Wali Kota Makassar Tegaskan Pentingnya Pengelolaan Sampah yang Optimal
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan kekecewaannya terhadap pengelolaan sampah yang belum optimal dalam rapat koordinasi di Balaikota. Ia menekankan bahwa masalah sampah sudah berlangsung lama dan menjadi perhatian utama sejak beberapa tahun lalu.
Masalah Utama: Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
Salah satu titik lemah utama dalam pengelolaan sampah adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Munafri mengungkapkan bahwa sistem open dumping masih digunakan, sehingga memperparah kondisi lingkungan. Selain itu, air lindi dari TPA merembet hingga 17 hektar dan masuk ke pemukiman masyarakat. Hal ini membuatnya merasa malu dibandingkan daerah lain.
“Saya tidak punya apa-apa, saya cuma punya malu dan harga diri. Dan ini saya tidak mau terjadi tahun depan,” ujarnya dengan nada tegas.
Kinerja Lintas Sektor dan Kesadaran Masyarakat
Munafri juga menyoroti rendahnya kinerja lintas sektor dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumber. Ia menegaskan bahwa tanpa perubahan dari level paling dasar, upaya besar pemerintah tidak akan membuahkan hasil.
Ia memastikan bahwa persoalan TPA akan menjadi prioritas utama ke depan. Bahkan, dirinya telah menginstruksikan pengalokasian anggaran maksimal untuk mengatasi masalah tersebut. Targetnya, pada 2026 tidak ada lagi persoalan serupa yang berulang.
Peran Masyarakat dan Instansi Terkait
Selain itu, Munafri mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi seluruh elemen masyarakat. Ia menanyakan apakah sampah di kantor atau rumah warga sudah dipilah atau belum.
Ia juga menyinggung peran masing-masing instansi yang dinilai belum maksimal. Seperti kawasan pasar, rumah sakit, pendidikan, dan titik lainnya yang menjadi komponen penilaian Adipura.
Tantangan dan Hambatan
Dari sisi data, Munafri memaparkan bahwa kemampuan angkut sampah Makassar masih terbatas. Kemampuan angkut 67 persen dengan menghasilkan 800 ton per hari. Artinya, masih ada sekitar 30 persen sampah yang tercecer dan tidak tertangani dengan baik.
Selain itu, ia juga menyoroti tingginya biaya pengelolaan sampah di Makassar yang tidak sebanding dengan hasilnya. “Makassar lebih satu juta per ton, tapi tidak selesai persoalan sampah,” ujarnya.
Upaya Kolaboratif dan Partisipasi Masyarakat
Munafri pun menegaskan bahwa capaian Adipura bukan sekadar simbol, melainkan target nyata yang harus diraih. Ia mengajak seluruh pihak untuk bergerak lebih masif dalam pengelolaan sampah, termasuk melibatkan komunitas dan aktivis lingkungan.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya sampai meminta bantuan berbagai pihak, termasuk akademisi, untuk turun langsung ke lapangan. Munafri mengaku lelah menghadapi berbagai hambatan di lapangan, termasuk penolakan masyarakat saat perbaikan TPA.
“Yang lebih konyol, saat kita mau perbaiki TPA malah ditutup masyarakat. Capek!” ungkapnya.
Tindakan Konkret dan Komitmen Penuh
Munafri secara tegas meminta dukungan penuh dari seluruh jajaran. Ia menekankan pentingnya komitmen lintas sektor dalam menyelesaikan persoalan sampah. Ia juga menyampaikan bahwa masalah sampah tidak boleh dianggap remeh karena konsekuensinya besar.
Ia menegaskan bahwa langkah-langkah konkret akan diambil, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Dengan komitmen yang kuat dan partisipasi aktif dari semua pihak, diharapkan Makassar dapat mencapai standar pengelolaan sampah yang optimal.