Daftar 100 Wanita Paling Berpengaruh Forbes 2025: dari Presiden Komisi Eropa hingga CEO AMD

Ratna Purnama
5 Min Read

, JAKARTA — Perubahan besar sedang terjadi di dunia yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki. Kini, perempuan mulai mengambil alih peran penting dalam membangun sistem yang akan menentukan masa depan selama beberapa tahun ke depan.

Banyak wanita di berbagai bidang seperti teknologi, keuangan, dan politik menunjukkan pengaruh mereka yang sangat mendalam dan global. Meskipun begitu, kekuasaan tertinggi masih dipegang secara selektif. Daftar 100 Wanita Paling Berkuasa di Dunia versi Forbes 2025 menyoroti peran penting para perempuan ini dalam mengarahkan arah kebijakan, memimpin organisasi besar, dan mengambil keputusan strategis yang berdampak luas.

Berikut adalah 10 wanita paling berpengaruh dan berkuasa di dunia pada 2025:

1. Ursula von der Leyen – Presiden, Komisi Eropa, Uni Eropa

Ursula von der Leyen menjadi presiden Komisi Eropa, badan eksekutif Uni Eropa, pada Juli 2019. Ia adalah wanita pertama yang menjabat posisi tersebut. Dalam jabatannya, ia bertanggung jawab atas legislasi yang memengaruhi lebih dari 450 juta warga Eropa. Sebelumnya, ia menjabat sebagai menteri pertahanan Jerman dari tahun 2005 hingga 2019. Pada Juli 2024, ia terpilih kembali untuk masa jabatan lima tahun kedua, dengan fokus pada memperkuat demokrasi Eropa.

2. Christine Lagarde – Presiden, Bank Sentral Eropa

Lagarde menjadi wanita pertama yang memimpin Bank Sentral Eropa pada November 2019. Di bawah kepemimpinannya, bank ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah inflasi tinggi. Sebelumnya, ia memimpin Dana Moneter Internasional (IMF) dari 2011 hingga 2019. Lagarde juga dikenal dengan pendirian reformasi gender dalam industri keuangan yang dominan oleh laki-laki.

3. Sanae Takaichi – Perdana Menteri, Jepang

Pada Oktober 2025, Sanae Takaichi terpilih sebagai perdana menteri Jepang, menjadi wanita pertama yang menjabat posisi tersebut. Takaichi adalah tokoh konservatif yang sering menyebut Margaret Thatcher sebagai panutan. Ia telah memegang berbagai posisi penting di Partai Demokrat Liberal (LDP) sejak 1993. Saat ini, ia menghadapi tantangan ekonomi Jepang yang menghadapi inflasi dan stagnasi upah.

4. Giorgia Meloni – Perdana Menteri, Italia

Giorgia Meloni menjadi perdana menteri Italia pertama dalam sejarah negara tersebut. Ia juga presiden partai sayap kanan Brothers of Italy, yang ia dirikan pada 2012. Meloni memiliki latar belakang nasionalis dan fokus pada kebijakan konservatif sosial serta proteksionisme ekonomi. Ia juga aktif dalam gerakan nasionalis Eropa.

5. Claudia Sheinbaum – Presiden Meksiko

Claudia Sheinbaum mencetak sejarah sebagai presiden wanita pertama Meksiko. Ia lahir dari keluarga Yahudi dan merupakan presiden Yahudi pertama di negaranya. Sebelum menjabat presiden, ia menjabat sebagai walikota Mexico City. Sheinbaum juga seorang ilmuwan dengan gelar Ph.D. di bidang teknik energi dan pernah menerima Hadiah Nobel Perdamaian atas partisipasinya dalam panel iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa.

6. Julie Sweet – Ketua & CEO Accenture

Julie Sweet menjadi CEO Accenture pada 2019. Sebelumnya, ia menjabat sebagai penasihat umum dan kepala wilayah Amerika Utara. Sweet juga duduk di dewan direksi beberapa organisasi bisnis. Keberagaman dan kesetaraan menjadi prioritas utamanya. Menurutnya, budaya kesetaraan tidak hanya bermanfaat bagi perempuan, tetapi juga bagi semua orang.

7. Mary Barra – CEO General Motors

Mary Barra menjadi CEO GM sejak 2014, menjadi wanita pertama yang memimpin salah satu produsen mobil besar di AS. Ia telah menginvestasikan miliaran dolar dalam kendaraan listrik dan otonom. Pada 2025, GM mengumumkan rencana pemotongan tenaga kerja akibat perubahan regulasi. Barra juga duduk di dewan direksi Walt Disney Company.

8. Jane Fraser – Ketua & CEO Citi

Jane Fraser menjadi CEO Citi pada 2021, menjadi wanita pertama yang memimpin bank besar Wall Street. Sebelumnya, ia menjabat sebagai presiden Citigroup dan CEO Global Consumer Banking. Fraser juga duduk di Business Roundtable, sebuah kumpulan CEO perusahaan paling berpengaruh di Amerika.

9. Abigail Johnson – Ketua & CEO Fidelity Investments

Abigail Johnson mengambil alih posisi CEO Fidelity Investments pada 2014, setelah ayahnya pensiun. Ia juga ketua sejak 2016. Johnson mengadopsi mata uang kripto dan meluncurkan platform penyimpanan dan perdagangan bitcoin. Ia bekerja paruh waktu di Fidelity saat kuliah dan bergabung penuh waktu pada 1988 setelah lulus MBA dari Harvard.

10. Lisa Su – CEO AMD

Lisa Su menjadi CEO AMD pada 2014 dan berhasil membawa perusahaan ke level baru dalam sektor teknologi. Pendapatan AMD meningkat drastis selama masa kepemimpinannya. Su juga bersiap menghadapi persaingan dengan Nvidia dalam revolusi AI. Ia lahir di Taiwan dan berimigrasi ke New York saat usia 3 tahun. Setelah lulus dari MIT, ia bekerja di Texas Instruments, IBM, dan Freescale sebelum bergabung dengan AMD.

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *