Gelora Desa Karang: Lapangan Desa dengan Nuansa Stadion di Karanganyar, Jadi Incaran Tempat Latihan

Rizal Hartanto
4 Min Read

Desa Karang Miliki Lapangan Sepak Bola Baru yang Menjadi Pusat Wisata Olahraga

Di tengah perbukitan Desa Karang, terdapat sebuah lapangan sepak bola yang kini menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Nama lapangan tersebut adalah Gelora Desa Karang. Lapangan ini berada di Desa Karang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar. Dari jauh, tampak rumput hijau yang rapi dan terawat, dengan garis-garis putih yang membingkai sisi-sisinya. Di bagian depan, dua gawang berdiri kokoh saling berhadapan, sementara di kejauhan, rumah-rumah warga dan pepohonan menjadi latar alami.

Lapangan ini dibangun di atas lahan seluas sekitar 2 hektar. Sebelumnya, lahan tersebut merupakan tanah kas desa yang tidak produktif. Namun, kini telah berubah menjadi fasilitas olahraga yang menjanjikan. Pembangunan dimulai pada Juli 2025 dan selesai pada Februari 2026. Anggaran pembangunan mencapai sekitar Rp1,6 miliar, berasal dari Dana Desa 2025 serta Pendapatan Asli Desa (PAD) selama dua tahun.

Transformasi Lahan Tak Produktif Menjadi Fasilitas Olahraga

Kepala Desa Karang, Dwi Purwoto, menjelaskan bahwa gagasan membangun lapangan baru muncul setelah Dana Desa mengalami pemangkasan. Maka dari itu, desa mencari sumber pendapatan alternatif. “Kita punya dua lapangan, satu ini dan satu lainnya tidak standar. Lapangan lama menyusahkan kita untuk mengeksplor diri menjadi magnet. Akhirnya kita bangun lapangan baru yang bisa digunakan sebagai TC klub liga Indonesia sekaligus wisata,” ujar dia.

Lahan tersebut kemudian ditukar guling menjadi tanah kas desa melalui peraturan desa setempat agar bisa dimanfaatkan secara optimal. “Dulu tanah kas desa yang tidak produktif, sehingga kita berpikir untuk menjadikannya proyek lapangan desa sport tourism di Desa Karang,” tambahnya.

Untuk memastikan kualitas, pembangunan melibatkan pihak ketiga yang berpengalaman, yaitu PT Harapan Jaya Lestarindo. “Kita tidak ingin pembangunan ini gagal, sehingga kami melibatkan PT Harapan Lestarindo karena sudah dikenal pengalaman dalam membangun stadion di Indonesia,” jelas Dwi.

Pengembangan Terus Dilakukan

Meski lapangan utama telah selesai, pengembangan belum berhenti. Rencananya, akan dibangun jogging track, kamar mandi, hingga tribun penonton. “Setelah lapangan, kita masih akan membangun jogging track, kamar mandi, dan tribun penonton. Kebetulan kita punya Bupati dan Wabup Karanganyar yang sudah membantu dengan menetapkan Bankeu Pemkab Karanganyar dan mudah-mudahan pemerintah pusat bisa mendengar dan membantu pembangunan kami,” ungkap Dwi.

Dilirik Klub-Klub dari Dalam dan Luar Negeri

Menariknya, sebelum peresmian besar digelar, lapangan ini sudah kebanjiran pemesanan. Klub-klub dari berbagai daerah di Indonesia mulai meliriknya sebagai lokasi training camp. Bahkan, pemesanan datang dari luar negeri. “Hingga saat ini, lapangan bola sudah bisa digunakan dan dipesan dari klub-klub seantero Indonesia. Bulan Desember dari Malaysia sudah booking lapangan,” kata Dwi.

Potensi Ekonomi bagi Warga Sekitar

Gelora Desa Karang kini berdiri sebagai simbol transformasi desa, dari lahan tak produktif menjadi arena hijau yang menjanjikan sport tourism dan geliat ekonomi bagi warga sekitar. Dengan adanya lapangan ini, BUMDES Sinar Abadi, yang mengelola lapangan tersebut, berharap dapat meningkatkan PAD desa melalui pengelolaan yang optimal.

Selain itu, pengembangan fasilitas pendukung seperti jogging track dan tribun penonton diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung dan meningkatkan dampak ekonomi bagi UMKM di sekitar desa. Dengan begitu, Gelora Desa Karang tidak hanya menjadi tempat berolahraga, tetapi juga menjadi pusat wisata olahraga yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Share This Article
Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *