Mendag RI Cari Pasokan Plastik Alternatif di Sukoharjo

Amanda Almeirah
4 Min Read

Kenaikan Harga Plastik di Indonesia Akibat Gangguan Pasokan Bahan Baku

Harga plastik di Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku dari kawasan Timur Tengah akibat konflik geopolitik global. Hal ini memengaruhi berbagai sektor ekonomi, termasuk pedagang dan UMKM yang terkena dampak langsung.

Pasokan Terganggu, Pemerintah Cari Alternatif

Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Budi Santoso, ketergantungan impor bahan baku plastik dari negara-negara Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama kenaikan harga tersebut. Konflik yang terjadi di kawasan tersebut menyebabkan distribusi bahan baku terganggu, sehingga harga di pasar dalam negeri meningkat drastis.

“Plastik ini memang bahan bakunya salah satunya impor dari Timur Tengah. Sejak awal sudah saya sampaikan, dan sekarang kita sedang mencarikan alternatif pemasok dari negara lain,” ujarnya saat ditemui awak media.

Pemerintah kini mulai mengalihkan sumber pasokan ke beberapa negara alternatif seperti Afrika, India, dan Amerika Serikat. Namun, proses peralihan tersebut tidak bisa dilakukan secara instan karena memerlukan waktu untuk menyesuaikan sistem distribusi dan produksi.

Dampak Global, Sejumlah Negara Ikut Terdampak

Budi Santoso menjelaskan bahwa krisis pasokan bahan baku plastik ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga melibatkan sejumlah negara produsen plastik lainnya. Negara seperti Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan Taiwan juga mengalami kendala produksi akibat situasi global yang tidak menentu.

“Negara seperti Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan Taiwan juga mengalami kondisi force majeure. Padahal selama ini mereka juga menjadi pemasok. Jadi ini memang masalah global,” katanya.

Pemerintah berharap konflik di Timur Tengah segera mereda agar rantai pasok kembali normal dan harga bahan baku bisa stabil.

Harga Plastik Naik Tajam, Pedagang Tertekan

Kenaikan harga plastik mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha di daerah, termasuk pedagang di Sukoharjo. Seorang karyawan toko plastik, Ade, mengungkapkan bahwa harga cup plastik mengalami kenaikan drastis sejak menjelang Ramadan hingga Lebaran 2026.

“Untuk cup plastik, satu slop isi 50 pieces sekarang harganya Rp20 ribu sampai Rp21 ribu. Padahal sebelumnya hanya sekitar Rp12 ribu,” ujarnya.

Kenaikan juga terjadi pada pembelian dalam jumlah besar. Harga satu dus cup plastik yang sebelumnya sekitar Rp240 ribu kini melonjak menjadi Rp400 ribu. “Naiknya hampir 100 persen. Awalnya naik 30 persen, lalu bertahap naik lagi 20 persen, sampai sekarang hampir dua kali lipat,” jelasnya.

Akibatnya, daya beli konsumen mulai menurun karena banyak pembeli menunda atau mengurangi pembelian.

UMKM Terhimpit, Harga Belum Berani Dinaikkan

Dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan pelaku UMKM, terutama di sektor minuman. Pemilik usaha Teh Jumbo Ginastel, Kinardi Andrianto (43), mengaku kenaikan harga bahan baku sangat membebani usaha.

“Kalau sekarang kenaikannya gila-gilaan. Dari pabrik bisa sampai 80 persen. Tapi kami yang sudah punya ribuan mitra tidak bisa langsung menaikkan harga bahan yang dibeli oleh mitra,” ujarnya.

Menurut Kinardi, pihaknya masih menahan harga bahan baku untuk mitra sambil melihat perkembangan situasi pasar. “Kami lihat dulu fenomenanya, karena ini baru terjadi. Jadi untuk sementara mitra yang ambil bahan dari kami belum kami naikkan,” jelasnya.

Selain plastik, kenaikan harga bahan lain seperti gula juga semakin menambah beban produksi. “Banyak mitra yang mengeluh, bukan hanya plastik, gula juga naik. Mereka ingin harga jual dinaikkan, tapi kami masih melihat apakah kondisi ini akan berlangsung lama atau tidak,” katanya.

Kinardi berharap kondisi ini tidak berlangsung lama agar pelaku usaha, khususnya UMKM, tetap bisa bertahan dan menjaga daya beli masyarakat.

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *