UE Minta Hentikan Serangan di Lebanon

Hartono Hamid
4 Min Read

Uni Eropa Minta Penghentian Segera Permusuhan di Lebanon

Pada hari Kamis (9/4/2026), Uni Eropa menyerukan penghentian segera permusuhan di Lebanon, mengingat banyaknya korban jiwa yang terjadi akibat konflik yang sedang berlangsung. Seruan ini datang setelah Israel meluncurkan serangan terbesarnya di Lebanon sejak perang dengan Hizbullah kembali meletus pada awal Maret 2026.

Serangan tersebut terjadi pada Rabu (8/4/2026), ketika Israel mengebom lebih dari 100 sasaran di seluruh negeri hanya dalam waktu 10 menit. Serangan ini menewaskan 303 orang dan melukai 1.150 lainnya. Pada saat yang sama, gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran juga sedang berlangsung, yang menurut banyak pihak juga mencakup Lebanon.

Perwakilan Tinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, menyampaikan pernyataan bahwa mereka meminta semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan di Lebanon. Ia juga mendesak semua pihak untuk sepenuhnya menghormati kesepakatan gencatan senjata dan menjamin kebebasan navigasi serta perjalanan yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz.

“Semua pihak harus mematuhi hukum humaniter internasional dan melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil, penjaga perdamaian PBB, dan personel kemanusiaan,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya diplomasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang tersisa dan menyerukan agar semua pihak terus terlibat dengan itikad baik menuju tercapainya kesepakatan yang berkelanjutan.

“Sekarang adalah waktunya merancang strategi komprehensif untuk perdamaian abadi di Timur Tengah,” tambahnya.

Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Akibat Serangan Israel di Lebanon

AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama 2 pekan yang dimediasi oleh Pakistan pada Rabu (8/4/2026). Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Iran setuju untuk mengizinkan kapal-kapal melintasi Selat Hormuz yang sempat ditutup. Laporan juga menyebutkan bahwa Teheran akan mengenakan tarif bagi kapal yang melintas di jalur perairan penting tersebut guna mendanai upaya rekonstruksi negara itu.

Namun, gencatan senjata tersebut kini terancam runtuh setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di berbagai wilayah Lebanon pada Rabu (8/4/2026). Iran dan Pakistan menyatakan bahwa Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan tersebut. Namun, AS dan Israel justru menegaskan sebaliknya.

Pada Jumat (10/4/2026), seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa Israel dan Lebanon akan mengadakan pembicaraan di Washington pekan depan. Pengumuman ini muncul ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan para menterinya untuk mengupayakan perundingan langsung dengan Lebanon yang berfokus pada pelucutan senjata Hizbullah.

Israel Terapkan Kebijakan Eskalasi Melalui Normalisasi

Menurut laporan dari Al Jazeera, Abid Abou Shhadeh, seorang analis politik dan aktivis yang berbasis di Israel, mengatakan bahwa Tel Aviv pada dasarnya tidak tertarik pada diplomasi atau perundingan apa pun dengan Lebanon. Namun, dengan menyetujui perundingan dengan Lebanon di AS, Israel berupaya menjalankan apa yang disebutnya sebagai kebijakan eskalasi melalui normalisasi.

Dalam praktiknya, Israel akan terus melanjutkan perang di Lebanon selatan, sembari tetap melakukan perundingan dengan pemerintah di Beirut. Abou Shhadeh menilai pendekatan ini juga menguntungkan pemerintah Lebanon karena membantu mengurangi pengaruh Hizbullah.

Situasi Kemanusiaan di Lebanon Memburuk

Digempur Israel, RS Lebanon Mulai Kehabisan Pasokan Medis Penting. Trump Sebut Israel Bakal Kurangi Serangan ke Lebanon. 63 Negara dan Uni Eropa Kecam Serangan ke UNIFIL di Lebanon.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *