Rusia Dukung Iran, Putin Janjikan Teman Setia dan Mitra Handal

Ratna Purnama
6 Min Read

Peran Rusia dalam Krisis Timur Tengah

Rusia menyatakan bahwa serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran telah memicu krisis energi global yang besar dan membawa seluruh kawasan Timur Tengah ke ambang kehancuran. Pernyataan ini dikeluarkan setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengirimkan ucapan selamat kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, serta Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas perayaan tahun baru Iran, Nowruz.

Putin menekankan bahwa Moskow tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan bagi Iran, bahkan dalam situasi sulit seperti saat ini. Pernyataan tersebut disampaikan saat ia merayakan perayaan Nowruz pada hari Sabtu (21/3/2026). Namun, sejauh mana dukungan Moskow untuk Iran masih menjadi pertanyaan besar.

Beberapa sumber dari Iran menyatakan bahwa mereka hanya menerima sedikit bantuan nyata dari Rusia dalam krisis terbesar yang mereka alami sejak Revolusi 1979 yang menggulingkan Shah yang didukung AS. Meskipun demikian, Rusia tetap berpegang pada posisi bahwa mereka tidak ingin Iran mengembangkan senjata nuklir, karena khawatir akan memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan.

Dugaan Penawaran Intelijen

Media internasional seperti Politico melaporkan bahwa Moskow pernah mengusulkan imbalan kepada Washington dengan syarat tertentu. Menurut laporan tersebut, Kremlin akan berhenti berbagi intelijen dengan Iran jika AS berhenti memberikan informasi tentang Rusia kepada Ukraina. Namun, AS menolak gagasan tersebut. Kremlin sendiri menepis laporan ini sebagai berita palsu.

Selain itu, Rusia kehilangan sekutu ketika AS menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro. Meski begitu, Moskow masih mendapat manfaat dari harga minyak yang tinggi akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran, yang merupakan mitra strategisnya. Namun, kemitraan strategis antara kedua negara tidak mencakup klausul pertahanan bersama.

Upaya AS dalam Konflik Timur Tengah

Di tengah konflik yang terus berlangsung, AS dan Israel telah memberikan berbagai alasan untuk perang, mulai dari harapan memicu pemberontakan hingga menghentikan program nuklir dan rudal Iran. Menurut laporan AP News, belum ada tanda-tanda pemberontakan yang signifikan atau akhir dari konflik tersebut.

Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa negaranya hampir mencapai tujuannya dalam konflik ini. Ia menyatakan, “Kita semakin dekat untuk mencapai tujuan kita saat kita mempertimbangkan untuk mengakhiri upaya militer besar-besaran kita di Timur Tengah.” Namun, pernyataan ini tampak bertentangan dengan langkah pemerintahannya untuk meningkatkan kekuatan militer di wilayah tersebut dan meminta tambahan $200 miliar dari Kongres untuk pendanaan perang.

AS juga mengerahkan tiga kapal serbu amfibi tambahan dan sekitar 2.500 Marinir tambahan ke Timur Tengah. Dua pejabat AS lainnya mengonfirmasi bahwa kapal-kapal tersebut sedang dikerahkan, meskipun tujuan pastinya belum diungkapkan. Beberapa hari sebelumnya, AS juga mengalihkan kelompok kapal serbu amfibi lainnya yang membawa 2.500 Marinir dari Pasifik ke Timur Tengah. Marinir tersebut akan bergabung dengan lebih dari 50.000 pasukan AS yang sudah berada di wilayah tersebut.

Trump menegaskan bahwa dia tidak memiliki rencana untuk mengirim pasukan darat ke Iran, tetapi juga menyatakan bahwa semua opsi yang diperlukan tetap tersedia.

Dampak Ekonomi dan Energi

Harga minyak mentah Brent, standar internasional, telah melonjak selama pertempuran dan berada di sekitar $106 per barel, naik dari sekitar $70 sebelum perang. Jeda sanksi yang baru diumumkan AS berlaku untuk minyak Iran yang dimuat di kapal mulai Jumat (20/3/2026) dan akan berakhir pada 19 April 2026. Langkah ini tidak meningkatkan arus produksi, yang merupakan faktor utama dalam melonjaknya harga.

Iran telah berhasil menghindari sanksi AS selama bertahun-tahun, menunjukkan bahwa sebagian besar barang ekspornya sudah sampai ke pembeli. Dalam upaya meningkatkan pasokan minyak global selama perang, pemerintahan Trump sebelumnya telah menangguhkan sanksi terhadap pengiriman minyak Rusia tertentu selama 30 hari, yang menurut para kritikus justru menguntungkan Moskow sementara hanya memiliki efek kecil pada pasar.

Ancaman dari Iran

Juru bicara militer tertinggi Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, memperingatkan bahwa “taman, area rekreasi, dan destinasi wisata” di seluruh dunia tidak akan aman bagi musuh negara tersebut. Ancaman ini memperbarui kekhawatiran bahwa Teheran mungkin akan kembali menggunakan serangan militan di luar Timur Tengah sebagai taktik tekanan.

Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei memuji keteguhan hati rakyat Iran dalam menghadapi perang dalam sebuah pernyataan tertulis yang dibacakan di televisi Iran untuk memperingati Nowruz. Khamenei belum terlihat di depan umum sejak ia menjadi pemimpin tertinggi setelah serangan Israel yang menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, dan dilaporkan melukainya.

Dengan sedikit informasi yang keluar dari Iran, tidak jelas seberapa besar kerusakan yang diderita fasilitas persenjataan, nuklir, atau energinya akibat serangan gencar AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026 — atau bahkan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas negara tersebut. Namun, serangan Iran masih mencekik pasokan minyak dan menaikkan harga pangan dan bahan bakar jauh di luar Timur Tengah.

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *