Jakarta – Kondisi geopolitik yang sedang memanas antara Iran dan Israel-Amerika Serikat berpotensi memengaruhi pasokan produk impor, termasuk daging sapi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan daging sapi di Jakarta, yang sebagian besar bergantung pada impor.
Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, menjelaskan bahwa kebutuhan daging sapi di Jakarta sangat bergantung pada impor karena kota ini bukan daerah penghasil. “Sebanyak 95 persen kebutuhan daging sapi Indonesia, termasuk DKI Jakarta, berasal dari luar negeri. Produk tersebut datang dari Australia, Brasil, dan India,” ujarnya.
Kenaikan harga daging sapi dipengaruhi oleh kondisi geopolitik yang tidak stabil. Transaksi impor menggunakan mata uang dolar AS, sehingga jika situasi politik memburuk dan nilai tukar dolar menguat, harga daging akan ikut naik. Contohnya, penutupan Selat Hormuz akibat perang antara Iran dan Israel-Amerika menyebabkan kenaikan harga minyak. “Saat ini harga minyak sudah naik satu dolar, semoga situasi bisa segera reda,” kata Raditya.
Untuk menghadapi potensi kenaikan harga daging sapi, Dharma Jaya melakukan kerja sama dengan peternakan lokal di Jawa dan Lampung. Tujuannya adalah memastikan stok daging sapi tersedia saat harga impor melonjak. “Semoga harga sapi lokal tidak ikut naik, sehingga masyarakat memiliki alternatif,” ujarnya.
Kandang baru
Selain itu, Dharma Jaya juga merencanakan pembangunan kandang sapi baru di Ciangir, Kabupaten Tangerang, Banten. Kandang ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas penampungan sapi hidup yang saat ini masih terbatas.
Raditya menjelaskan bahwa kuota impor sapi tahun ini sebesar 7.500 ekor, tetapi saat ini hanya mampu mendatangkan sekitar 3.119 ekor. Alasannya adalah keterbatasan tempat. “Bukan karena tidak laku, tapi karena tidak ada ruang,” katanya.
Meskipun Dharma Jaya memiliki lahan seluas 12 hektare di Serang, Banten yang mampu menampung hingga 5.000 ekor sapi, lahan tersebut kini digunakan untuk agrowisata. “Jadi kandang yang ada tidak bisa diperluas,” ujarnya.
Untuk mencari solusi, Dharma Jaya memanfaatkan lahan milik Pemprov DKI Jakarta di kawasan Ciangir. Kawasan ini memiliki luas sekitar 100 hektare, dengan sekitar 20 hektare digunakan lembaga pemasyarakatan. Sisa lahan sekitar 70 hektare akan dikembangkan menjadi kawasan peternakan terpadu.
Pada tahap awal, Dharma Jaya akan membangun kandang dengan kapasitas sekitar 1.000 ekor sapi serta gudang pengolahan pakan. “Ke depan rencananya akan jadi kawasan terintegrasi,” ujarnya.