Penanganan Macan Tutul yang Muncul di Permukiman Warga
Beberapa waktu lalu, macan tutul muncul di permukiman warga di Desa Sepanjang, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Hewan tersebut diduga masih berusia muda dan sedang mencari wilayah teritorial baru. Pakar satwa liar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dwi Sendi Priyono, menyampaikan beberapa dugaan mengenai kemunculan hewan tersebut.
Menurutnya, kemungkinan besar macan tutul itu sedang belajar berburu dan menjelajahi tempat-tempat baru. “Mereka masih eksplorasi di area-area yang belum pernah mereka kunjungi,” ujar Sendi saat dihubungi TribunSolo, Jumat (6/3/2026).
Selain itu, dia menduga salah satu penyebab macan tutul mendekati permukiman warga adalah sumber makanan yang berkurang di habitat alaminya. “Jika mangsa alami di hutan berkurang, mereka bisa mencari sumber makanan yang mudah seperti ayam di kandang warga,” jelasnya. Belum lagi, gangguan habitat asli macan tutul bisa menjadi faktor lain. Aktivitas manusia, kebakaran, atau suara keras bisa membuat hewan tersebut terusik dan akhirnya mendekati pinggiran hutan.
Penanganan yang Harus Dilakukan dengan Bijak
Sendi menyarankan agar penanganan macan tutul tidak dilakukan sembarangan. Langkah paling aman saat ini adalah observasi dan perawatan intensif. Hal ini meliputi pemeriksaan kondisi fisik, status gizi, serta pemantauan perilaku dan tingkat stres hewan tersebut.
“Jika sehat dan perilakunya masih liar, opsi jangka panjangnya adalah dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya setelah memastikan ketersediaan mangsa dan risiko konflik ulang,” ujarnya.

Terkait penanganan awal dengan menembakkan obat bius sebelum ditangkap oleh petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Sendi menilai hal itu sudah diperhitungkan oleh para relawan. “Standar dosis dari bobot atau kondisi lapangan sudah diketahui oleh BKSDA dan kebun binatang. Jika prosedurnya benar, akan dimonitor napas, suhu, denyut jantung, dan risiko kematian,” jelasnya.
Namun, ia juga mengakui adanya kecenderungan stres pada macan tutul setelah efek obat bius hilang. Oleh karena itu, ia berharap penanganan yang kini berada di Kebun Binatang Solo Safari bisa tepat, seperti menghindarkan hewan tersebut dari kerumunan manusia dan menempatkannya di kandang yang luas.
Dugaan Terpisah dari Anak
Sementara itu, terkait kabar bahwa macan tutul tersebut terpisah dari anaknya, Sendi menjelaskan hal itu perlu pendalaman, terutama melihat jenis kelamin satwa liar tersebut. Menurutnya, dugaan terpisah dari anak-anaknya itu bisa saja benar jika jenis kelamin macan tutul tersebut betina.
Namun, ia juga menyarankan agar petugas lapangan kembali menyisir sekitar lokasi penemuan macan tutul tersebut untuk memastikan apakah hewan liar itu bersama rombongan atau sendirian. “Jika ada dugaan kuat, jenis kelamin dan umur harus dipastikan terlebih dahulu. Selain itu, tim lapangan juga harus mencari keberadaan individu tersebut dengan pertimbangan keselamatan warga,” urai Sendi.
Perilaku Predatori yang Perlu Diwaspadai
Terkait beberapa hari macan tutul tersebut memangsa ayam ternak warga, menurut Sendi hal tersebut lumrah karena sifat dasar kucing besar tersebut merupakan predator. Saat berada di dekat permukiman warga, macan tutul tersebut melihat banyak hewan ternak yang bisa dimangsa dengan mudah.
“Sebenarnya kalau makan ayam itu insting alami kucing besar di hutan juga seperti itu. Tapi mungkin ini menjadi strategi paling mudah bagi macan tutul tersebut karena mudah ditangkap, sementara mangsa liarnya mungkin lebih sulit atau lebih sedikit,” jelasnya.
Perilaku predator yang berulang ke satu sumber makanan itu normal. Dan itu justru sinyal kuat bahwa di sekitar situ ada potensi konflik manusia yang perlu diantisipasi ke depannya. Mungkin perlindungan kandang, penjagaan, mitigasi konflik, dan macam-macam.