Flu mematikan ditemukan di Indonesia, ahli ingatkan bahaya bagi lansia dan anak-anak

Muhammad Muhlis
4 Min Read

Penyebaran Virus Influenza A Subclade K di Indonesia

Virus influenza A varian subclade K, yang sering disebut sebagai “super flu”, mulai terdeteksi di Indonesia dan menimbulkan kekhawatiran dari para ahli kesehatan. Hal ini dikarenakan potensi dampaknya pada kelompok rentan. Data hasil pemeriksaan whole genome sequencing menunjukkan bahwa varian ini telah beredar sejak Agustus 2025. Hingga Desember 2025, tercatat total 62 kasus terkonfirmasi, dengan satu kasus kematian dilaporkan di RS Hasan Sadikin Bandung.

Apa Itu Super Flu dan Mengapa Perlu Diwaspadai?

Menurut Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK (K), dosen mikrobiologi FK-KMK Universitas Gadjah Mada, istilah “super flu” bukanlah terminologi ilmiah, melainkan sebutan populer untuk influenza A subclade K. Meskipun secara genetik ada perbedaan dengan virus flu musiman H3N2, hingga saat ini belum ada bukti bahwa varian ini lebih ganas atau mampu menghindari kekebalan dari vaksin maupun infeksi sebelumnya.

Namun, Tri menegaskan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan karena influenza H3N2 dikenal dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada lansia dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu.

Penularan Cepat Jadi Alasan Julukan “Super Flu”

Dari sisi penularan, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa julukan “super flu” muncul karena kemampuan virus ini menyebar dengan cepat. Satu orang bisa menularkan ke dua sampai tiga orang di sekitarnya, bahkan mungkin lebih, meskipun belum ada penelitian spesifik soal angka pastinya.

Virus ini menyebar melalui droplet pernapasan dan kontak langsung, terutama di lingkungan padat dan bersuhu dingin, yang mempercepat laju penularan.

Gejala Mirip Flu Biasa, Tapi Risikonya Berbeda

Secara klinis, gejala super flu sulit dibedakan dari flu biasa, seperti demam tinggi, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, batuk, pilek, dan rasa lemas. Namun, pemeriksaan fisik saja tidak cukup untuk memastikan jenis variannya, karena identifikasi subclade K hanya bisa dilakukan melalui pemeriksaan genomik di laboratorium rujukan.

Kelompok yang berisiko mengalami keparahan meliputi anak balita, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, pasien kanker, serta individu dengan sistem imun lemah.

Virus Mudah Berubah, Pencegahan Jadi Kunci

Prof. Tri menjelaskan bahwa virus influenza membawa materi genetik RNA yang mudah bermutasi, sehingga perubahan kecil dapat melahirkan varian baru yang berpotensi memengaruhi sistem kekebalan manusia. Jika perubahan genetiknya signifikan, ada potensi sistem imun menjadi kurang efektif, termasuk kemungkinan penularan yang lebih cepat.

Karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah paling realistis untuk menekan risiko. Baik Tri maupun Nastiti menegaskan bahwa vaksinasi influenza tahunan tetap dianjurkan, khususnya bagi kelompok rentan. Selain vaksin, langkah sederhana seperti etika batuk, penggunaan masker saat sakit, mencuci tangan secara rutin, istirahat cukup, dan memastikan ventilasi ruangan yang baik masih menjadi benteng utama pencegahan.

Pentingnya Kewaspadaan dan Kesadaran Masyarakat

Para ahli menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik, namun juga tidak boleh lengah menghadapi kemunculan varian ini. Dengan pemantauan ketat, disiplin protokol kesehatan, dan perlindungan bagi kelompok rentan, dampak super flu dapat ditekan agar tidak berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih luas.

Share This Article
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *