Adhi Karya Raih Pendapatan Rp9,66 Triliun di 2025

Amanda Almeirah
3 Min Read



JAKARTA — PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) mencatatkan realisasi pendapatan sebesar Rp9,66 triliun sepanjang tahun buku 2025. Laporan keuangan perseroan per 31 Desember 2025 menunjukkan bahwa pendapatan tersebut didominasi oleh segmen teknik dan konstruksi yang menyumbang sebesar Rp8,32 triliun serta manufaktur yang berkontribusi sebesar Rp628,51 miliar.

Dengan pendapatan tersebut, beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp8,61 triliun, atau mengalami penurunan sebesar 26,50% dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang mencapai Rp11,72 triliun. Hal ini membuat laba kotor ADHI pada akhir 2025 berada di level Rp1,04 triliun.

Di sisi lain, emiten BUMN Karya tersebut melaporkan rugi bersih sebesar Rp5,40 triliun pada tahun 2025. Angka ini jauh berbeda dengan posisi rugi bersih pada tahun 2024 yang hanya sebesar Rp86,75 miliar. Posisi kas dan setara kas perseroan pada akhir periode 2025 tercatat senilai Rp1,71 triliun, turun dari posisi awal tahun 2024 yang mencapai Rp2,24 triliun.

Dari sisi neraca, total aset ADHI per Desember 2025 berada pada level Rp28,79 triliun, dibandingkan dengan Rp34,64 triliun pada akhir 2024. Liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp25,49 triliun dan ekuitas berada pada posisi Rp3,29 triliun.

Dalam perkembangan lain, Badan Pengaturan (BP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memastikan bahwa proses restrukturisasi perusahaan konstruksi pelat merah atau BUMN Karya telah memasuki tahap akhir. Dony Oskaria, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, menjelaskan bahwa restrukturisasi akan menjadi langkah awal sebelum BUMN Karya melangkah ke fase konsolidasi tiga core utama, yakni konstruksi di area gedung, infrastruktur, dan engineering procurement and construction (EPC).

Proses tersebut dimulai dengan perbaikan fundamental perusahaan, terutama melalui impairment laporan keuangan dan restrukturisasi utang. “Kami sudah lakukan impairment juga terhadap bolong-bolong bukunya. Kemudian kita restrukturisasi terhadap hutang-hutangnya. Setelah ini mereka masuk ke fase konsolidasi,” ujar Dony pada pertengahan Maret 2026.

Melalui perbaikan fundamental dan konsolidasi, Dony optimistis masa depan BUMN Karya akan semakin cerah. Dia menargetkan tahun ini BUMN di sektor konstruksi akan kembali sehat dengan tata kelola yang lebih baik. Ia juga menegaskan seluruh proses menuju konsolidasi ini dilakukan dengan semangat transparansi. Menurutnya, setiap BUMN terbuka untuk diawasi oleh publik dan media sebagai bentuk kontrol terhadap aset milik rakyat.

“Fase konsolidasi ini yang tadi saya sampaikan, kita lihat kecocokan. Kita hanya akan masuk nanti ke tiga kelompok besar saja di masing-masing. Ada yang di infrastructure, ada yang di building dan gedung, ada yang di EPC,” ujar Dony.

Sebelumnya, integrasi tujuh BUMN Karya dipastikan mundur hingga 2026 setelah sebelumnya diproyeksikan selesai pada Desember 2025. Tujuh perusahaan itu adalah ADHI, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya. (Persero).

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *