutan, ia juga melakukan berbagai pekerjaan, seperti memasak, mencuci, dan mengetik artikel untuk anak-anak di front. Ia juga mengajarkan anak-anak laki-laki cara masak dan bertanggung jawab atas belanja.
Pengalaman di Luar Negeri
Setelah proklamasi, Soesilowati diutus sebagai salah satu anggota misi parlementer untuk memperjuangkan Irian Barat. Ia pernah bertemu dengan Ratu Yuliana di Negeri Belanda dan berhasil meyakinkan Ratu bahwa Indonesia tidak ingin kekerasan. Tahun 1952, ia juga dikirim ke Pan Pacific Women Conference di Selandia Baru.
Kehidupan Setelah Perjuangan
Setelah masa perjuangan, Soesilowati kembali terjun ke dunia pendidikan. Ia mendirikan taman kanak-kanak dan mengarang lagu anak-anak, meskipun tidak pernah diterbitkan. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial hingga usia tua. Meskipun tidak pernah menerima bintang penghargaan apa pun, Soesilowati tetap dikenang sebagai sosok yang memberikan banyak kontribusi bagi bangsa dan negara.
Kesimpulan
Soesilowati adalah contoh nyata dari semangat perjuangan dan ketangguhan. Meskipun hidupnya penuh tantangan, ia tetap teguh dan percaya pada tujuan yang benar. Seperti kata Lao Tzu, “Langit dan bumi adanya abadi. Mengapa? Karena mereka ada, bukan untuk dirinya sendiri.” Bintang yang ada di dalam dada Soesilowati masih bersinar dan sinarnya tak akan pudar.