JAKARTA — Survei Konsumen yang dilakukan Bank Indonesia (BI) pada Desember 2025 menunjukkan adanya perubahan kecil dalam pola pengelolaan pendapatan masyarakat. Meskipun demikian, keyakinan konsumen tetap berada di level optimistis.
Rata-rata proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi, atau yang dikenal sebagai average propensity to consume ratio, tercatat sebesar 74,3 persen. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, rasio pembayaran cicilan atau utang terhadap pendapatan (debt to income ratio) juga mengalami penurunan menjadi 10,8 persen.
Di sisi lain, proporsi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) meningkat. Pada Desember 2025, porsi tabungan mencapai 14,9 persen, sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Data ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku keuangan rumah tangga, yaitu dengan cenderung menahan konsumsi dan meningkatkan simpanan.
Konsumsi dan Tabungan Berdasarkan Kelompok Pengeluaran
Penurunan proporsi konsumsi terhadap pendapatan terjadi pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Penurunan yang relatif signifikan tercatat pada kelompok pengeluaran antara Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta, dengan proporsi konsumsi sebesar 70,9 persen.
Di sisi lain, porsi pendapatan yang ditabung meningkat di seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran antara Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta dengan saving to income ratio sebesar 15,5 persen. Sementara itu, kelompok pengeluaran antara Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta mencatatkan kenaikan sebesar 15,7 persen.
Keyakinan Konsumen Tetap Optimistis
Survei Konsumen BI juga menunjukkan bahwa keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2025 berada pada level optimistis sebesar 123,5, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan IKK November 2025 yang mencapai 124,0.
Kuatnya keyakinan konsumen berasal dari persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ke depan yang sama-sama berada di zona optimistis. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat sebesar 111,4, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mencapai 135,6.
IKK Berdasarkan Pengeluaran, Usia, dan Wilayah
Berdasarkan kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen meningkat pada kelompok pengeluaran antara Rp 2,1 juta sampai Rp 5 juta. Peningkatan tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran antara Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta dengan indeks sebesar 129,2.
Dari sisi usia, peningkatan IKK hanya terjadi pada kelompok usia 31 sampai 40 tahun dengan indeks 127,5. Sementara itu, kelompok usia lainnya tercatat stabil atau mengalami penurunan tipis.
Secara spasial, IKK meningkat di mayoritas kota yang disurvei, terutama di Banten, Mataram, dan Ambon. Namun, penurunan IKK tercatat di sejumlah kota, seperti Medan dan Padang, yang dipengaruhi oleh dampak bencana di wilayah Sumatera.
Persepsi Kondisi Ekonomi Saat Ini
Persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini tetap kuat, tercermin dari IKE Desember 2025 yang berada di level 111,4, relatif stabil dibandingkan 111,5 pada bulan sebelumnya.
Kuatnya IKE terutama didorong oleh kenaikan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) yang tercatat sebesar 106,5, meningkat dari 103,7 pada November 2025. Sementara itu, Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (Durable Goods/IPDG) juga berada di level optimistis, masing-masing sebesar 120,2 dan 107,6.
Secara spasial, sebagian besar kota mencatatkan peningkatan IKE, terutama di Banten, Ambon, dan Manado. Adapun penurunan IKE tercatat di Medan, Padang, dan Semarang.
Persepsi Penghasilan, Lapangan Kerja, dan Pembelian Barang Tahan Lama
Secara umum, keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini tetap berada di zona optimistis. Berdasarkan kelompok pengeluaran, indeks penghasilan meningkat pada responden dengan pengeluaran antara Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta yang mencapai 131,7, serta kelompok antara Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta sebesar 112,5.
Sementara itu, kelompok pengeluaran lainnya mengalami penurunan persepsi terhadap penghasilan saat ini. Dari sisi usia, seluruh kelompok usia mengalami penurunan indeks penghasilan, kecuali responden berusia 31 hingga 40 tahun yang mencatatkan indeks sebesar 126,9.
Persepsi terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini juga meningkat. Berdasarkan tingkat pendidikan, seluruh kelompok mencatatkan kenaikan indeks, dengan nilai tertinggi pada kelompok pendidikan pascasarjana sebesar 117,1. IKLK juga meningkat pada sebagian besar kelompok usia, meskipun kelompok usia di atas 51 tahun masih berada di zona pesimis.
Untuk pembelian barang tahan lama, peningkatan hanya tercatat pada kelompok pengeluaran antara Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta dengan indeks 113,0. Berdasarkan kelompok usia, IPDG meningkat pada responden usia 20 sampai 30 tahun yang mencapai 117,4, sementara mayoritas kelompok usia lainnya mengalami penurunan.
Ekspektasi Enam Bulan Ke Depan
Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IEK Desember 2025 sebesar 135,6, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 136,6.
Kuatnya IEK terutama bersumber dari Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) yang tercatat sebesar 140,8, sedikit lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar 140,6. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK) dan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU) masing-masing tercatat sebesar 135,1 dan 130,8, meski lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Secara spasial, sebagian kota mencatatkan peningkatan IEK, terutama di Banten, Mataram, dan Palembang. Adapun penurunan IEK tercatat di sejumlah kota lain, terutama Medan, Padang, dan Bandar Lampung.