Tiga Berita Terpopuler Padang: Kebakaran Rumah PNS, Pungutan di WC dan Parkir Pasar Raya Fase VII

Amanda Almeirah
8 Min Read

Kunjungan DPRD Kota Padang ke Pasar Raya Fase VII

Anggota DPRD Kota Padang melakukan kunjungan lapangan ke Pasar Raya Fase VII untuk mengecek langsung kondisi terkini sekaligus menindaklanjuti berbagai keluhan pedagang. Kunjungan ini dilakukan oleh Ketua Komisi II DPRD Padang, Rachmad Wijaya, bersama seluruh Fraksi Gerindra DPRD Padang serta Anggota DPR RI Andre Rosiade.

Dalam peninjauan tersebut, rombongan berdialog dan berdiskusi langsung dengan para pedagang terkait sejumlah persoalan yang terjadi di lapangan. “Tadi kami kunjungan lapangan ke Pasar Raya Fase VII bersama seluruh Fraksi Gerindra Padang serta anggota DPR RI Andre Rosiade. Kami mengecek, berdialog serta berdiskusi dengan para pedagang terkait permasalahan yang ada di sana sekarang,” ujar Rachmad.

Salah satu temuan yang menjadi sorotan adalah adanya pungutan di fasilitas umum, seperti WC dan parkir, yang seharusnya gratis. Di lapangan, pedagang dan pengunjung masih dikenakan biaya penggunaan WC sebesar Rp2.000 hingga Rp3.000. “WC itu harusnya gratis. Fasilitas itu sudah termasuk dalam anggaran, cleaning service juga sudah ada dan masuk dalam APBD. Kenapa masih dipungut biaya,” katanya.

Tak hanya itu, pungutan parkir juga ditemukan di dalam kawasan Pasar Raya Fase VII. Untuk kendaraan roda dua dipatok Rp2.000 dan roda empat Rp3.000. Bahkan untuk parkir seharian, mobil dikenakan Rp5.000 dan motor Rp3.000. Menurut Rachmad, setelah dilakukan pengecekan langsung kepada petugas, uang hasil pungutan tersebut tidak masuk ke kas daerah.

“Kami sudah cek langsung ke petugas, dan Bang Andre juga langsung menanyakan. Uang itu tidak masuk ke kas daerah. Mereka menyetor ke seseorang yang disebut ‘Tuan Takur’. Ini yang harus kita bereskan segera,” tegasnya.

Ia menyebut praktik tersebut telah berlangsung sekitar satu tahun, bertepatan dengan mulai beroperasinya Pasar Raya Fase VII. “Sudah setahun. Tadi langsung ditanya oleh Bang Andre kepada petugas parkir dan petugas WC, mereka mengaku sudah melakukan itu sejak pasar dibuka,” jelasnya.

Rachmad menilai kondisi ini sangat memprihatinkan, mengingat pembangunan Pasar Raya Fase VII diperjuangkan dengan anggaran dari pemerintah pusat sekitar Rp103 miliar. “Yang memperjuangkan pembangunan ini Bang Andre, dengan anggaran lebih kurang Rp103 miliar dari pusat. Tiba-tiba di tengah kondisi ekonomi yang lemah, pedagang lesu, mereka dibebankan lagi dengan pungli, termasuk fasilitas WC dan parkir yang seharusnya gratis,” ujarnya.

Selain persoalan pungutan, DPRD juga menyoroti aspirasi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang meminta izin berjualan mulai pukul 17.00 WIB hingga malam hari selama bulan Ramadan. Usai Ramadan dan Lebaran, para PKL disebut siap kembali ke basement sesuai penempatan dari Dinas Perdagangan.

Kebakaran Rumah PNS di Kalumbuk

Kebakaran hebat melanda sebuah rumah milik Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kawasan Kalumbuk, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (21/2/2026) siang. Kerugian akibat peristiwa tersebut ditaksir mencapai Rp500 juta.

Peristiwa terjadi di RT 001/RW 005, Kelurahan Kalumbuk, kawasan padat penduduk yang sempat membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah. Kepala Bidang Operasional Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang, Rinaldi, mengatakan laporan diterima pukul 14.19 WIB. Enam unit armada dari Mako 113 Rasuna Said langsung diberangkatkan ke lokasi.

Petugas menghadapi tantangan karena akses jalan sempit dan kondisi lingkungan yang ramai warga. Sebanyak 70 personel Damkar berjibaku hampir satu jam untuk melokalisasi api agar tidak merambat ke bangunan lain. Operasi pemadaman dan pendinginan dinyatakan selesai pukul 15.17 WIB.

Rumah yang terbakar diketahui milik Elsis Mareta Endriyenti (40). Saat kejadian, rumah dihuni satu kepala keluarga dengan tiga orang penghuni dan seluruhnya dilaporkan selamat. Selain satu rumah rusak berat, satu unit rumah lain di sekitarnya mengalami rusak ringan akibat jilatan api. Sedikitnya enam bangunan lain sempat terancam terdampak.

Menurut saksi mata, api pertama kali terlihat dari bagian belakang rumah dan cepat membesar. Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Meski kerugian ditaksir Rp500 juta, aset warga di sekitar lokasi senilai kurang lebih Rp1 miliar berhasil diselamatkan berkat kesigapan petugas yang juga dibantu TNI, Polri, dan PLN.

Ramadan di Hunian Sementara Kapalo Koto

Ramadan telah tiba, membawa suasana yang tak biasa di Hunian Sementara (Huntara) Mandiri Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sabtu (21/2/2026). Bagi para penyintas banjir bandang dari Kelurahan Lambung Bukik, menjalankan ibadah puasa di pengungsian bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang keberanian menata kembali batin yang sempat luruh diterjang bencana.

Di tengah keterbatasan ruang dan fasilitas, perhatian warga kini tertuju pada sebuah bangunan kecil beratap biru. Sebuah mushalla yang pembangunannya terus dikebut agar bisa menjadi sandaran spiritual bagi warga yang kini tak lagi memiliki tempat tinggal tetap.

Pembangunan mushalla tersebut telah berjalan sekitar sepekan terakhir. Kehadirannya menjadi sangat krusial bagi warga untuk menjalankan salat berjamaah di hari-hari pertama bulan suci ini, setelah tempat ibadah lama mereka tak lagi dapat dijangkau. Pantaun di lokasi menunjukkan para tukang masih terus merampungkan fasilitas pendukung, termasuk kamar mandi. Namun, di bagian dalam mushalla, hamparan karpet salat sudah mulai terpasang, siap menyambut sujud para penyintas.

Harapan warga adalah agar salat Tarawih di pekan ini sudah bisa dilaksanakan di mushalla tersebut secara berjamaah. Mushalla ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang untuk merajut kembali persaudaraan antarwarga yang terdampak. Anto, salah satu penghuni Huntara, menatap nanar ke arah bangunan sederhana tersebut. Baginya, berfungsinya mushalla ini adalah harapan terbesar agar kekhusyukan Ramadan tidak hilang meski mereka kini tinggal di hunian darurat.

Murni, penyintas lainnya yang kini menetap di Huntara Kapalo, mengisahkan betapa beratnya transisi hidup yang ia alami. Sudah hampir sebulan ia tinggal di sana bersama anaknya setelah rumah mereka diterjang air bah akhir tahun lalu. “Harus menjalani hidup walaupun rumah sudah diterjang banjir. Sampai sekarang rumah itu masih sering saya bersihkan, tapi kalau untuk tinggal lagi di sana, saya masih takut karena trauma,” ungkap Murni dengan suara pelan.

Trauma itu memang nyata dan belum sepenuhnya pudar dari ingatan Murni. Ia mengenang bagaimana seminggu setelah kejadian, ia sering terbangun karena terngiang-ngiang suara gemuruh air besar yang menghantam pemukiman mereka. Kini, ia menjalani rutinitas Ramadan bersama warga lainnya yang senasib. Murni mengaku tak pernah menyangka perjalanan hidupnya akan menjadi seperti pengembara, kehilangan tempat bernaung permanen di usia yang tak lagi muda.

Optimisme senada juga diungkapkan oleh Irja, warga lainnya yang tengah menjalani ibadah puasa. Ia mengakui ada rasa ganjil saat menyadari bahwa sekat-sekat rumah yang puluhan tahun menaunginya kini telah berganti dengan dinding huntara. Namun, Irja memilih untuk tetap sabar dan percaya pada ketetapan Sang Pencipta. Ia meyakini bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya untuk bertahan.

Kini, kebersamaan sesama penyintas menjadi kekuatan utama di Huntara Kapalo Koto. Mereka hidup berdampingan, saling menghibur, dan menguatkan satu sama lain di tengah ujian yang datang tepat di bulan penuh rahmat ini. Ramadan di Huntara Kapalo Koto akhirnya menjadi cermin ketangguhan manusia. Di balik atap biru yang sederhana, warga membuktikan bahwa meski kehilangan rumah, mereka tidak pernah kehilangan iman sebagai tempat sesungguhnya untuk berpulang.

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *