Perekonomian Nasional Tengah Mengalami Fluktuasi
Perekonomian nasional saat ini sedang mengalami fluktuasi yang signifikan, terutama dalam hal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta harga emas. Fluktuasi ini terlihat jelas pada harga emas yang naik dan turun secara drastis, sehingga menimbulkan kebingungan bagi para pedagang di Banjarmasin.
Pada hari Kamis (28/1), harga emas perhiasan 999 mencapai Rp 3.020.000 per gram. Namun, pada Jumat (30/1), harga emas tersebut turun menjadi Rp 2.850.000 per gram. Hal ini membuat para pedagang bingung dalam menentukan harga jual dan beli.
H Ahmad, pemilik Toko Emas Ahmad di Pasar Lama, mengatakan bahwa ia terus memantau informasi dari media sosial dan web. Pada Jumat pagi hingga siang, terjadi revisi harga emas yang cukup banyak. “Banyak orang yang kebetulan mau beli tidak percaya hari ini harga emas turun drastis,” ujarnya.
Akibat dari penurunan harga yang tiba-tiba, Ahmad merasa bingung dalam menentukan harga jual dan beli. “Seperti hari ini, turunnya harga sangat drastis. Saya tidak tahu faktor penyebabnya,” katanya.
Meskipun harga emas fluktuatif, H Ahmad tetap melakukan transaksi, meski harus sering cek harga nasional. “Namun jenis blok atau batangan saya tahan dulu,” tambahnya.
Di Toko Emas Ahmad, harga untuk emas perhiasan 999 adalah Rp 2.850.000 per gram, sementara emas 700 mulai dari Rp 2.100.000 dan emas 375/420 mulai dari Rp 1.100.000.
Harga ini tidak jauh berbeda dengan yang dipatok oleh H Gurdani, pemilik toko Taisir di Pasar Sentra Antasari. “Dibandingkan harga kemarin, emas hari ini ada penurunan sekitar Rp 175 ribu per gram, turun banyak. Jenis batangan 999 Rp 2.805.000,” ujarnya.
Di Pasar Sentra Antasari, aktivitas perdagangan emas masih terlihat hidup. Para pedagang tetap sibuk melayani masyarakat yang datang untuk membeli maupun menjual emas.
Suasana pasar tidak terlalu ramai, namun juga tidak sepi, menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap emas tetap stabil meski harga sedang terkoreksi.
Harga emas batangan lokal pada Jumat berada di kisaran Rp 2.800.000 per gram untuk harga jual. Sementara harga beli berada di angka Rp 2.750.000. Untuk emas perhiasan, harga tercatat sedikit lebih tinggi yakni Rp 2.850.000 per gram.
“Dibanding Kamis turun lumayan. Harga sebelumnya sempat tembus Rp 3 juta per gram, sekarang sudah turun sekitar Rp 150 ribu per gram. Jadi hari ini posisi jual Rp 2.800.000, beli Rp 2.750.000,” kata H Fauzi, pemilik Toko Mawar.
Berbeda dengan emas batangan lokal, harga emas produksi Antam masih bertahan di level tinggi. Disebutkannya, emas Antam saat ini diperjualbelikan dengan harga di kisaran Rp 3.300.000 hingga Rp 3.500.000 per gram.
Emas Antam tetap menjadi pilihan bagi masyarakat yang mencari aset tabungan premium karena dianggap lebih aman dan memiliki nilai jual yang stabil.
Harga emas yang mengalami penurunan pada Jumat membuat masyarakat terbagi dalam dua pandangan. Sebagian warga memilih segera membeli untuk investasi, sementara sebagian lainnya lebih berhati-hati dan menunggu harga turun lebih jauh.
Yaya, warga Jalan Pramuka, Banjarmasin, mengungkapkan, harga emas yang tinggi tentunya membuat orang berpikir dua kali untuk beli emas. “Kecuali punya uang lebih tidak apa beli emas sekarang. Tapi kalau untuk cincin pernikahan, lebih baik perak saja,” selorohnya.
Namun berbeda dengan Rizka, warga Sungaiandai, Banjarmasin, yang berpandangan naiknya harga emas menguntungkan dirinya yang suka menabung emas. “Setahun lalu beli emas, sekarang harganya naik hingga selisih Rp 750 ribu per gram,” katanya.
Namun demikian dia tidak berniat menjual. “Tak perlu dijual saat harga mahal. Nanti saja ketika ada keperluan mendesak,” ujarnya.
Hj Shinta Dwi L, pengusaha wanita di Banjarbaru yang juga investor emas, mengatakan, bagi investor tentunya ini merupakan keuntungan. Shinta sudah tujuh tahun menabung emas. Ia lebih suka berinvestasi pada emas batangan yang harganya lebih stabil daripada emas perhiasan.
“Tujuh tahun lalu harga emas masih Rp 525 ribuan per gram, sekarang harganya sudah sekitar Rp 3 juta. Jadi yang saya beli tujuh tahun lalu sudah sekitar 5 kali lipat selisih harganya,” ungkap Shinta.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof Handry Imansyah, menilai pergerakan harga emas yang sempat tembus Rp 3 juta per gram tidak lagi dapat dibaca sebagai fluktuasi pasar yang wajar. Skala dan kecepatan kenaikannya menunjukkan perubahan preferensi risiko pelaku ekonomi global yang signifikan.
Dalam situasi meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia—mulai dari potensi resesi global, eskalasi konflik geopolitik, hingga kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat terhadap Iran—emas kembali berfungsi sebagai jangkar perlindungan nilai yang paling dipercaya.
“Secara historis, lonjakan harga emas hampir selalu beriringan dengan fase krisis atau menjelang perlambatan ekonomi global. Pada krisis keuangan 2008 dan pandemi 2020, emas menguat tajam ketika kepercayaan terhadap aset finansial dan prospek pertumbuhan melemah. Pola serupa terlihat saat ini. Karena itu, lonjakan emas lebih tepat dibaca sebagai sinyal kewaspadaan dini: bukan kepastian resesi, tetapi indikasi kuat bahwa pelaku pasar mulai mendiskon masa depan dengan asumsi risiko yang jauh lebih konservatif,” paparnya.
Oleh karena itu Handry berpesan kepada masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus waspada. Lonjakan emas yang merupakan cermin ketidakpastian global, bukan alasan untuk kepanikan domestik. “Dalam fase seperti ini, yang paling menentukan stabilitas ekonomi bukan spekulasi, melainkan kredibilitas kebijakan, ketahanan institusi, dan ketenangan publik,” ujarnya.