Kesepakatan Obat dengan Pemerintah AS
Sejumlah perusahaan farmasi terbesar dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa telah menandatangani kesepakatan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump. Dalam kesepakatan tersebut, perusahaan-perusahaan tersebut setuju untuk menjual obat-obatan mereka dengan harga lebih rendah di AS.
Kesepakatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintahan Trump untuk menghubungkan harga obat di AS dengan harga yang lebih murah di luar negeri. Sebanyak 9 perusahaan yang terlibat dalam kesepakatan ini antara lain Merck, Bristol Myers Squibb, Amgen, Gilead, GSK, Sanofi, Genentech milik Roche, Boehringer Ingelheim, serta Novartis.
Sebagai imbalan, perusahaan-perusahaan tersebut akan mendapatkan masa tenggang selama tiga tahun. Selama masa itu, produk mereka tidak akan dikenai tarif khusus farmasi yang direncanakan oleh Trump. Namun, syaratnya adalah meningkatkan investasi manufaktur di AS.
Salah satu komitmen yang paling menonjol datang dari Bristol Myers Squibb. Perusahaan ini menyatakan akan memberikan Eliquis, obat pengencer darah terlaris dan paling banyak diresepkan, secara gratis kepada pasien Medicaid.
Perusahaan-perusahaan tersebut mencakup mayoritas dari 17 produsen obat yang sebelumnya menerima surat dari Trump pada Juli lalu. Dalam surat tersebut, Trump meminta penurunan harga obat sebagai bagian dari kebijakan “most favored nation”.
Kebijakan ini dihidupkan kembali melalui perintah eksekutif yang ditandatangani pada Mei, dengan tujuan menaikkan harga obat di luar AS dan “mengakhiri praktik global freeloading”.
“Per hari ini, 14 dari 17 perusahaan farmasi terbesar telah sepakat menurunkan harga obat secara drastis untuk rakyat Amerika dan para pasien,” ujar Trump dalam acara di Gedung Putih, Jumat (19/12).
“Ini merupakan kemenangan terbesar bagi keterjangkauan pasien dalam sejarah layanan kesehatan Amerika, dan setiap warga Amerika akan merasakan manfaatnya,” lanjut dia.
Sementara itu, Johnson & Johnson, AbbVie, dan Regeneron menjadi tiga perusahaan besar yang belum meneken kesepakatan. Namun, Trump menyebut Johnson & Johnson “akan hadir minggu depan”.
Skema Penurunan Harga Obat
Ketentuan lengkap kesepakatan tersebut belum dirilis, sehingga dampak luas kebijakan ini masih belum sepenuhnya jelas. Sembilan perusahaan tersebut sepakat menurunkan harga obat di AS, termasuk menjual obat-obatan yang sudah ada kepada pasien Medicaid dengan harga terendah berdasarkan skema “most favored nation”. Mereka juga menjamin skema harga untuk obat baru.
Trump mengatakan, perusahaan farmasi juga sepakat mencantumkan obat-obatan terlaris mereka di situs penjualan langsung ke konsumen, TrumpRx, yang akan diluncurkan pada Januari mendatang.
Beberapa perusahaan meluncurkan atau memperluas program penjualan langsung ke pasien. Gilead, misalnya, menyatakan akan meluncurkan program yang memungkinkan pasien mengakses obat hepatitis C Epclusa dengan harga diskon.
Sanofi menyebut akan memberikan diskon hampir 70 persen untuk sejumlah obat penyakit infeksi, kardiovaskular, dan diabetes melalui TrumpRx dan platform penjualan langsung lainnya.
Merck mengumumkan akan menawarkan tiga obat diabetes yakni Januvia, Janumet, dan Janumet XR dengan diskon sekitar 70 persen bagi pasien yang membayar tunai melalui program direct-to-patient. Program ini juga akan diperluas ke obat kolesterol harian eksperimental perusahaan tersebut jika mendapat persetujuan di AS.
“Saya merefleksikan tujuan Anda untuk mendorong keterjangkauan dan akses bagi warga Amerika, sekaligus menaikkan harga di luar Amerika Serikat,” ujar CEO Merck Robert Davis dalam konferensi pers.
“Kami 100 persen mendukung langkah-langkah Anda,” kata dia.
Sementara itu, Amgen akan memperluas program direct-to-patient dengan memasukkan obat pencegah migrain Aimovig dan pengobatan autoimun Amjevita, masing-masing dengan diskon harga bulanan sebesar 60 persen dan 80 persen.
Sebelumnya, Trump telah mengumumkan kesepakatan dengan Eli Lilly, Novo Nordisk, Pfizer, AstraZeneca, dan EMD Serono untuk menjual obat tertentu secara langsung ke pasien dengan harga diskon.
Sebagai gantinya, perusahaan memperoleh pengecualian dari tarif farmasi yang direncanakan serta keuntungan lain, termasuk percepatan peninjauan obat baru.
Berdasarkan studi Rand Corp tahun 2024, harga obat resep di Amerika Serikat rata-rata hampir tiga kali lebih mahal dibandingkan di luar negeri. Untuk obat bermerek, harganya bahkan lebih dari empat kali lipat.
Trump kembali menegaskan kebijakan “most favored nation” melalui perintah eksekutif pada Mei, dengan tujuan menaikkan harga obat di luar AS dan mengakhiri praktik global freeloading.
Asosiasi industri farmasi PhRMA, yang mewakili banyak perusahaan besar, menyatakan kebijakan tersebut bukan solusi terbaik untuk menurunkan harga obat di AS. PhRMA menilai perbedaan harga lebih disebabkan oleh peran pharmacy benefit managers.
Amerika Serikat tetap menjadi pasar terpenting bagi banyak perusahaan farmasi global. Meski berbasis di Eropa, perusahaan farmasi di kawasan tersebut sangat bergantung pada pasar AS, dengan setengah dari 10 perusahaan terbesar Eropa meraup mayoritas penjualan dari AS.