Titiek Soeharto Angkat Bicara soal Dugaan Suap Izin Hutan Sumatera

Amanda Almeirah
7 Min Read

Penyebab Bencana Banjir dan Longsor di Wilayah Sumatera

Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediyati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto memberikan pernyataan terkait dugaan suap dalam perizinan kawasan hutan yang dianggap menjadi penyebab bencana banjir dan longsor di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menegaskan pentingnya masyarakat untuk tidak langsung berburuk sangka terhadap penyebab bencana tersebut.

“Kita jangan suuzon,” ujar Titiek saat ditemui di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (8/12/2025). Pernyataan ini disampaikan setelah ia menghadiri agenda “Bimbingan Teknis Perempuan Penyelenggara Negara dalam Pemberantasan Korupsi” yang merupakan rangkaian peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2025.

Titiek menjelaskan bahwa saat ini DPR sedang memproses pembentukan Panitia Kerja (Panja) Alih Fungsi Lahan. Oleh karena itu, ia berharap masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum ada hasil pendalaman yang jelas.

“Panja kita semuanya kerja semuanya. Nanti tinggal ditunjuk aja salah satu wakil ketua siapa,” jelasnya. Meski demikian, Titiek sepakat bahwa tata kelola perizinan di kawasan hutan memerlukan perhatian serius. Ia menekankan perlunya tinjauan ulang secara menyeluruh terkait perizinan pembukaan lahan.

“Harus dievaluasi total,” tambahnya.

Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebelumnya telah menyoroti adanya kontribusi signifikan dari aktivitas pembukaan lahan terhadap bencana di Sumatera. KLH mencatat aktivitas pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Hutan Tanaman Industri (HTI), pertambangan, hingga perkebunan sawit berperan besar dalam memicu erosi.

Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLH/BPLH, Rizal Irawan, mengungkapkan bahwa pantauan udara memperlihatkan dampak masif dari aktivitas tersebut. “Dari overview helikopter, terlihat jelas aktivitas pembukaan lahan untuk PLTA, hutan tanaman industri, pertambangan, dan kebun sawit. Tekanan ini memicu turunnya material kayu dan erosi dalam jumlah besar,” ungkap Rizal dalam keterangan resminya, Jumat (5/12/2025).

Saat ini, pemerintah melalui Presiden Prabowo Subianto telah menggelar rapat koordinasi di Aceh untuk menangani dampak bencana, termasuk penyaluran bantuan dan penyediaan hunian sementara bagi para korban.

Jabatan Politik Titiek Soeharto

  • Ketua Bidang Pertanian dan Nelayan DPP Partai Golkar (2012–2014)
  • Wakil Ketua Komisi IV DPR RI (2014–2018)
  • Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar (2014–2016)
  • Wakil Ketua Dewan Pakar DPP Partai Golkar (2016–2018)
  • Wakil Ketua Koordinator Bidang Pertama DPP Partai Golkar (2018)
  • Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Berkarya (2018–2020)
  • Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra (2023–sekarang)
  • Ketua Komisi IV DPR RI (2024–sekarang)

3 Perusahaan Lagi Disegel

Kabar terbaru, Kementerian Kehutanan kembali menyegel tiga subjek hukum yang diduga berkontribusi terhadap bencana banjir. Penyegelan ini menambah panjang daftar korporasi yang sebelumnya sudah diberi tindakan atas kerusakan lingkungan.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, total tujuh subjek hukum telah dikenakan tindakan dalam penegakan hukum di sektor kehutanan. “Penyegelan ini akan terus kami lakukan terhadap perusak hutan. Seperti janji saya kepada rakyat yang disampaikan di depan Komisi IV DPR RI. Jadi siapa pun yang melakukan perusakan hutan akan kami tindak,” kata Menhut Raja Juli Antoni dalam pernyataannya di Jakarta pada Senin (8/12/2025).

Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memastikan kelestarian hutan dan menindak pihak-pihak yang diduga melakukan pelanggaran. “Dengan penyegelan kali ini sudah ada 7 subyek hukum yang disegel. Masih ada 5 subyek hukum lainnya yang teridentifikasi dan akan kami lakukan pendalaman. Bila terbukti melakukan pelanggaran, kami tidak segan akan langsung segel,” tambahnya.

Penyegelan terbaru dilakukan setelah sebelumnya Kemenhut lebih dahulu menyegel empat subjek hukum yang juga terindikasi berperan dalam menyebabkan banjir di beberapa daerah. Tiga subjek hukum yang baru disegel berada di Kabupaten Tapanuli Selatan. Entitas tersebut meliputi:

  • Dua areal konsesi PT Agincourt Resources (AR) di Ramba Joring, Desa Aek Pining, Kecamatan Batang Toru.
  • PHAT Jon Anson di Kecamatan Arse.
  • PHAT Mahmudin di Desa Sombadebata Purba, Kecamatan Saipar Dolok Hole.

Sebelumnya, empat subjek hukum yang telah disegel terdiri dari:

  • Areal konsesi PT TPL di Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan.
  • PHAT Jhon Ary Manalu di Desa Pardomuan, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara.
  • PHAT Asmadi Ritonga di Desa Dolok Sahut, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara.
  • PHAT David Pangabean di Desa Simanosor Tonga, Kecamatan Saipar Dolok Hole, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Langkah penyegelan ini dilakukan karena dugaan adanya aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan dan mempengaruhi fungsi hutan, khususnya di daerah yang berkaitan dengan bencana banjir belakangan ini.

Menhut Raja Juli Antoni menjelaskan bahwa pihaknya melalui Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut sedang melakukan pendalaman terhadap berbagai dugaan pelanggaran. Fokus utama berada di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, Sumatera Utara.

Pendalaman tersebut dilakukan melalui sejumlah langkah teknis, antara lain: Mengumpulkan sampel kayu dari lokasi yang disegel. Melakukan verifikasi lapangan terhadap kondisi hutan. Meminta keterangan dari pihak terkait, termasuk pemegang hak atas tanah maupun pihak perusahaan. “Kami tidak ada kompromi. Baik korporasi ataupun PHAT yang terbukti merusak hutan Indonesia akan kami tindak. Seperti komitmen yang telah saya sampaikan di DPR, penegakan hukum secara tegas tanpa pandang bulu,” ujar Menhut.

Korban Meninggal 950 Jiwa

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meng-update data korban meninggal dunia pascabencana banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Hingga hari ini, Senin (8/12/2025), sebanyak 950 orang meninggal dunia akibat bencana di tiga provinsi ini. Sementara, total korban luka mencapai 5.000 orang. Selain itu, ada 274 orang yang masih dinyatakan hilang.

BNPB juga mencatat ada lebih dari 850 ribu orang yang menjadi pengungsi. Kemudian, ada 156 ribu rumah rusak, 435 jembatan rusak, 1.200 fasilitas umum yang rusak, dan 534 sekolah rusak.

Berikut data korban di setiap provinsi hingga hari ini Senin (8/12/2025):

  • Provinsi Sumut:
  • Tewas: 330 orang
  • Hilang: 78 orang
  • Luka: 647 orang

  • Provinsi Sumbar:

  • Tewas: 234 orang
  • Hilang: 95 orang
  • Luka: 112 orang.

  • Provinsi Aceh:

  • Tewas: 386 orang
  • Hilang: 101 Orang
  • Luka: 4.300 orang




Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *