Oleh: Nabil Syuja Faozan*)
Ujian bagi sebagian besar siswa bukan hanya sekadar proses mengerjakan soal dan menunggu hasil. Ini merupakan pengalaman belajar yang penuh makna, terkait dengan kesiapan diri, harapan keluarga, serta cara menghadapi tekanan dan tantangan. Pengalaman ini dirasakan sebelum, selama, dan setelah ujian berlangsung.
Karena itu, ketika negara memperkenalkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai alat evaluasi pendidikan secara nasional, yang diuji tidak hanya penguasaan materi pelajaran, tetapi juga ketahanan mental dan lingkungan belajar peserta ujian. Pendidikan tidak pernah berlangsung dalam ruang hampa. Proses belajar selalu berkaitan dengan kondisi psikis, sosial, dan kultural peserta didik. Maka, kebijakan pendidikan seperti TKA harus dipahami secara utuh, baik dari sisi administratif maupun sudut pandang kesehatan mental siswa sebagai subjek utama pendidikan.
Petisi penolakan yang beredar luas di ruang digital menjadi tanda bahwa kebijakan pendidikan selalu bersentuhan langsung dengan keresahan masyarakat. Pelaksanaan TKA 2025 menunjukkan realitas yang lebih kompleks. Dari sekitar 4,1 juta siswa SMA yang terdaftar, sebanyak 3,56 juta mengikuti ujian. Tingginya partisipasi ini menunjukkan bahwa TKA masih diterima sebagai bagian dari sistem evaluasi nasional.
Dukungan juga datang dari kalangan pelajar. Misalnya, Ketua Umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Riandhy Prawita, yang menekankan pentingnya melibatkan suara siswa agar kebijakan pendidikan tidak terlepas dari realitas lapangan.
Dari sisi hasil, nilai rata-rata nasional TKA 2025 masih berada di bawah kategori memadai: Matematika 36,10, Bahasa Inggris 24,93, dan Bahasa Indonesia 55,38. Angka-angka ini sering dianggap sebagai kegagalan siswa. Padahal, dalam kerangka evaluasi pendidikan, tes terstandar sejatinya berfungsi sebagai titik awal untuk memperbaiki mutu pembelajaran, bukan alat pelabelan atau stigmatisasi (OECD, 2019).
TKA bukan hanya peristiwa akademik, tetapi juga pengalaman dengan dimensi kesehatan mental. Dalam dunia medis, dikenal pendekatan diagnostik holistik, yakni penilaian individu secara menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan (Engel, 1977). Pendekatan ini relevan untuk membaca pengalaman siswa saat menghadapi TKA tahun 2026, yang masa pendaftarannya telah dimulai.
Berikut adalah empat aspek penting yang perlu diperhatikan:
-
Aspek personal
Banyak siswa merasakan keterbatasan waktu, kesulitan soal, dan kecemasan terhadap hasil ujian. Keluhan ini subjektif, tetapi dampaknya nyata. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi individu terhadap tuntutan akademik sangat memengaruhi tingkat stres dan performa belajar (Lazarus & Folkman, 1984). Persiapan matang, latihan soal yang memadai, serta manajemen waktu menjadi bekal penting untuk menjaga ketenangan siswa dalam menghadapi TKA. -
Aspek kecemasan
Sigmund Freud mendefinisikan kecemasan sebagai respons terhadap ancaman yang dirasakan individu (Freud, 1926). Dalam konteks TKA, ancaman bisa berupa rasa takut gagal atau ekspektasi berlebihan dari lingkungan. Kecemasan dalam kadar tertentu dapat meningkatkan kewaspadaan dan motivasi. Masalah muncul ketika kecemasan tidak terkelola dengan baik dan mulai mengganggu fungsi belajar. -
Risiko internal
Dalam dunia medis, dikenal istilah komorbiditas, yaitu kondisi yang memperberat penyakit. Dalam pendidikan, risiko internal dapat dimaknai sebagai kesiapan akademik dan mental siswa. Lemahnya penguasaan konsep dasar, minimnya pengalaman ujian, serta kelelahan mental dapat memperbesar tekanan psikologis. Studi menunjukkan bahwa simulasi ujian dan latihan berulang mampu menurunkan kecemasan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri siswa (Putwain & Daly, 2014). -
Risiko eksternal
Dukungan orang tua, iklim sekolah, dan kualitas pembelajaran memegang peranan penting. Lingkungan yang suportif terbukti mampu menurunkan stres akademik dan meningkatkan resiliensi siswa (WHO, 2021). Sebaliknya, tekanan berlebihan justru berpotensi memperburuk kondisi psikologis peserta didik.
Pada akhirnya, TKA perlu diposisikan sebagai alat diagnostik pendidikan, bukan vonis atas kemampuan siswa. Dengan pendekatan holistik, TKA dapat menjadi sarana refleksi bersama untuk memperbaiki sistem pembelajaran. Kita berharap, semoga TKA tahun 2026 segalanya menjadi lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
*) Nabil Syuja Faozan adalah mahasiswa profesi dokter pada Universitas Muhammadiyah Jakarta dan juga alumnus Pondok Pesantren Darul Arqam, Garut.