Harga minyak global turun, diplomasi AS-Iran redakan kekhawatiran

Hartono Hamid
5 Min Read



JAKARTA — Harga minyak dunia mengalami penurunan yang signifikan setelah Amerika Serikat (AS) melakukan langkah diplomasi untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Penurunan ini membawa rasa lega bagi pasar meskipun Selat Hormuz masih dalam kondisi tertutup sebagian.

Berdasarkan data dari Bloomberg pada Rabu (25/3/2026), harga minyak Brent untuk pengiriman Mei turun sebesar 6,5% menjadi US$97,72 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei melemah sebesar 5,3% menjadi US$87,42 per barel. Sebelumnya, harga minyak Brent sempat turun hingga 7% ke kisaran US$97 per barel, sedangkan WTI berada di sekitar US$87 per barel.

Penurunan harga minyak ini dipengaruhi oleh upaya diplomasi AS dalam mengakhiri konflik dengan Iran. Media Israel Channel 12 melaporkan bahwa Washington sedang mencoba untuk mewujudkan gencatan senjata selama satu bulan guna memberi ruang bagi perundingan. Di sisi lain, The New York Times melaporkan bahwa pemerintah AS telah mengirimkan proposal berisi 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri konflik tersebut.

Di tengah situasi ini, pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya memerintahkan pengerahan sekitar 2.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82 (82nd Airborne Division) ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini dilakukan ketika Gedung Putih mempertimbangkan berbagai opsi untuk mengurangi kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi pusat konflik.

“Trump tampaknya sedang mencari jalur negosiasi serius dengan Iran, tetapi tetap menjaga berbagai opsi terbuka,” ujar Will Todman, peneliti senior Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies.

Meski harga minyak mengalami penurunan, pasar tetap berada dalam jalur kenaikan bulanan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh volatilitas perdagangan dalam beberapa pekan terakhir, seiring investor memantau dampak konflik yang kini memasuki minggu keempat.

Di pusat konflik tersebut, Teheran berusaha memperkuat kontrol atas Selat Hormuz, yang berpotensi menghambat pasokan minyak mentah dan gas dari produsen di Teluk Persia ke pasar global. Situasi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis pasokan energi.

Perubahan sikap pemerintah AS terhadap konflik juga terjadi cukup cepat dalam beberapa hari terakhir. Pada akhir pekan lalu, Trump mengancam akan membombardir pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya dalam waktu 48 jam. Namun kemudian dia melonggarkan tenggat tersebut dan memberi waktu lima hari untuk membuka jalur diplomasi.

Laporan mengenai proposal AS kepada Teheran serta keputusan pengiriman tambahan pasukan muncul di tengah langkah Iran yang justru memperketat kendali atas selat strategis tersebut. Charu Chanana, Chief Investment Strategist Saxo Markets, menyatakan bahwa penurunan harga minyak mencerminkan mulai berkurangnya premi risiko perang di pasar energi. Namun, situasi ini belum bisa dianggap benar-benar aman karena Iran secara terbuka menolak adanya perundingan langsung, sementara aktivitas militer dan pengerahan pasukan masih terus berlangsung.

Pada Selasa (24/3/2026), Trump juga menyatakan Iran telah memberikan sebuah “hadiah” sebagai bentuk itikad baik dalam pembicaraan yang menurutnya sedang berlangsung. Dia tidak memerinci bentuk hadiah tersebut, tetapi memastikan hal itu berkaitan dengan arus energi melalui Selat Hormuz. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menambahkan bahwa meskipun kini terdapat “peluang baru untuk diplomasi”, operasi militer AS tetap akan berlanjut.

Iran sendiri menyatakan kapal asing masih diizinkan melintasi Selat Hormuz selama tidak mendukung tindakan agresi terhadap negara tersebut dan mematuhi aturan yang ditetapkan Teheran. Pernyataan itu disampaikan dalam surat yang diedarkan kepada anggota International Maritime Organization.

Di sisi lain, Israel—yang memulai perang pada akhir Februari bersama AS—tidak menunjukkan tanda-tanda meredakan operasi militernya. Serangan udara kembali dilancarkan ke sejumlah wilayah di Teheran pada Rabu pagi.

Dalam laporannya mengenai rencana gencatan senjata, Channel 12 menyebut Israel khawatir terhadap proposal tersebut dan menilai kecil kemungkinan Iran akan menyetujuinya. Sementara itu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak mitranya dari Iran, Abbas Araghchi, agar segera terlibat dalam perundingan dengan AS guna mengakhiri perang, menurut pernyataan resmi pemerintah China. Negara tersebut merupakan importir minyak terbesar di dunia sekaligus pembeli utama minyak mentah Iran.

Chris Weston, Head of Research Pepperstone Group di Melbourne, mengatakan pasar saat ini dipengaruhi oleh meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan menuju gencatan senjata. “Jaminan jalur pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz akan menjadi fondasi utama dari setiap kesepakatan yang mungkin dicapai,” ujarnya.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *