
Salah satu hal yang menarik dalam penyusunan skripsi saat ini adalah adanya halaman persembahan. Halaman ini biasanya terdiri dari tiga lembar atau kurang, dan bersifat sangat personal. Meskipun terlihat sederhana, halaman persembahan ini memiliki banyak cerita dan bisa menjadi bahan pembicaraan yang menarik.
Persembahan untuk diri sendiri adalah salah satu bentuk ekspresi yang semakin umum. Dari hasil penelitian budaya akademik dan digital di Indonesia, tren ini mulai muncul sejak dekade 2010-an. Meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental (mental health awareness) memengaruhi cara mahasiswa mengapresiasi usaha mereka sendiri. Istilah seperti self-reward dan self-love mulai populer, dan ini berdampak pada bagaimana mereka merayakan perjuangan pribadi.
Fenomena ini kemudian menyebar luas melalui media sosial, terutama Twitter, Instagram, dan TikTok. Konten-konten yang viral menginspirasi mahasiswa lain untuk menciptakan halaman persembahan yang lebih kreatif dan personal. Sejak tahun 2018, pengaruh budaya pop dan K-Pop juga mulai terasa dalam bentuk persembahan.
Pada tahap ini, persembahan skripsi bukan hanya sekadar daftar nama formal, tetapi menjadi narasi pribadi yang unik. Mahasiswa dan mahasiswi menyampaikan apresiasi kepada idol K-Pop atau karakter fiksi yang menjadi motivasi mereka. Fenomena ini merevolusi fungsi halaman persembahan dari sekadar formalitas menjadi ruang ekspresi diri yang kreatif.
Ada beberapa faktor yang mendukung fenomena ini. Pertama, digitalisasi repositori membuat akses draf skripsi lebih mudah. Mahasiswa bisa melihat contoh kreatif dari angkatan sebelumnya, sehingga terinspirasi untuk menampilkan kreasi mereka sendiri. Kedua, upaya humanisasi akademik. Mahasiswa ingin melihat skripsi sebagai perjuangan emosional, bukan hanya beban intelektual. Mereka ingin merayakan keberhasilan mereka dengan cara yang manusiawi.
Perubahan dalam Persembahan
Dulu, halaman persembahan hanya berisi ucapan terima kasih formal kepada dosen dan orang tua. Kini, mahasiswa dan mahasiswi lebih berani menampilkan sisi personal dan santai. Bahkan, ada yang menggunakan humor dalam persembahan mereka.
Misalnya, “Skripsi ini saya persembahkan untuk diri saya sendiri. Terima kasih karena sudah menjadi manusia tahan banting. Tidak gila meskipun revisi tiada ujung. Dan, tidak memutuskan untuk drop out dan memilih jualan seblak di pinggir jalan.” Kalimat ini menunjukkan bahwa persembahan kini tidak lagi sekadar formal, tetapi juga menyampaikan rasa lelah dan kebahagiaan atas keberhasilan.
Tidak jarang, persembahan juga menjadi ajang “balas dendam” yang lucu setelah melewati proses yang melelahkan. Contohnya, “Terima kasih kepada diriku, karena sudah bertahan, berjuang, dan akhirnya skripsi ini selesai. Saya bangga dengan kamu.” Ini menunjukkan bahwa persembahan kini lebih personal dan penuh makna.
Satire Lembut
Dosen pembimbing juga sering menjadi subjek persembahan. Banyak mahasiswa menyampaikan terima kasih dengan cara yang lembut dan penuh humor. Misalnya, “Untuk Ibu Dr. Widyawati Nastiti, S.I.Kom., M.I. Kom. Terima kasih atas revisi ‘sedikit’ yang ternyata mengubah 90% isi skripsi saya. Tanpa tekanan Ibu, saya mungkin tidak akan mengerti arti kesabaran yang sesungguhnya.”
Beberapa persembahan juga menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen yang memberikan masukan yang tidak terduga, seperti “Teristimewa kepada Bapak Dr. Eka Budianta, S.I.P., M.I.P. Terima kasih atas masukan-masukan tidak terduganya di akhir proses bimbingan, sehingga memaksa saya merombak ulang isi skripsi ini. Bapak betul-betul menguji limit kemampuan berpikir saya.”
Benda Mati atau Kebiasaan
Beberapa mahasiswa juga menyempatkan waktu untuk merayakan benda-benda mati yang membantu mereka selama proses penyusunan skripsi. Misalnya, “Untuk setiap cangkir kopi yang mendingin, tumpukan tisu yang basah, dan playlist lagu galau yang menemani malam-malam penuh revisi. Skripsi ini bukti bahwa air mata dan rasa lelah bisa berdamai juga dengan tekad kuat.”
Kopi, rokok, Netflix, dan kasur sering disebut dalam persembahan. Misalnya, “Skripsi ini saya persembahkan untuk kopi hitam yang setia menjaga kewarasan saat otak mulai nge-lag.” Atau, “Lembar persembahan ini, juga untuk kasur empuk dan bantal kesayangan. Terima kasih telah menyembuhkan punggung yang pegal dan menyediakan tempat istirahat sementara dari di tengah-tengah impitan rasa penat menghirup udara di dunia skripsi.”
Pendukung Sistem
Beberapa mahasiswa juga menyampaikan terima kasih kepada karakter fiksi atau idola yang menjadi inspirasi mereka. Contohnya, “Skripsi ini saya persembahkan untuk Uzumaki Naruto (Naruto). Terima kasih telah mengajarkan, bahwa tekad kuat dan tidak pernah menarik kembali kata-kata adalah jalan ninja menuju kesuksesan.”
Mereka juga menyampaikan terima kasih kepada artis, klub sepak bola, hewan kesayangan, dan bahkan para penjual mi instan atau pemilik kafe. Misalnya, “Terima kasih untuk Ibu Kantin yang sudah memberikan utang mi instan saat tanggal tua. Serta, Mas Owner Kafe Kopi Senja yang berkat fasilitas Wi-Fi kencangnya mendukung saya mengerjakan skripsi dari awal hingga akhir.”
Puisi atau Pantun
Beberapa mahasiswa menggunakan puisi atau pantun dalam persembahan. Contohnya, “Kepada Mama dan Papa Di tiap tetes keringat Papa dan Mama, selalu ada doa yang mengalir…” Atau, “Pergi ke pasar membeli buku, Buku dibaca di bawah tenda. Terima kasih Ayah dan Ibu, Skripsi selesai, ananda wisuda.”
Ekspresi Persembahan Lain
Beberapa mahasiswa menyampaikan terima kasih secara jujur dan penuh makna. Contohnya, “Skripsi ini saya persembahkan untuk kedua orang tua, yang selalu bertanya ‘Kapan wisuda?’. Ma, Pa, ini buktinya. Tolong jangan tanya itu lagi ya.”
Lingkungan Persahabatan
Persembahan juga sering ditujukan kepada lingkungan persahabatan. Misalnya, “Sedulur Kaum Santuy 08: Rasyid, Hatta, Dhaka, Gilang, Ilham, dan Ekel yang sudah menjadi konco-konco yang seru, asyik, dan menyenangkan.”
Humanisasi Karya Ilmiah
Halaman persembahan dalam skripsi mencairkan kekakuan ilmiah. Mahasiswa dan mahasiswi menunjukkan emosi dan humor mereka. Mereka bukan mesin pencari data, tetapi manusia dengan kenangan pribadi. Dengan demikian, skripsi menjadi lebih berkesan secara emosional.
Humanisasi karya ilmiah merupakan upaya untuk menghadirkan sisi kemanusiaan, emosi, dan realitas hidup para mahasiswa dan mahasiswi. Halaman persembahan menjadi ruang bagi mereka untuk mengekspresikan diri secara personal.
Resistensi Simbolik
Fenomena ini juga bisa dianggap sebagai resistensi simbolik terhadap standar penulisan ilmiah. Mahasiswa dan mahasiswi ingin mengekspresikan sisi personal mereka, bukan hanya sekadar mematuhi aturan formal. Dengan demikian, skripsi menjadi lebih manusiawi dan penuh makna.





