Jejak Lumpur yang Menghilang, Trauma yang Terpahat: Pemandangan Kelam Lambung Bukit di Tengah Ramadan

Zaiful Aryanto
3 Min Read

Kehidupan Penyintas Banjir di Lambung Bukit

Minggu (15/2/2026) menjadi hari yang penuh kesedihan bagi warga Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Matahari yang mulai terbit menggambarkan harapan baru, tetapi bagi Maini dan Siti Rohani, cahaya itu justru mengingatkan mereka akan luka yang masih menyakitkan. Banjir bandang yang terjadi akhir November 2025 lalu telah menghancurkan banyak rumah dan meninggalkan duka yang dalam.

Kampung yang dulu penuh kehidupan kini berubah menjadi tempat yang sunyi. Banyak warga harus tinggal di Hunian Sementara (Huntara), sementara yang lain memilih untuk pindah ke lokasi yang lebih aman. Bagi Maini, rasa kehilangan ini sangat mendalam, terutama setelah Surau Jamiaturrahmah yang menjadi pusat kehidupan spiritual masyarakat runtuh. Ia mengingat bagaimana surau itu adalah tempat mereka bersujud, merajut ukhuwah, dan mencari ketenangan.

“Rumah-rumah itu hanyut seperti perahu,” kenang Maini dengan suara pelan. Rasa kehilangan ini semakin dalam karena Ramadan yang hanya tinggal menghitung hari. Bagi umat Muslim, bulan puasa adalah waktu untuk merayakan kemenangan, tetapi bagi warga Lambung Bukit, ini justru menjadi masa ujian yang berat.

Warga kini tidak hanya menghadapi kesulitan hidup sehari-hari, tetapi juga kehilangan tempat ibadah yang begitu berharga. Tanpa Surau Jamiaturrahmah, mereka harus berjalan jauh ke masjid atau musala di kampung lain hanya untuk melaksanakan salat tarawih. Perjalanan ini bukan hanya fisik, tetapi juga bermakna secara spiritual.

Kehilangan yang Mendalam

Siti Rohani, salah satu penyintas banjir, juga merasakan kesedihan yang sama. Ia memilih untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi di atas bukit, karena risiko bencana masih mengancam. Rumah lamanya kini hanya menjadi kenangan, dan ia merasa bahwa ekonomi warga lumpuh total. Sawah dan ladang yang menjadi tumpuan hidup tertimbun material banjir, membuat kehidupan semakin sulit.

“Yaa, bagaimana lagi, itu kehendak Yang Kuasa. Kita hanya umat yang diuji, semestinya harus bersabar,” ucap Siti dengan nada pasrah. Kepercayaannya pada Tuhan membawa ketenangan, meskipun hati masih penuh kerinduan.

Kesedihan Siti kian bertambah saat melihat tradisi balimau ritual mandi menyambut Ramadan terancam hilang. Tempat pemandian yang biasanya riuh oleh canda warga kini sepi. Airnya mengecil dan keruh, tak layak lagi untuk menyucikan diri secara simbolis. Wisatawan atau pengunjung dari luar juga tidak lagi datang, sehingga Batu Busuk yang dulu asri kini tampak muram.

Harapan di Tengah Kesedihan

Ramadan kali ini juga memaksa warga untuk merantau dalam ibadah. Mereka terpaksa salat Tarawih ke masjid lain, yang tentu suasananya berbeda. Ingatan mereka masih di surau yang dulu. Ada kerinduan yang mendalam pada suara azan yang dulu menggema dari surau mereka sendiri.

Warga Lambung Bukit kini hanya bisa menatap langit, berharap Ramadan kali ini membawa ketenangan di tengah puing-puing kehilangan. Bagi mereka, sabar bukan lagi sekadar kata, melainkan nafas untuk bertahan hidup di tengah sisa-sisa bencana. Mereka berharap, suatu hari nanti, kampung mereka dapat bangkit kembali dan kembali memiliki denyut kehidupan yang hangat.

Share This Article
Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *