Masalah Sungai Buaya yang Mengancam Kehidupan Nelayan
Sungai Buaya di Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, telah mengalami pendangkalan selama lebih dari 15 tahun tanpa adanya pengerukan. Sungai ini menjadi jalur utama bagi aktivitas nelayan dan transportasi air di wilayah tersebut. Namun, kondisi yang semakin memprihatinkan kini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap mata pencaharian warga setempat.
Sejak era gubernur sebelumnya, janji pengerukan Sungai Buaya sering disampaikan, tetapi hingga saat ini belum ada tindakan nyata yang dilakukan oleh pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi. Warga kembali menyuarakan keluhan mereka, dengan harapan agar pemerintah segera bertindak untuk menjaga keberlanjutan ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Dampak Pendangkalan pada Aktivitas Nelayan
Kondisi Sungai Buaya yang dangkal sangat mengganggu aktivitas nelayan. Saat air surut, dasar sungai bahkan bisa mengering dan nyaris bisa digunakan untuk aktivitas di darat. Hal ini membuat para nelayan harus menunggu air pasang agar dapat melaut. Jika angin ribut atau badai datang, risiko kecelakaan semakin tinggi karena gelombang besar.
Salah satu nelayan setempat, Andhika Putra Soeharto, mengungkapkan bahwa pendangkalan Sungai Buaya sudah berlangsung lama dan tidak pernah ditangani secara serius. Ia mengatakan bahwa pemerintah sudah diminta untuk melakukan pengerukan sejak tahun 2024, tetapi sampai sekarang belum ada tindakan yang nyata.
Pendangkalan ini juga membahayakan keselamatan para nelayan. Perahu kerap kandas saat melintas, dan jika air surut selama beberapa hari, aktivitas di Sungai Buaya bisa lumpuh total. Para nelayan terpaksa berhenti melaut, sehingga mengganggu penghasilan mereka.
Upaya Gotong Royong yang Tidak Memadai
Warga mengaku pernah melakukan pengerukan secara gotong royong, tetapi upaya manual ini dinilai tidak cukup untuk mengatasi sedimentasi yang telah menumpuk selama bertahun-tahun. Mereka menilai diperlukan alat berat agar Sungai Buaya kembali normal.
Andhika menambahkan bahwa pendangkalan tidak hanya terjadi di muara, tetapi juga hingga ke bagian dalam sungai. Kawasan ini juga menjadi jalur speedboat dan transportasi air lainnya. Saat ini, seluruh aktivitas sangat bergantung pada kondisi pasang surut.
Sorotan Pembangunan Dermaga
Kekecewaan warga semakin memuncak ketika menyinggung pembangunan dermaga oleh Pemprov Kaltara yang disebut menelan anggaran lebih dari Rp80 miliar. Menurut warga, proyek besar tersebut belum menjawab persoalan mendasar yang dihadapi nelayan.
Mereka menilai seharusnya ada sinergi antara pemerintah kabupaten dan provinsi dalam merencanakan pembangunan infrastruktur pesisir. Dermaga megah tanpa akses sungai yang memadai dinilai tidak efektif dan justru menghambat aktivitas nelayan.

Tagih Janji Pengerukan yang Belum Terealisasi
Warga juga menyinggung janji pengerukan yang sudah terdengar sejak era gubernur sebelumnya, termasuk pada masa kepemimpinan Irianto Lambrie. Namun hingga kini, realisasinya tak kunjung terlihat. Bagi masyarakat Pulau Bunyu, Sungai Buaya bukan sekadar aliran air, tetapi merupakan jalur ekonomi, sumber penghidupan, dan akses utama mobilitas warga.
Ketika sungai dangkal, bukan hanya perahu yang terhenti, tetapi juga dapur keluarga nelayan ikut terdampak. Warga berharap pemerintah segera melakukan pengerukan menyeluruh menggunakan alat berat, bukan sekadar tambal sulam. Mereka juga meminta evaluasi menyeluruh terhadap pembangunan infrastruktur agar benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat pesisir.