Sejarah Berdirinya Ponpes Roudlotus Solichin Sholichat di Purbalingga
Di tengah pemandangan perbukitan yang indah, terletak sebuah desa yang kaya akan sejarah dan kearifan lokal. Di wilayah Kabupaten Purbalingga, berdiri Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlotus Solichin Sholichat yang telah berdiri sejak tahun 1929. Ponpes ini tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga memiliki peran penting dalam perjuangan bangsa Indonesia semasa penjajahan.
Pendiri Ponpes dan Kiprah Kiai Hisyam
Pondok pesantren ini didirikan oleh KH Muhammad Hisyam Abdul Karim atau dikenal dengan panggilan Mbah Hisyam. Seorang ulama kharismatik yang memiliki andil besar dalam perjuangan bangsa Indonesia. Kiai Hisyam lahir pada tahun 1904 dan berasal dari Purbalingga. Ayahnya adalah seorang bahu (kepala dusun), sedangkan ibunya menjabat sebagai carik (sekretaris desa).
Sebelum mendirikan ponpes, Kiai Hisyam memperdalam ilmu agama dengan menuntut ilmu di Ponpes Leler Banyumas selama empat tahun. Setelah itu, ia melanjutkan studi selama delapan tahun kepada Kiai Dahlan di Jempes, Kabupaten Kediri. Setelah pulang, ia langsung membangun ponpes di tahun 1929.
Peran Ponpes dalam Perjuangan Kemerdekaan
Di masa penjajahan, Ponpes Roudlotus Solichin Sholichat bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga menjadi pusat pengkaderan para pejuang. Santri-santri di ponpes diajarkan teknik seperti sandi morse, baris berbaris, dan pertolongan pertama medis. Saat ada pejuang yang terluka, para santri juga siap memberikan pertolongan.
Kiai Hisyam menjadikan ponpes sebagai benteng melawan penjajah. Ia mengikuti instruksi dari Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), agar semua kiai dan pesantren tidak membela Belanda maupun Jepang. Harapan utamanya adalah menjaga keamanan desa serta mencegah kerusuhan.
Penurunan dan Pengembangan Ponpes
Saat ini, Ponpes Roudlotus Solichin Sholichat memiliki sekitar 175 santri, baik laki-laki maupun perempuan, yang berasal dari berbagai daerah seperti Purbalingga, Pemalang, Banyumas, dan Banjarnegara. Pengasuh ponpes saat ini adalah KH Achmad Musta’id Billah, yang dikenal dengan sapaan akrab Kiai Ta’id. Ia mengatakan bahwa semangat Kiai Hisyam terus dipertahankan dalam setiap aktivitas pesantren.
Kiai Ta’id juga menyampaikan bahwa ayahnya, Kiai Hisyam, wafat pada tahun 1988 di usia 84 tahun. Selama hidupnya, Kiai Hisyam memiliki banyak tanggung jawab, termasuk menjadi Rois Syuriah pertama di PCNU Purbalingga, pegawai negeri di Kantor Urusan Agama (KUA), dan hakim honorarium di Pengadilan Agama Purbalingga.
Kehidupan Santri dan Nilai-nilai yang Diterapkan
Salah satu santri, Muhammad Nur Syafiq (16 tahun), mengatakan bahwa ia sudah tiga tahun menyantri di ponpes ini. Ia belajar mengaji kitab kuning setiap hari dan merasa sangat terinspirasi oleh sosok Kiai Hisyam. Meskipun tidak hidup sezaman, ia mengakui bahwa Kiai Hisyam adalah tokoh hebat dengan ilmu yang luas dan tinggi.
Semangat mencintai tanah air dan menegakkan agama Islam terasa jelas dalam diri keturunan Kiai Hisyam. Bahkan, makamnya yang berada dekat masjid sering diziarahi oleh masyarakat sekitar.
Kesimpulan
Ponpes Roudlotus Solichin Sholichat tidak hanya menjadi tempat pendidikan, tetapi juga menjadi simbol perjuangan dan semangat kebangsaan. Dengan sejarah panjang dan nilai-nilai yang terus dilestarikan, ponpes ini tetap menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan karakter bagi generasi muda.