Tradisi Puter Kayun Banyuwangi, Perjalanan Warga Boyolangu ke Pantai Watu Dodol

Zaiful Aryanto
5 Min Read

Tradisi Puter Kayun: Napak Tilas Sejarah dan Kebersamaan Masyarakat Boyolangu

Puter Kayun adalah tradisi tahunan yang dilakukan oleh warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi. Tradisi ini digelar setiap hari ke-10 bulan Syawal sebagai bentuk perayaan dan penghormatan terhadap leluhur. Dalam perayaannya, warga melakukan napak tilas menuju Pantai Watu Dodol dengan menggunakan dokar atau delman yang dihias dengan berbagai ornamen warna-warni.

Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari perayaan Lebaran, tetapi juga merupakan simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap jasa para pendahulu. Warga mengenakan pakaian adat Osing dan ikut serta dalam rombongan yang berangkat dari Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol yang berjarak sekitar 15 kilometer.

Kisah Leluhur Ki Buyut Jakso

Puter Kayun memiliki hubungan erat dengan kisah leluhur masyarakat Boyolangu, yaitu Ki Buyut Jakso. Dalam mitos yang beredar, Ki Buyut Jakso dipercaya telah membuka akses jalan di wilayah utara Banyuwangi. Konon, pada masa itu, Belanda meminta bantuan kepada Ki Buyut Jakso karena ada gundukan gunung yang sulit dibongkar saat proses pembangunan jalan.

Menurut kisah yang berkembang, Ki Buyut Jakso melakukan semedi di Gunung Silangu yang kini menjadi wilayah Boyolangu. Berkat kesaktiannya, jalan tersebut akhirnya berhasil dibuka. Sejak peristiwa itu, wilayah tersebut dikenal dengan nama Watu Dodol yang berarti batu yang dibongkar.

Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, masyarakat Boyolangu kemudian melakukan perjalanan napak tilas menuju Pantai Watu Dodol setiap tahun. Tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai simbol penghormatan terhadap jasa para pendahulu.

Tradisi yang Dianggap “Lebarannya Kusir Dokar”

Pada masa lalu, sebagian besar warga Boyolangu bekerja sebagai kusir dokar. Karena itu, kendaraan tradisional tersebut menjadi bagian penting dari tradisi Puter Kayun. Dalam pelaksanaannya, warga menaiki dokar secara beriringan menuju Pantai Watu Dodol.

Tradisi ini bahkan sering disebut sebagai “lebarannya kusir dokar” karena menjadi momen berkumpul para kusir setelah perayaan Idul Fitri. Namun, seiring perkembangan zaman, jumlah dokar di Banyuwangi semakin berkurang. Berkurangnya dokar tersebut terjadi karena profesi kusir perlahan mulai ditinggalkan masyarakat.

Meski demikian, masyarakat tetap mempertahankan tradisi Puter Kayun. Sebagian warga yang tidak menaiki dokar tetap mengikuti perjalanan menuju Watu Dodol menggunakan kendaraan lain seperti sepeda motor atau mobil. Hal ini membuktikan bahwa esensi Puter Kayun bukan terletak pada kendaraannya, melainkan pada makna napak tilas dan kebersamaan masyarakat.

Selamatan dan Tabur Bunga di Pantai Watu Dodol

Setelah perjalanan sekitar 15 kilometer, rombongan warga tiba di Pantai Watu Dodol. Di tempat itu, masyarakat kemudian menggelar selamatan sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh selama setahun terakhir. Warga biasanya makan bersama di sepanjang pantai dengan membawa berbagai hidangan yang telah dipersiapkan sejak dari rumah.

Kegiatan tersebut menjadi momen kebersamaan sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Selain makan bersama, tokoh adat juga melakukan ritual tabur bunga ke laut. Ritual ini dilakukan untuk menghormati para leluhur yang diyakini telah berjasa membuka jalan menuju wilayah tersebut.

Tradisi Puter Kayun juga menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat yang belum sempat bertemu selama perayaan Lebaran.

Rangkaian Acara Sebelum Pelaksanaan Puter Kayun

Menjelang pelaksanaan tradisi Puter Kayun, masyarakat Boyolangu biasanya lebih dulu menggelar sejumlah rangkaian ritual. Salah satunya adalah tradisi Kupat Sewu atau seribu ketupat, yang digelar beberapa hari sebelumnya. Dalam tradisi ini, setiap rumah membuat ketupat dan lepet untuk kemudian dibagikan kepada tetangga serta kerabat sebagai simbol kebersamaan.

Ketupat dan lepet tersebut juga dimanfaatkan dalam selamatan bersama di sepanjang jalan desa. Setelah itu, warga juga menggelar arak-arakan budaya yang menampilkan berbagai kesenian tradisional seperti barong, gandrung, hadrah, hingga patrol.

Rangkaian acara tersebut dilanjutkan dengan ziarah ke makam Buyut Jakso. Baru setelah semua rangkaian tersebut selesai, masyarakat melaksanakan tradisi utama Puter Kayun dengan melakukan perjalanan napak tilas menuju Pantai Watu Dodol.

Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya masyarakat Banyuwangi, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan kepada leluhur yang telah berjasa bagi masyarakat setempat.

Share This Article
Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *