Investasi Baru Arsari Group: COIN hingga Blok Migas Natuna

Lani Kaylila
5 Min Read



JAKARTA — Arsari Group, yang dimiliki oleh Hashim Djojohadikusumo, kini sedang gencar melakukan ekspansi bisnis di berbagai sektor. Mulai dari tambang hingga minyak dan gas bumi (migas), bahkan hingga aset kripto. Investasi terbaru mereka adalah dengan masuk sebagai pemegang saham di PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN), sebuah perusahaan ekosistem bursa kripto.

Arsari Group juga baru saja menandatangani kesepakatan akuisisi hak partisipasi blok migas di Laut Natuna, yaitu Blok Duyung. Selain itu, mereka tengah mengincar proyek tambang di Kanada. Berikut ini beberapa investasi terbaru yang dilakukan oleh Arsari Group:

1. COIN

Arsari Group melalui perusahaan investasinya, PT Arsari Nusa Investama, telah resmi menjadi pemegang saham di COIN pada Rabu (10/12/2025). Namun, jumlah saham yang dibeli serta nilai transaksi tidak diungkapkan secara detail.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, transaksi saham COIN di pasar reguler pada hari tersebut mencapai Rp1,23 triliun. Jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 28,29 juta lembar dengan frekuensi perdagangan sebanyak 91.684 kali. Selain itu, terjadi 7 kali transaksi di pasar non-reguler atau negosiasi senilai Rp352,95 miliar yang melibatkan 294,11 juta saham COIN.

Wakil Direktur Utama dan Direktur Operasional Arsari Group, Aryo P.S. Djojohadikusumo, menyampaikan bahwa keputusan ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap transformasi digital Indonesia. Ia menilai bahwa COIN memiliki fondasi kuat serta ekosistem yang lengkap dan siap untuk menjadi katalis dalam membangun industri aset digital nasional.

2. Blok Duyung

Arsari Group melalui anak usahanya, PT Nations Natuna Barat, akan mengakuisisi 75% hak partisipasi (participating interest/PI) non-operator di Blok Duyung. Blok migas ini dioperasikan oleh West Natuna Exploration Limited (WNEL), anak usaha Conrad Asia Energy Ltd. WNEL tetap mempertahankan 25% PI serta berperan sebagai operator.

Conrad, WNEL, dan Nations telah menandatangani perjanjian definitif rencana akuisisi tersebut pada November 2025. Penyelesaian transaksi diharapkan terjadi sebelum tanggal batas akhir (long-stop date) pada kuartal III/2026, kecuali disepakati lain.

Berdasarkan pengumuman Conrad, Nations akan mendanai 75% bagiannya atas seluruh biaya masa depan pengembangan Blok Duyung, termasuk pengembangan Lapangan Mako. Selain itu, Nations setuju untuk menalangi porsi biaya WNEL hingga produksi komersial Lapangan Mako. Nantinya, WNEL akan mengembalikan dana talangan tersebut lewat bagian pendapatan produksi WNEL.

Nations akan membayar US$16 juta atau sekitar Rp266,96 miliar ke WNEL atas 75% PI. Pembayaran diselesaikan dalam tiga tahap: US$5 juta setelah terpenuhinya persyaratan pendahuluan pada kuartal I/2026, US$4 juta saat penyelesaian akuisisi pada kuartal III/2026, dan US$7 juta saat dimulainya produksi komersial pertama pada kuartal IV/2027.

Lapangan Mako memiliki sumber daya kontinjensi 2C (100%) sebesar 376 billion cubic feet (Bcf). Gas dari Lapangan Mako akan dijual ke PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). Kontrak jual beli gas tersebut berlaku hingga berakhirnya PSC Duyung pada Januari 2037 dan mencakup penjualan gas pada tingkat produksi puncak (plateau) sebesar 111 Bbtud, yang setara dengan sekitar 111,9 MMscfd. Kontrak ini mencakup seluruh sumber daya kontinjensi 2C Lapangan Mako.

3. Tambang Kanada

Selain proyek migas, Arsari Group juga berencana mengakuisisi tambang di Kanada dengan nilai sekitar Rp7 triliun. Hal ini diungkapkan oleh Presiden Direktur Arsari Tambang, Aryo Djojohadikusumo.

Ia belum bisa memberikan detail lebih lanjut karena proses negosiasi masih berlangsung. Negosiasi dan proses akuisisi ditargetkan rampung pada tahun depan. “Kenapa saya belum berani? Karena kita masih negosiasi. Dan ini baru selesai tahun depan,” ujarnya.

Menurut Aryo, peluang investasi di Kanada tak lepas dari adanya perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia dengan Kanada (ICA-CEPA). Perjanjian ini dinilai dapat membuka peluang perdagangan dan investasi lebih luas bagi kedua negara. Selain itu, peluang perluasan perdagangan dan investasi juga makin lebar usai Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) resmi ditandatangani.

“Berkat kerja keras Presiden Prabowo, terbuka lebar kesempatan investasi di luar negeri, di mana perusahaan-perusahaan di Indonesia bisa menjadi naik kelas, menjadi perusahaan multinasional,” tutur Aryo.

Share This Article
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *