Akibat Kewalahan Menghadapi Iran, AS Lakukan Tindakan yang Membuat Korea Selatan Khawatir

Bayu Purnomo
6 Min Read

Kewalahan AS dalam Menghadapi Rudal Iran

Bukti di lapangan semakin memperkuat bahwa Amerika Serikat (AS) kewalahan menghadapi serangan balas dendam yang dilakukan oleh Iran. Mereka menghadapi krisis rudal pencegat untuk menghadapi serangan rudal Iran yang hingga saat ini diperkirakan sudah meluncurkan lebih dari 500 rudalnya ke wilayah Israel dan aset-aset militer AS di sejumlah negara di Timur Tengah.

Kondisi ini memaksa AS harus mengambil tindakan yang justru membuat warga Korea Selatan panik. Seoul panik atas tindakan AS yang terjadi pada saat Korea Utara baru saja melakukan uji coba dengan meluncurkan 10 rudal balistik di dekat perairan Korea Selatan dan Jepang.

Analisa sejumlah kalangan ternyata memang kenyataan. Sebelumnya, banyak para analisis militer memperkirakan AS dan Israel akan menghadapi krisis rudal pencegat untuk mengantisipasi serangan rudal dan drone kamikaze Iran. Terbukti, rudal-rudal yang diluncurkan Iran tak mampu sepenuhnya dihalau sistem pertahanan udara Israel dan AS. Israel yang memiliki sistem pertahanan udara berlapis yakni Iron Dome, David’s Sling, Arrow dan terminal bantuan AS, THAAD, ternyata tak mampu menahan gempuran rudal Iran yang menghajar wilayah Israel.

Bahkan bukti terbaru, seorang jurnalis Israel mengakui bahwa sistem pertahanan udara Israel tak mampu menghalau rudal-rudal Iran yang terus menghajar wilayah Israel. Menurutnya, rudal-rudal Iran mampu menghadapi rudal-rudal pencegat Israel, karena rudal Iran mampu memecah menjadi 6 bagian saat akan menghantam wilayah Israel.

AS juga menghadapi kewalahan menghadapi rudal-rudal Iran yang telah menghancurkan sejumlah aset militer mereka di sejumlah negara di Timur Tengah. Sebuah laporan memperkirakan, hingga hari ke-4 perang saja, AS sudah mengalami kerugian mencapai sekitar 2 miliar dolar atau setara Rp 34 triliun akibat kerusakan yang dialami aset-aset militer AS di sejumlah negara di Timur Tengah.

AS Memindahkan Sistem Pertahanan Udara ke Timur Tengah

Akibat kewalahan menghadapi Iran dan menghadapi krisis rudal pencegat, memaksa AS harus mengambil tindakan dengan memindahkan sistem pertahanan udara mereka yang telah ditempatkan di sejumlah negara sekutunya, salah satunya di Korea Selatan. Washington Post melaporkan bahwa pada Selasa, 10 Maret 2026, AS telah merelokasi sistem pertahanan udara mereka dari Korea Selatan ke wilayah Timur Tengah. Relokasi ini terjadi pada hari ke-12 perang Iran VS AS dan Israel, dan menyusul laporan terbaru bahwa Iran telah menghancurkan radar utama yang digunakan oleh sistem Terminal High-Altitude Area Defense, atau THAAD, di Yordania yang bernilai 300 juta dolar AS.

THAAD pertama kali dikerahkan ke Korea Selatan pada tahun 2017 untuk melindungi diri dari ancaman Korea Utara yang memiliki senjata nuklir. Relokasi tersebut ditanggapi dengan kemarahan dan protes dari warga Korea Selatan yang khawatir tindakan tersebut akan menjadikan mereka target yang lebih besar, sementara Tiongkok memperingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mengganggu stabilitas kawasan.

Dibuat oleh perusahaan AS Lockheed Martin, sistem anti-rudal ini mencakup enam peluncur terpasang, dengan delapan pencegat pada setiap peluncur, dan sistem radar untuk deteksi. Rudal ini dapat menembak jatuh rudal balistik jarak pendek dan menengah, menggunakan teknologi hit-to-kill. Artinya, energi kinetik menghancurkan hulu ledak yang masuk. Rudal ini dapat melakukan hal ini di ketinggian, bahkan di luar atmosfer bumi, yang dianggap sangat berguna di Korea Selatan karena dapat digunakan untuk mencegat dan menghancurkan hulu ledak nuklir.

Media Korea Selatan, termasuk SBS dan Yonhap, melaporkan bahwa peluncur THAAD sudah diangkut keluar dari pangkalan udara Seongju, di selatan Seoul. Presiden Lee Jae-myung mengakui bahwa Seoul telah “menyatakan penolakan” terhadap penarikan senjata AS. “Tampaknya ada kontroversi baru-baru ini mengenai pasukan AS di Korea yang mengirimkan sejumlah senjata, seperti baterai artileri dan senjata pertahanan udara, ke luar negeri,” katanya dalam rapat kabinet.

Ancaman dari Korea Utara

Kepanikan Korea Selatan wajar karena beberapa hari sebelumnya, Korea Utara baru saja melakukan uji coba dengan meluncurkan 10 rudal balistik ke wilayah dekat perairan Korea Selatan dan Jepang. Sumber militer Korea Selatan menyatakan bahwa Korea Utara menembakkan lebih dari 10 rudal balistik ke laut pada hari Sabtu, saat pasukan AS dan Korea Selatan melakukan latihan militer.

Pasukan penjaga pantai Jepang mengatakan telah mendeteksi sesuatu yang kemungkinan adalah rudal balistik yang jatuh ke laut. Rudal itu tampaknya jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang, kata lembaga penyiaran publik NHK, mengutip militer. Rudal-rudal tersebut diluncurkan dari daerah dekat ibu kota Pyongyang, sekitar pukul 13.20, menuju laut di lepas pantai timur negara itu, kata kepala staf gabungan Korea Selatan dalam sebuah pernyataan.

Korea Utara telah melakukan uji coba peluncuran berbagai macam rudal balistik dan rudal jelajah selama lebih dari dua dekade dalam upaya mengembangkan sarana untuk mengirimkan senjata nuklir, yang diyakini telah berhasil dibangunnya.

Share This Article
Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *