SBY beberkan kisah prajurit TNI di Lebanon, 3 menteri Prabowo jadi kontingen perdamaian pertama

Hartono Hamid
4 Min Read

Sejarah Misi Pasukan Garuda di Lebanon

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengungkapkan sejarah panjang misi Pasukan Garuda di Lebanon. Misi ini menjadi penugasan terlama yang pernah diemankan kepada TNI di bawah bendera PBB. Hingga tahun 2026, sudah tercatat 19 kali pergantian kontingen dengan masa tugas rata-rata satu tahun.

Awal Mula Misi Pasukan Garuda di Lebanon

Misi tersebut dimulai setelah konflik besar antara Israel dan Lebanon pada Agustus 2006. Saat itu, SBY mengambil inisiatif diplomasi karena ia merasa Dewan Keamanan PBB belum efektif dalam menghentikan pertumpahan darah. Ia kemudian mengajukan usulan kepada PM Malaysia Abdullah Badawi agar menggelar ’emergency meeting’ sebagai bagian dari Organisasi Kerjasama Islam (OIC) untuk mendesak PBB segera bertindak.

Pertemuan darurat di Kuala Lumpur akhirnya membuahkan hasil. Indonesia menyatakan kesiapan untuk mengirim satu batalyon pasukan yang akan mengawasi gencatan senjata antara kedua belah pihak. Untuk mempercepat pengiriman, SBY melakukan langkah diplomasi langsung dengan Prancis melalui Government to Government (G-to-G) untuk pengadaan kendaraan tempur tanpa melibatkan pihak swasta.

Diplomasi dan Pengadaan Kendaraan Tempur

SBY menelepon Presiden Perancis Jacques Chirac dengan tujuan untuk membeli kendaraan tempur VAB buatan Perancis. Alhasil, Perancis bersedia dan proses pengirimannya berlangsung secara cepat. Langkah ini diambil untuk memastikan kesiapan pasukan Indonesia yang saat itu dipersyaratkan oleh PBB harus menggunakan kendaraan tempur mekanis. Saat itu, unit Anoa buatan dalam negeri belum siap sepenuhnya.

Kontingen Pertama yang Terlibat

Dalam catatan sejarahnya, SBY juga menyoroti relevansi misi Lebanon dengan pemerintahan saat ini. Ia menyebutkan bahwa tiga orang pejabat penting di kabinet Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari kontingen pertama tersebut. Ketiga orang tersebut adalah Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan.

Tantangan Misi Penjaga Perdamaian

Hingga 2026, misi di Lebanon menjadi penugasan terlama yang pernah diemban TNI di bawah bendera PBB. Namun, SBY mengingatkan bahwa misi penjaga perdamaian kini menghadapi tantangan mematikan karena pergeseran medan tugas dari zona aman menjadi zona pertempuran aktif. Pasukan Israel sudah maju 7 km dari “Blue Line”, yang tentu sangat berbahaya bagi “peacekeeper” karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung.

Duka atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI

SBY juga menyampaikan belasungkawa atas gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) dalam misi UNIFIL di Lebanon. Ketiga prajurit tersebut adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dan Praka Farizal Rhomadhon. Mereka gugur akibat serangan Israel di Lebanon.

SBY mengaku sangat tersentuh saat memberikan penghormatan kepada jenazah ketiga prajurit tersebut. Ia menyampaikan bahwa seorang prajurit disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil.

Insiden yang Menggugah

Tiga prajurit TNI yakni Praka Farizal Romadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur dalam insiden yang terjadi di dua lokasi dan dua waktu berbeda saat menjalankan misi pemeliharaan perdamaian di bawah mandat PBB atau UNIFIL di Lebanon.

Praka Farizal gugur akibat ledakan proyektil artileri di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3/2026). Seorang prajurit TNI penjaga perdamaian juga terluka parah dalam insiden tersebut. Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur saat sebuah ledakan di pinggir jalan menghancurkan kendaraan mereka di dekat Bani Hayyan pada Senin (30/3/2026).


Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *