Dampak Penutupan Selat Hormuz bagi Indonesia
Garda Revolusi Iran mengumumkan pada hari Sabtu bahwa Selat Hormuz ditutup untuk navigasi internasional hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap apa yang mereka anggap sebagai “serangan AS dan Israel” yang menargetkan wilayah Iran dalam beberapa jam terakhir. Penutupan ini berpotensi menyebabkan dampak besar terhadap perdagangan global, termasuk bagi Indonesia.
Karakteristik Selat Hormuz
Selat adalah jalur air sempit yang memisahkan dua daratan dan menghubungkan dua perairan besar. Selat Hormuz memiliki lebar antara 35 hingga 60 mil (55 hingga 95 kilometer) dan memisahkan Iran (utara) dari Semenanjung Arab (selatan). Di tengahnya terdapat pulau Qeshm, Hormuz, dan Hengām.
Selat ini menjadi titik pertemuan minyak yang paling signifikan di dunia karena aliran minyak yang tinggi. Dengan posisi strategis, Iran memiliki kemampuan untuk memengaruhi pasar minyak global, yang dapat meningkatkan harga minyak dan mendorong inflasi. Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran dan Oman, dengan armada militer Iran dan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) rutin berpatroli di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan sekutunya juga menjaga kehadiran militer untuk memastikan kebebasan navigasi, biasanya melalui Armada Kelima AS yang berbasis di Bahrain. Meskipun lebarnya hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempit, selat ini menjadi jalur vital bagi sepertiga pasokan minyak dunia yang diangkut lewat laut.
Jalur Perdagangan Minyak
Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk Persia ke pasar global. Iran menguasai sisi utara selat tersebut, sehingga memiliki posisi strategis dalam setiap dinamika keamanan di wilayah itu. Menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz, setara hampir seperlima konsumsi global. Volume ini menjadikannya salah satu titik paling krusial dalam perdagangan energi dunia.
Karena lebarnya relatif sempit dan jalur pelayarannya terbatas, selat ini rentan terhadap serangan militer, sabotase, maupun ancaman penutupan. Setiap ketegangan di kawasan tersebut hampir selalu berdampak langsung pada harga minyak dan stabilitas ekonomi global.
Jalur Pelayaran yang Sempit
Dalam hal pengangkutan minyak, Selat Hormuz sebenarnya jauh lebih sempit daripada lebar resminya yang hanya 21 mil. Jalur pelayarannya hanya dapat dilewati oleh kapal supertanker, selebar sekitar dua mil di setiap arah, mengharuskan kapal-kapal tersebut melewati perairan teritorial Iran dan Oman. Oleh sebab itu, penutupan Selat Hormuz akan sangat merugikan bagi China dan negara-negara Asia lainnya yang bergantung pada minyak mentah dan gas alam yang dikirim melalui jalur air tersebut.
Menurut EIA, 84 persen dari minyak mentah dan 83 persen dari gas alam cair yang bergerak melalui Selat Hormuz tahun lalu masuk ke pasar-pasar Asia. China, pembeli terbesar minyak Iran, memasok 5,4 juta barel per hari melalui jalur tersebut pada kuartal pertama tahun ini, sementara India dan Korea Selatan mengimpor 2,1 juta dan 1,7 juta barel per hari. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat dan Eropa mengimpor hanya 400.000 sampai 500.000 barel per hari, masing-masing, pada periode yang sama.
Meskipun ada infrastruktur pipa alternatif, infrastruktur ini tidak terlalu luas. Hanya 4,2 juta barel per hari minyak mentah yang dapat dialihkan melalui jalur darat. Jumlah ini hanya sebagian kecil dari volume harian normal yang melewati Selat Hormuz.
Dampak bagi Indonesia
Penutupan Selat Hormuz dapat memberikan dampak signifikan terhadap Indonesia, terutama dalam hal harga minyak dan stabilitas ekonomi. Indonesia merupakan negara yang sangat bergantung pada impor minyak bumi, dan penutupan jalur ini dapat menyebabkan kenaikan harga minyak secara drastis. Selain itu, kenaikan harga minyak juga bisa berdampak pada inflasi dan biaya hidup masyarakat.
Selain itu, penutupan Selat Hormuz juga dapat mengganggu pasokan energi yang dibutuhkan oleh sektor industri dan transportasi di Indonesia. Hal ini bisa memengaruhi produksi barang dan jasa, serta mengurangi daya saing ekonomi nasional.
Tantangan Geopolitik di Selat Hormuz
Sebagai salah satu jalur energi terpenting di dunia, Selat Hormuz terus berada dalam sorotan setiap kali ketegangan geopolitik meningkat. Awal 2026, peringatan dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kepada kapal-kapal yang melintas sempat memicu gangguan pelayaran, meski belum ada deklarasi resmi penutupan permanen dari pemerintah Iran. Mengingat sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati jalur sempit tersebut, setiap ancaman di kawasan ini selalu berdampak langsung pada harga energi dan stabilitas ekonomi global.