Operasi Modifikasi Cuaca Berakhir, 2.011 Korban Banjir Kudus Masih Di Pengungsian

Muhammad Muhlis
5 Min Read

Situasi Bencana Banjir di Kabupaten Kudus

Sampai dengan Jumat (23/1/2026) pukul 12.00 WIB, sebanyak 2.011 jiwa masih tinggal di pengungsian akibat banjir yang terjadi di Kabupaten Kudus. Hal ini disebabkan oleh dampak bencana hidrometeorologi yang masih terasa luas hingga saat ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat bahwa sebanyak 48 desa di sembilan kecamatan terdampak oleh bencana tersebut.

Modifikasi cuaca yang awalnya direncanakan berakhir pada 20 Januari kini diperpanjang hingga Sabtu (24/1/2026). Perpanjangan ini dilakukan karena kondisi cuaca masih memprihatinkan dan potensi bencana susulan masih ada.

Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Pengelolaan Data Informasi BPBD Jateng, Armin Nugroho, menyebutkan bahwa sebanyak 4.604 kepala keluarga atau 13.995 jiwa terdampak bencana tersebut. Dari jumlah tersebut, 791 KK atau 2.011 jiwa terpaksa mengungsi sementara 2.956 unit rumah terdampak, dengan 1.172 unit di antaranya masih terendam air.

Selain banjir, bencana tanah longsor juga terjadi di 135 titik di berbagai lokasi di Kabupaten Kudus. Selain itu, banjir juga berdampak pada sektor pertanian dan fasilitas umum. Sebanyak 2.888 hektar sawah terdampak, serta 11 fasilitas ibadah dan 75 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan.

Dari sisi korban jiwa, BPBD mencatat empat orang meninggal dunia dan lima orang mengalami luka-luka akibat bencana tersebut. Untuk penanganan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menetapkan status tanggap darurat yang berlaku mulai 20 hingga 26 Januari 2026.

Beberapa langkah penanganan terus dilakukan, termasuk pendistribusian logistik, asesmen dan pendataan rumah rusak, pembersihan sungai, hingga pengoperasian dapur umum di delapan titik. Empat unit alat berat dari PUPR dan BBWS dikerahkan untuk penanganan sleding di Sungai Wulan.

Saat ini, kondisi cuaca di Kabupaten Kudus masih hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang. Debit Sungai Wulan terpantau sekitar 77 meter kubik per detik dan dinilai masih relatif aman. Namun, genangan air setinggi 10 hingga 60 sentimeter masih ditemukan di sejumlah ruas jalan dan permukiman warga.

BPBD Jawa Tengah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, terutama di tengah cuaca ekstrem yang masih berlangsung.

Modifikasi Cuaca Diperpanjang

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Tengah diperpanjang hingga 24 Januari 2026. Operasi ini sebelumnya sudah dilakukan sejak 15 Januari untuk mengatasi bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Muria Raya, Pekalongan, dan Kendal.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng), Bergas Catursasi, menjelaskan bahwa OMC seharusnya berakhir pada tanggal 20 Januari, tetapi diperpanjang sampai tanggal 24 Januari. Ia menambahkan bahwa operasi ini akan terus dievaluasi berdasarkan situasi cuaca.

Bergas melanjutkan, operasi modifikasi cuaca ini tergantung dengan situasi di langit Jawa Tengah, semisal cuaca tetap tidak mendukung maka OMC bisa saja diperpanjang. “Ya OMC tentunya bisa dilakukan kembali ketika situasi cuaca masih seperti sekarang,” paparnya.

BPBD Jawa Tengah mencatat, akibat bencana banjir di Muria Raya dan Pekalongan menyebabkan ribuan orang mengungsi. Menurut Bergas, jumlah pengungsi di Kabupaten Pekalongan mencapai sekitar 1.800 orang, Kota Pekalongan masih 2.000 orang, Kudus sebanyak 2.200 orang, dan Kabupaten Pati terdapat 1.100 orang.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, dampak dari OMC cukup membantu dalam mengendalikan cuaca di langit Jawa Tengah. “Alhamdulillah, ada operasi modifikasi cuaca ini yang difasilitasi BNPB,” katanya.

Ia mengatakan, modifikasi ini menyasar ke wilayah yang sedang dilanda bencana seperti Pati, Kudus, Jepara, Kendal, dan Pekalongan. “Kami terus pantau situasi cuaca lewat BMKG, rencana diperpanjang tergantung situasi cuaca yang dilaporkan,” terangnya.

Pemprov Jawa Tengah kini juga sedang menyiapkan skema penanganan banjir dengan beragam proyek infrastruktur. Yasin mengungkap, pengajuan dana ke pusat sudah dilakukan dengan acuan penanggulangan kebencanaan di Kabupaten Demak dalam menghadapi banjir rob senilai Rp1,7 triliun.

“Untuk Pekalongan, kemarin ngobrol dengan walikotanya diperkiraan butuh anggaran antara Rp1,5 sampai Rp 1,7 triliun untuk penanggulangan bencana Rob dan banjir di kawasan Pekalongan,” tandasnya.

Share This Article
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *