Aturan Iran di Selat Hormuz: Dampak pada Harga BBM

Hendra Susanto
6 Min Read

Kebijakan Iran Terkait Selat Hormuz

Ketegangan di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru setelah Iran mengumumkan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Namun, kebijakan ini tidak sepenuhnya bebas dari pembatasan. Iran melarang kapal-kapal yang terafiliasi dengan musuh-musuhnya melewati jalur strategis tersebut. Keputusan ini menimbulkan berbagai dampak terhadap pasar minyak global dan ekonomi nasional.

Perwakilan Iran untuk badan maritim PBB atau International Maritime Organization (IMO), Ali Mousavi, memberikan klarifikasi mengenai status Selat Hormuz pada Minggu (22/3/2026). Menurut Mousavi, jalur perairan tersebut tetap terbuka bagi pengiriman internasional. Namun, ada pengecualian tegas: kapal yang memiliki hubungan dengan “musuh-musuh Iran” dilarang melintas.

“Selat Hormuz terbuka untuk siapa saja, kecuali ‘musuh’,” kata Mousavi menurut laporan agensi berita Iran Mehr dikutip dari CNN, Minggu (22/3/2026).

Bagi kapal-kapal yang tidak terkait dengan kelompok “musuh”, Iran tetap mewajibkan adanya koordinasi dengan otoritas keamanan dan keselamatan mereka sebelum melewati selat. “Keamanan kapal dan seluruh awaknya memerlukan koordinasi dengan pihak berwenang Iran,” imbuhnya.

Mousavi menegaskan bahwa pihaknya siap bekerja sama dengan IMO dan negara lain untuk menjaga keamanan pelayaran dan melindungi para kru kapal di Teluk. Menurutnya, diplomasi adalah prioritas utama Iran. Meski begitu, penghentian agresi sepenuhnya membutuhkan rasa saling percaya sebagai jaminan penting.

Dampak Bagi Minyak Dunia

Kebijakan Iran membuka Selat Hormuz secara selektif bukan berarti risiko hilang. Justru, di pasar energi global, kondisi ini memunculkan tiga efek besar yang bisa mendorong harga minyak tetap tinggi.

Premi Risiko

Meskipun selat dibuka, perusahaan asuransi kapal tetap akan mematok tarif tinggi karena adanya risiko “salah identifikasi” atau penyitaan oleh Iran. Dalam industri pelayaran, kenaikan premi asuransi otomatis menaikkan biaya pengiriman minyak.

Gangguan Logistik

Kapal-kapal yang harus memutar atau berganti bendera untuk menghindari “daftar hitam” Iran akan menambah biaya operasional pengiriman minyak. Jika biaya logistik naik, maka harga minyak mentah ikut terdorong naik.

Psikologi Pasar

Investor minyak sangat sensitif terhadap ketidakpastian geopolitik. Selama masih ada label “kapal musuh dilarang melintas”, harga minyak mentah akan tetap fluktuatif (volatil) karena pasar belum melihat situasi benar-benar aman.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Gangguan kecil saja di wilayah ini bisa langsung mengguncang harga energi global.

Proyeksi Harga Minyak Berdasarkan Status Selat Hormuz

Jika melihat situasi saat ini, ada beberapa kemungkinan skenario harga minyak dunia:

  • Selat terbuka normal tanpa filter → Harga minyak berpotensi turun karena pasokan lancar.
  • Selat terbuka dengan filter Iran (situasi saat ini) → Harga minyak cenderung stabil tapi tinggi karena risiko masih ada.
  • Selat terganggu atau terjadi serangan → Harga minyak berpotensi melonjak tajam.
  • Selat ditutup total → Harga minyak bisa melonjak ekstrem dan memicu krisis energi global.

Artinya, keputusan Iran membuka selat secara selektif memang mencegah krisis langsung, tetapi belum cukup untuk menurunkan harga energi secara signifikan.

Dampak dari Teluk Persia ke SPBU Terdekat

Dampak situasi di Selat Hormuz tidak hanya dirasakan oleh negara produsen minyak, tetapi juga masyarakat di banyak negara, termasuk Indonesia.

Inflasi Barang Pokok

Jika harga minyak tidak stabil akibat “filter” Hormuz, biaya distribusi barang kebutuhan pokok akan ikut naik karena transportasi bergantung pada BBM. Dampaknya bisa terlihat pada harga beras, gula, hingga tarif logistik.

Beban Subsidi

Pemerintah kemungkinan harus bekerja lebih keras menahan harga BBM agar tidak naik di tengah fluktuasi harga minyak dunia. Jika harga minyak global terus naik, beban subsidi energi juga berpotensi membengkak.

Di lapangan sendiri, ketegangan antara Iran dan AS maupun Israel belum mereda. Setelah ultimatum yang dikeluarkan Trump, pihak Iran menjawabnya dengan tegas siap membalas jika AS benar-benar menyerang infrastruktur pembangkit listrik mereka.

Dilaporkan BBC, Sabtu (21/3/2026), rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan menghantam area pemukiman di Dimona serta kota Arad, Israel. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun Selat Hormuz dibuka, risiko konflik masih tinggi. Dan selama konflik belum mereda, harga minyak dunia, yang pada akhirnya menentukan harga BBM di SPBU, masih berada di bawah bayang-bayang krisis geopolitik.

Donald Trump Minta Blokade Dibuka

Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz, seiring dengan dibukanya lagi kuota impor minyak Iran sebesar 140 ribu barel oleh Amerika Serikat.

Dalam akun media sosialnya, Truth Social Trump memberikan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz di tengah eskalasi perang Timur Tengah. Trump pada Sabtu (21/3/2026) menyatakan, Iran memiliki waktu 48 jam untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Jika tidak, AS mengancam akan menyerang dan menghancurkan infrastruktur energi Iran.

Ia menegaskan, AS akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dengan yang terbesar. Presiden ke-47 AS itu juga menetapkan batas waktu hingga Senin pukul 23.44 GMT (Selasa, 06.44 WIB) sesuai waktu unggahannya.

Ultimatum ini muncul hanya sehari setelah Trump menyebut sedang berpikir mengakhiri operasi militer di Iran setelah tiga pekan perang. Pada saat bersamaan, Selat Hormuz masih tertutup dan ribuan Marinir AS tambahan dilaporkan bergerak menuju Timur Tengah.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *