Peninjauan Komisi III DPRD NTT terhadap Manajemen Baru Bank NTT
Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Timur (NTT) memberikan sejumlah catatan penting terkait manajemen baru Bank NTT. Salah satu fokus utama dari pertemuan tersebut adalah peningkatan efisiensi dalam proses verifikasi kredit, terutama untuk kelompok wanita tani dan petani.
Kontribusi Positif Bank NTT
Bank NTT dinilai telah menunjukkan kontribusi positif yang signifikan. Dalam dua bulan pertama, bank ini mampu menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 38 miliar. Target PAD tahun depan ditetapkan sebesar Rp 100 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa Bank NTT memiliki potensi besar dalam mendukung perekonomian daerah.
Fokus pada Penanganan Kredit Macet
Salah satu isu utama yang dibahas adalah penanganan kredit macet dan penurunan Non Performing Loan (NPL). Komisi III DPRD NTT menyarankan agar Bank NTT melakukan pelelangan agunan produktif dan membentuk tim khusus penagihan untuk mengurangi NPL. Selain itu, mereka juga meminta agar pengelolaan biaya operasional ditekan hingga 85 persen, sehingga dapat digunakan secara lebih efisien.
Strategi Ke depan Bank NTT
Bank NTT telah merancang beberapa langkah strategis untuk meningkatkan performa perbankan daerah tersebut. Di antaranya adalah memperluas kredit komersial dan UMKM serta memperkuat penyaluran kredit produktif. Direktur Utama Bank NTT, Charlie Paulus, menjelaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memperbaiki kinerja internal, terutama dalam menangani kredit bermasalah.
- Dalam rangka memperkuat kinerja, Bank NTT akan melakukan pembenahan organisasi agar lebih ringkas dan tanggung jawab setiap bagian lebih jelas.
- Program kredit bagi ibu-ibu pelaku usaha dan pengembangan entrepreneur lokal menjadi prioritas.
- Pembiayaan ke sektor kredit komersial, khususnya yang mendukung pertumbuhan UMKM, juga menjadi fokus utama.
Kerja Sama dengan Bank Jatim
Kerja sama antara Bank NTT dan Bank Jawa Timur (Jatim) telah selesai. Bank Jatim resmi menyetor penyertaan modal sebesar Rp 100 miliar kepada Bank NTT pada 30 September 2025 malam. Hal ini menandai finalisasi kerja sama yang telah lama dibahas. Komisi III DPRD NTT berharap agar kerja sama ini tidak berlangsung terlalu lama, maksimal lima tahun, sehingga Bank NTT dapat mandiri.
Target Laba dan Deviden
Bank NTT menargetkan laba tahun buku 2026 mencapai sekitar Rp 262 miliar, yang akan didistribusikan kepada para pemegang saham sesuai porsi masing-masing. Sementara itu, untuk tahun 2025, laba kotor diperkirakan berada pada kisaran Rp 204 miliar.
Evaluasi dan Harapan
Wakil Ketua Komisi III DPRD NTT, Kristoforus Loko, menyampaikan apresiasi terhadap berbagai program dan rencana manajemen Bank NTT. Ia menilai jajaran baru ini tidak salah dipilih oleh Gubernur NTT selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP). Dari pemaparan yang disampaikan, ia optimis Bank NTT bisa lebih transformatif dan mendorong Bank NTT untuk menjadi lebih baik.
Perencanaan Konsolidasi Internal
Direksi Bank NTT juga menyampaikan rencana konsolidasi dan pembenahan internal. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memperkuat permodalan Bank NTT, termasuk rencana Go Public di tahun 2027. Jika dilaksanakan secara konsisten, mimpi Gubernur NTT menjadikan Bank NTT berkelas akan terwujud.