Lindungi Adat dan Budaya, Desa Senakin Gelar Ritual Nabo Panyugu di Roah Pertama

Hartono Hamid
5 Min Read

Ritual Nabo’ Panyugu di Desa Senakin, Melestarikan Budaya Dayak Kanayatn

Ritual Nabo’ Panyugu atau Naki Ka’ Panyugu Nek Nese yang dilaksanakan oleh masyarakat adat Dayak Kanayatn di Desa Senakin, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, menjadi momen penting dalam melestarikan budaya dan tradisi leluhur. Acara yang berlangsung pada hari Minggu, 19 April 2026 ini, menarik perhatian banyak pihak, termasuk tokoh-tokoh masyarakat, anggota DPRD, dan pejabat setempat.

Prosesi Awal Ritual

Kegiatan dimulai dengan pemberkatan benih padi oleh Pastor Paroki Senakin. Setelah prosesi pemberkatan selesai, para peserta langsung melanjutkan kegiatan dengan arak-arakan menuju lokasi panyugu. Arak-arakan ini diiringi alunan musik dari gamelan dayak, gong, serta tetabuhan bedung dan gendang, menciptakan suasana yang khas dan membangkitkan semangat kebersamaan.

Di barisan depan, kelompok topeng atau Nopeng khas Dayak dengan tubuh yang dihias dedaunan memimpin barisan. Diikuti oleh rombongan pemikul tandu yang membawa benih-benih padi maupun hasil pertanian yang akan didoakan di panyugu. Selain itu, juga terdapat paraga adat yang dibawa oleh Panyangahatn, yaitu imam doa adat Dayak Kanayatn.

Arak-arakan ini melewati kawasan pasar Senakin dan disaksikan serta diikuti antusias oleh masyarakat setempat. Mereka ikut menari mengikuti alunan musik hingga tiba di lokasi panyugu atau tempat keramat.

Prosesi Ritual Adat

Sesampai di depan lokasi panyugu, rombongan disambut dengan tarian tradisional hingga masuk ke area panyugu. Setelah masuk, rombongan melakukan pengelilingan tempat keramat sebanyak tiga kali. Selanjutnya, prosesi ritual adat dipimpin langsung oleh Panyangahatn.

Menurut Ketua Panitia, Sugeng, ritual Nabo’ Panyugu merupakan upacara sakral yang dilakukan masyarakat Dayak Kanayatn untuk menyampaikan doa-doa adat kepada Jubata atau Sang Pencipta terhadap hasil panen padi. Dalam ritual ini, masyarakat juga memohon perlindungan dan berdoa agar hasil panen di musim berikutnya melimpah.

“Kami melakukan upacara Nabo’ Panyugu yang dilaksanakan perdana tahun ini karena Panyugu baru dibangun pada tahun 2025. Sebelumnya, Panyugu yang berasal dari gunung kita pindahkan ke sini, dan diberi nama Panyugu Nek Nese,” jelas Sugeng.

Keberlanjutan Budaya

Meski dilaksanakan secara perdana, rangkaian acara ini terasa meriah dan diikuti oleh 5 dusun di Desa Senakin. Sugeng berharap acara ini menjadi agenda tahunan wajib yang dilaksanakan setiap tanggal 19 April, sebagai bentuk pelestarian adat dan budaya.

“Kami berharap kepada masyarakat Senakin dan Dayak khususnya untuk menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya Dayak. Karena kalau bukan Dayak sendiri, orang lain tidak akan bisa mengenalkan budaya Dayak ini,” tambahnya.

Ia juga menekankan bahwa adat dan budaya harus terus dilestarikan kepada anak cucu dan diperkenalkan kepada masyarakat luas sebagai penanda identitas masyarakat Dayak, khususnya Dayak Kanayatn.

Tali Kasih untuk Masyarakat

Dalam prosesi ritual, panitia juga memberikan bingkisan sembako kepada para ibu tunggal sebagai bentuk tali asih. Sugeng menjelaskan bahwa sumbangan ini bertujuan untuk saling membantu dan menunjukkan rasa tanggung jawab sesama warga.

“Kita lihat mereka sudah tua dan seharusnya kita berikan sumbangan. Karena kita punya rasa kasih sesuai dengan firman Tuhan,” ujarnya.

Apresiasi dari Wakil Bupati

Wakil Bupati Landak Erani ST MT yang hadir di lokasi panyugu menyampaikan apresiasinya atas kegiatan adat masyarakat sebagai bagian dari kearifan lokal dan kekayaan daerah.

“Ini adalah kearifan lokal dalam rangka melestarikan adat budaya. Tadi kita melihat semangat kebersamaan dan gotong royong yang sangat membanggakan dan memotivasi kita semua,” tuturnya.

Erani berharap kegiatan ini dapat berlangsung lebih meriah dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Ia bahkan berharap acara ini bisa menjadi potensi menarik kunjungan masyarakat dari luar Desa Senakin.

Penutupan dan Aktivitas Lanjutan

Setelah seluruh rangkaian ritual selesai, kegiatan ditutup dengan makan bersama di lokasi panyugu. Selain masyarakat, kegiatan ini juga diikuti oleh para tokoh masyarakat seperti Anggota DPRD Landak Ropina Herdianti, Kepala Desa Senakin, Kapolsek Sengah Temila, dan Kepala Puskesmas Senakin.

Selain ritual adat, kegiatan juga dimeriahkan dengan turnamen sepak bola. Sementara itu, kegiatan pesta roah atau silaturahmi ke rumah-rumah akan dilakukan sehari setelah ritual adat.




Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *