Harga BBM Nonsubsidi Naik, Dua SPBU di Sleman Sepi Pengunjung

admin
3 Min Read

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Memicu Beragam Respons di DIY

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi telah memicu berbagai respons dari masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penyesuaian harga yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) terhadap sejumlah produk seperti Pertamax Turbo 98, Dexlite, dan Pertamina Dex membuat sebagian warga mulai mengatur ulang pengeluaran, khususnya untuk konsumsi bahan bakar. Meski demikian, kenaikan ini tidak serta-merta mengubah kebiasaan pengendara.

Mayoritas warga tetap menggunakan BBM sesuai kebutuhan kendaraannya dan tidak beralih ke jenis dengan oktan lebih rendah seperti Pertamax 92 atau Pertalite, yang harganya tidak mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memprioritaskan performa kendaraan daripada biaya tambahan.

Kondisi di SPBU di Sleman

Pantauan Tribun Jogja pada Minggu (19/4/2026) siang di dua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di ruas Jalan Yogyakarta-Wates, tepatnya di Ambarketawang dan Balecatur, Gamping, Sleman, menunjukkan kondisi yang relatif normal. Tidak terlihat antrean panjang usai kenaikan harga BBM nonsubsidi. Aktivitas pengisian bahan bakar berlangsung seperti hari-hari biasa, bahkan cenderung lengang.

Di SPBU Balecatur, Pertamax Turbo 98 diketahui belum tersedia. Sementara itu, untuk Pertamax 92 dijual seharga Rp12.300 per liter. Adapun Pertalite Rp10.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp23.900 per liter. Untuk di SPBU Ambarketawang, Pertamax Turbo 98 terpantau dijual Rp19.400 per liter.

Tanggapan Pengendara

Seorang pengendara, Firman Abdullah (39), mengaku tidak terlalu terdampak oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi karena selama ini menggunakan Pertalite. Ia biasanya mengisi bahan bakar setiap tiga hari sekali dengan nominal sekitar Rp25 ribu. “Saya pakai Pertalite. Biasanya isi tiga hari sekali, sekitar Rp25 ribu,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).

Firman juga menilai kebijakan kenaikan harga BBM nonsubsidi sudah tepat karena tidak memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah. “Sebagai buruh dengan penghasilan terbatas, saya rasa ini cukup baik. Walaupun di media sosial ramai komentar, tapi menurut saya kebijakan ini tetap bagus,” katanya. Meski demikian, ia berharap harga BBM nonsubsidi bisa kembali stabil ke depan.

Persepsi Warga Lain

Sementara itu, warga lainnya, Lintang (20), mengaku terkejut dengan lonjakan harga Pertamax Turbo yang dinilai cukup signifikan. Ia mengetahui kenaikan tersebut dari media sosial dan mengaitkannya dengan kondisi global. Namun, tetap membeli pertamax turbo sebagai bahan bakar kendaraannya untuk menjaga performa sepeda motor matic besarnya. “Saya tahu dari medsos kalau harga naik. Mungkin juga efek situasi dunia, jadi ya mau tidak mau harus dipahami. Tapi kalau saya nggak nurunin standar, tetap pakai turbo,” ujar mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta.

Lintang mengaku sebenarnya sudah memprediksi kenaikan harga BBM nonsubsidi, namun tidak menyangka lonjakannya cukup tinggi. Harga Pertamax Turbo 98 diketahui naik Rp6.300, dari sebelumnya Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter. “Harapnanya ya mudah-mudahan bisa turun lagi kayak biasa. Sementara saya siasati motoran bila peru ke kampu atau ada cara penting saja dulu,” kata dia.


Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *