Perjalanan Keluarga yang Berjuang Melawan Banjir
Hujan berhenti pada Jumat pagi, tapi bukan karena langit sudah tenang. Karena semua yang bisa dihanyutkan, sudah hanyut. Rumah Santi dan Budi di Desa Mardame kini tinggal pondasi, sepetak semen retak, dikelilingi tumpukan kayu patah, genteng pecah, dan lumpur setinggi lutut. Di sudut yang dulu dapur, masih menempel satu piring kaleng berkarat, tapi utuh. Di atasnya, tergenggam erat oleh tangan Santi yang gemetar: sebuah kotak kayu kecil, sebesar kotak pensil, berwarna hijau lumut, dengan engsel besi yang mulai berkarat.
Tak ada yang tersisa dari barang-barang mereka. Rak buku runtuh. Lemari hanyut. Foto pernikahan (yang digantung di dinding dengan paku kecil) lenyap bersama arus. Bahkan sepatu sekolah Lusi, anak perempuan mereka yang baru kelas 2 SD, ikut terbawa, hanya tersisa tali sepatunya, tersangkut di akar pohon karet yang tumbang.
Lusi diam. Ia duduk di atas batu, memeluk lutut, matanya memandang ke arah sungai, tempat semua itu terjadi. Ia tidak menangis. Ia hanya bertanya, suaranya pelan, seperti daun yang jatuh:
“Bu… buku pelajaranku sudah tidak ada. Besok… aku sekolah di mana?”
Santi ingin menjawab. Tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. Ia menoleh ke Budi (suaminya) yang sedang mengikat tali tambang pada batang pohon yang masih berdiri. Badannya lelah, bajunya compang-camping, tapi pandangannya tenang. Ia menghampiri Lusi, lalu duduk di sampingnya, di tanah yang masih basah.
“Lus… kamu ingat waktu kita tanam pohon rambutan di belakang rumah?”
Lusi mengangguk.
“Waktu itu akarnya kecil sekali, kan? Hampir mati. Tapi kita sirami setiap hari. Pelan-pelan, dia tumbuh. Sekarang, pohon itu sudah roboh… tapi akarnya masih di sini di tanah ini.”
Budi menepuk dada Lusi pelan.
“Nah… akarmu juga masih di sini. Di hatimu. Di kepalamu. Di tanganmu yang bisa menulis, menggambar, dan menolong orang. Itu tidak bisa hanyut, Nak. Bahkan oleh banjir terbesar sekalipun.”
Harapan yang Tak Pernah Hilang
Malam itu, di bawah tenda darurat yang dipinjamkan warga, Santi membersihkan kotak kayu kecil itu dengan lap kain bekas. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya tak ada uang. Tak ada perhiasan. Hanya ada selembar kertas bergambar rumah, berwarna-warni, bertuliskan “Rumah Kita” dalam huruf Lusi yang masih goyah. Sebutir kancing baju Budi, yang dulu copot saat ia memperbaiki atap, dan Lusi simpan “buat kenang-kenangan”. Dan satu foto kecil: Santi, Budi, dan Lusi, berdiri di depan pohon rambutan, ketawa lebar, diambil dengan kamera HP lama, sebelum layarnya retak.
Lusi menatap foto itu lama. Lalu ia tersenyum (senyum kecil, tapi nyata) dan berkata:
“Bu… besok aku mau gambar rumah yang baru. Lebih tinggi dari air. Dan ada tangga darurat, buat kalau hujan datang lagi.”
Santi memeluknya erat. Di pelukannya, ia merasakan detak jantung anaknya cepat, tapi kuat. Seperti benih yang mulai pecah cangkangnya di tanah yang baru saja diguyur hujan.
Esok pagi, Lusi duduk di atas batu yang sama. Ia mengambil arang dari bekas api unggun, lalu menggambar di atas sepotong triplek yang ditemukannya: rumah dengan atap melengkung, pohon di halaman, dan tiga stick figure bergandengan, tangan mereka saling menggenggam erat. Di bawahnya, ia tulis dengan huruf kapital: KELUARGA KAMI TIDAK HANYUT.
Relawan datang menjelang siang, membawa nasi bungkus, mie instan, selimut. Seorang ibu muda memberi Lusi sebatang pensil warna biru.
“Ini buat kamu. Gambar terus, ya.”
Lusi mengangguk. Lalu ia memberikan arangnya kepada anak kecil di sebelah, yang duduk termenung, tanpa mainan, tanpa suara.
Budi melihat itu. Ia tersenyum untuk pertama kalinya sejak banjir datang.
Keteguhan Hati yang Tak Pernah Padam
Malam berikutnya, ketika angin berhembus lembut dan bintang mulai muncul satu per satu, Santi menyalakan satu lilin kecil di dalam kotak kayu itu sebagai lampu. Lusi tidur di pangkuannya, kepala bersandar di dada Budi. Di udara, tercium aroma daun kering yang dibakar, bukan untuk menghangatkan, tapi untuk mengusir nyamuk.
Tak ada janji dari pemerintah yang datang hari itu. Tak ada truk bantuan besar. Tak ada pengumuman tentang relokasi atau ganti rugi. Tapi di sana, di atas tanah yang masih basah, di bawah langit yang mulai bersih, ada tiga manusia yang masih utuh. Ada cinta yang tak hanyut. Ada harapan yang tak padam. Ada keluarga yang tak perlu surat tanah untuk membuktikan keberadaannya.
Dan ketika angin berdesir lewat pepohonan yang tersisa, Santi berbisik, bukan pada langit, tapi pada jiwa mereka yang sedang belajar:
“Kita tak bisa menunggu angin berhenti. Kita belajar menari di tengah hujan. Kita tak bisa menunggu kapal datang. Kita membuat perahu dari reruntuhan.”
Air bah memang datang deras, rumah roboh, tanah pun retak. Janji indah sering tak nyata, seperti asap lenyap ditelan angin, tak berbekas. Tapi tangan kita masih utuh, Nak, masih bisa menanam, mengukir, dan membangun. Bersandarlah pada hati yang tabah, karena harapan terkuat lahir dari diri sendiri, bukan dari janji yang mudah hanyut.
Kotak kayu kecil itu kini jadi tempat menyimpan benih padi, pensil, dan doa-doa kecil, dalam diam, ia menjadi fondasi rumah yang baru.