Banjir di Desa Ngastorejo, Pati Masuki Pekan Ketiga
Banjir yang melanda Desa Ngastorejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini telah memasuki pekan ketiga. Meski debit air mulai menyusut, beberapa rumah warga masih tergenang air. Dampak kesehatan pun mulai dirasakan oleh ratusan warga yang terdampak.
Kepala Desa Ngastorejo, Poniman, mengungkapkan bahwa banjir telah merendam desanya selama hampir 21 hari. “Kondisi banjir di Desa Ngastorejo ini memang sudah hampir berjalan tiga minggu. Senin besok ini tepat tiga minggu. Saat ini sudah mulai surut, tapi sebagian wilayah masih ada yang tergenang,” ujar Poniman saat memberikan keterangan di Balai Desa Ngastorejo, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Poniman, pada puncak banjir pertama, hampir 90 persen wilayah desa terdampak. Setidaknya ada sekitar 360 Kepala Keluarga (KK) yang merasakan dampak langsung dari bencana ini. Meskipun sebagian besar warga memilih bertahan di rumah masing-masing, ada sebagian kecil warga yang terpaksa mengungsi ke rumah kerabat di daerah lain yang lebih aman.
Pascabanjir yang berkepanjangan, kesehatan warga mulai terganggu. Poniman menyebutkan banyak warganya yang mulai mengeluhkan berbagai penyakit khas pascabanjir. “Warga memang mengeluh, mungkin kaitannya dengan penyakit gatal-gatal dan juga demam. Itu pasti ada sesudah bencana,” jelasnya.
Guna meringankan beban masyarakat, Pemerintah Desa Ngastorejo bekerja sama dengan Rumah Sakit Mitra Bangsa, Klinik Mega Sehat, dan Rotary menggelar bakti sosial berupa pengobatan gratis bagi seluruh warga desa hari ini. Bertempat di balai desa setempat, layanan kesehatan ini dibuka secara umum untuk seluruh warga yang membutuhkan.
Poniman menambahkan bahwa bantuan medis bukan pertama kalinya diberikan. Sebelumnya, Puskesmas Jakenan dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Pati juga telah turun tangan memberikan pengobatan gratis di pertengahan masa banjir. Ia pun berharap bantuan kesehatan ini dapat mempercepat pemulihan kondisi fisik warganya. “Harapan kami, warga yang terjangkit penyakit segera sembuh dan tidak ada lagi keluhan kesehatan ke depannya,” pungkas Poniman.
Ana (31), warga RT 1 RW 1 Desa Ngastorejo, mengaku sengaja mendatangi balai desa untuk memanfaatkan layanan pengobatan gratis dari RS Mitra Bangsa. Ia mengeluhkan kondisi fisiknya yang menurun akibat aktivitas selama bencana banjir melanda wilayahnya. “Ini tangannya kesemutan, kecapekan mungkin, sama darah rendah,” ujar Ana saat ditemui di lokasi pengobatan, Sabtu (31/1/2026). Meski rumahnya tidak kemasukan air, ia menyebut banyak tetangganya yang harus berurusan dengan air hingga ke dalam rumah.
Setelah diperiksa, Ana mendapatkan obat-obatan, vitamin, serta paket sembako sebagai bentuk bantuan tambahan. Kondisi serupa dialami oleh Latrih, warga RT 4 RW 1. Ia bercerita bahwa sebelumnya air sempat merendam rumahnya hingga setinggi lutut orang dewasa. Saat genangan di dalam rumahnya sudah surut kini, ia mulai merasakan gangguan kesehatan. Latrih mengungkapkan bahwa dirinya datang ke balai desa karena merasa pusing dan sakit di bagian leher. “Periksa ke pengobatan gratis. Sakit lehernya, pusing,” tuturnya singkat sembari menunjukkan paket obat-obatan yang ia terima dari tim medis.
Kasubbid Pelayanan Medis RS Mitra Bangsa Pati, dr. Titien Prihatiningsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Klinik Mega Sehat dan organisasi Rotary. Ini merupakan aksi kedua yang mereka lakukan di lokasi tersebut. Selain pengobatan massal, tim juga mendistribusikan bantuan makanan yang menyasar seluruh rumah yang ada di Desa Ngastorejo.
Terkait kondisi kesehatan masyarakat, dr. Titien mengungkapkan bahwa warga mulai mengeluhkan berbagai penyakit yang umum muncul saat dan setelah banjir. “Rata-rata sakit perut, diare, kemudian gatal-gatal,” ungkap dr. Titien saat ditemui di lokasi, Sabtu (31/1/2026). Ia menambahkan bahwa keluhan seperti kutu air atau “rangen” biasanya semakin marak terjadi pada masa pascabanjir.
Dalam pelayanannya, warga yang datang mendapatkan pertolongan pertama berupa pemberian obat-obatan serta pemeriksaan laboratorium sederhana. Namun, dr. Titien menegaskan jika ditemukan kasus yang memerlukan pemeriksaan lebih mendalam, pihaknya akan memberikan arahan untuk pemeriksaan lanjutan. “Kita lihat kalau memang butuh tindak lanjut kita berikan advice, entah itu kontrol atau tindakan yang lebih lanjut, misalnya butuh rontgen, butuh USG, atau EKG,” jelasnya.
Melalui aksi ini, pihak RS Mitra Bangsa berharap kondisi kesehatan warga Ngastorejo dapat segera pulih. dr. Titien menuturkan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengeliminasi dampak banjir di bidang kesehatan bagi masyarakat setempat.