Gerhana Bulan Total Tampilkan Bulan Darah di Purwokerto, Ini Waktu Terbaiknya

Rizal Hartanto
5 Min Read

Fenomena Langit Langka: Gerhana Bulan Total di Malam Ke-14 Ramadan 1447 Hijriah

Pada malam ke-14 Ramadan 1447 Hijriah, yaitu Selasa (3/3/2026), masyarakat Indonesia khususnya di Purwokerto akan menyaksikan fenomena langit langka berupa Gerhana Bulan Total. Fenomena ini membuat Bulan tampak berwarna merah tembaga atau dikenal sebagai blood moon. Peristiwa langka ini menarik perhatian banyak orang karena keunikan dan keindahannya.

Dosen ahli Penginderaan Jauh dari Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof Ir Jamrud Aminuddin menjelaskan bahwa Gerhana Bulan Total terjadi ketika posisi Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan. Akibatnya, bayangan Bumi sepenuhnya menutupi Bulan sehingga Bulan tidak menerima cahaya Matahari secara langsung. Peristiwa ini hanya terjadi pada fase bulan purnama.

Proses Terjadinya Warna Merah Tembaga pada Bulan

Warna merah tembaga yang terlihat pada Bulan selama gerhana total disebabkan oleh proses hamburan cahaya di atmosfer Bumi. Cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi akan mengalami penyebaran. Cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru lebih banyak tersebar, sedangkan cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah tetap diteruskan dan dibiaskan menuju permukaan Bulan. Proses ini mirip dengan mekanisme yang menyebabkan langit tampak merah saat senja.

Tahapan Gerhana Bulan Total

Gerhana Bulan Total memiliki beberapa tahapan:
* Fase penumbra: Ketika Bulan mulai memasuki bayangan samar Bumi, perubahan cahayanya masih sulit diamati.
* Gerhana sebagian: Pada tahap ini, sebagian permukaan Bulan tertutup bayangan inti Bumi atau umbra, sehingga tampak seperti “tergigit”.
* Fase total: Saat seluruh permukaan Bulan berada di dalam umbra, Bulan akan terlihat berwarna merah tembaga.
* Setelah fase total, gerhana akan kembali ke fase sebagian dan penumbra hingga akhirnya Bulan keluar sepenuhnya dari bayangan Bumi.

Keamanan Mengamati Gerhana Bulan Total

Prof Jamrud menjelaskan bahwa Gerhana Bulan berbeda dengan Gerhana Matahari karena aman untuk diamati dengan mata telanjang. Tidak diperlukan kacamata khusus. Fenomena ini dapat dilihat langsung, atau menggunakan kamera biasa, teropong, maupun teleskop kecil. Fase total gerhana bulan biasanya berlangsung sekitar 1 sampai 2 jam.

Namun, tidak setiap bulan purnama terjadi gerhana karena orbit bulan memiliki kemiringan terhadap orbit bumi mengelilingi matahari. Berdasarkan perhitungan astronomis, pada 3 Maret 2026 durasi fase total diperkirakan berlangsung sekitar 58 menit 19 detik, sedangkan keseluruhan fase gerhana, termasuk penumbra dan parsial, mencapai sekitar 5 jam 38 – 39 menit.

Wilayah yang Dapat Menyaksikan Gerhana Bulan Total

Fenomena ini dapat diamati dari wilayah Bumi yang sedang mengalami malam hari. Secara umum, seluruh fase gerhana dapat disaksikan dari kawasan Asia Timur, Australia, Selandia Baru, dan Samudra Pasifik bagian tengah. Di sebagian wilayah Amerika Utara dan Amerika Tengah, fase total atau sebagian dapat terlihat menjelang dini hari sebelum Matahari terbit. Sebaliknya, sebagian besar wilayah Eropa dan Afrika tidak dapat menyaksikan gerhana tersebut karena posisi Bulan berada di bawah horizon saat peristiwa berlangsung.

Jadwal Gerhana Bulan Total di Indonesia

Untuk wilayah Indonesia, waktu fase total diperkirakan terjadi pada:
* 18.04 – 19.02 WIB
* 19.04 – 20.02 WITA
* 20.04 – 21.02 WIT

Puncak gerhana diperkirakan terjadi pada 18.33 WIB, 19.33 WITA, dan 20.33 WIT, saat warna merah Bulan terlihat paling kuat. Di Purwokerto, masyarakat dianjurkan memilih lokasi dengan pandangan luas ke arah timur, terutama sesaat setelah Matahari terbenam.

Persiapan Pengamatan di Kampus Unsoed

Berdasarkan analisis perangkat lunak astronomi, posisi pengamatan berada pada azimuth sekitar 75°– 90° dari arah utara menuju timur, dengan elevasi Bulan meningkat dari sekitar 5° hingga 30° di atas horizon selama gerhana berlangsung. Pengamatan kemungkinan lebih nyaman dilakukan sekitar pukul 19.02 WIB atau akhir totalitas, dengan elevasi sekitar 15°, selama kondisi atmosfer mendukung dan tidak tertutup awan tebal.

Pada hari pengamatan, Jurusan Fisika FMIPA Unsoed juga akan melakukan pemantauan gerhana dari rooftop Kampus C FMIPA Unsoed. Observasi akan menggunakan teleskop Sky-Watcher BK909 NEQ2 yang dilengkapi sistem mounting bermotor otomatis. Perangkat tersebut mampu mengarahkan teleskop secara otomatis ke posisi Bulan saat gerhana setelah koordinat dimasukkan ke dalam perangkat lunak SkyPlanetarium. Dengan teknologi tersebut, proses pengamatan menjadi lebih praktis dan presisi, sehingga tidak memerlukan keahlian khusus, termasuk dalam bidang fotografi.

Sistem mounting teleskop ini merupakan hasil riset tim peneliti Jurusan Fisika FMIPA Unsoed yang dipimpin Prof. Jamrud, dengan anggota tim Prof Drs Budi Pratikno MStatSci PhD dan Dr Mirda Prisma Wijayanto MSi.

Share This Article
Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *