Jangan Abaikan! Ini Penyebab Overthinking Pada Remaja dan Solusinya

Nurlela Rasyid
4 Min Read

Masalah Overthinking pada Remaja dan Penyebabnya

Pernah merasa pikiran seperti tidak bisa berhenti? Satu masalah kecil bisa dipikirkan berulang-ulang sampai membuat cemas, sulit tidur, bahkan kehilangan semangat. Jika iya, kamu tidak sendirian. Banyak remaja saat ini mengalami overthinking dan salah satu pemicunya datang dari hal yang hampir tidak pernah lepas dari keseharian, yaitu media sosial.

Lalu, kenapa remaja sekarang lebih rentan overthinking? Berikut penjelasannya:

Tekanan Sosial Media yang Tidak Terlihat

Di media sosial, kita sering melihat kehidupan orang lain yang terlihat “sempurna”. Mulai dari prestasi, penampilan, hingga gaya hidup. Tanpa sadar, otak mulai membandingkan: “Kenapa aku belum seperti mereka?” Perbandingan ini memicu pikiran berulang yang sulit dihentikan.

Takut Ketinggalan (FOMO)

Remaja sangat dekat dengan fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Rasanya seperti:
– Takut tertinggal tren
– Takut tidak update
– Takut tidak dianggap “ada”

Akhirnya, pikiran terus aktif memikirkan apa yang orang lain lakukan.

Terlalu Banyak Informasi Masuk

Setiap hari, remaja dibanjiri informasi:
– Notifikasi
– Konten viral
– Berita
– Opini orang lain

Otak dipaksa memproses terlalu banyak hal sekaligus. Akibatnya: Pikiran jadi penuh dan sulit “diam”.

Sensitif terhadap Penilaian Orang Lain

Masa remaja adalah fase mencari jati diri. Di fase ini:
– Pendapat orang lain terasa sangat penting
– Komentar negatif bisa membekas lama
– Like dan view bisa memengaruhi kepercayaan diri

Hal kecil seperti “story tidak di-reply” pun bisa dipikirkan berulang.

Belum Terbiasa Mengelola Emosi

Sama seperti anak-anak, remaja juga masih belajar memahami dan mengontrol emosi. Bedanya: Emosi remaja lebih kompleks. Jika tidak tahu cara mengelolanya, emosi tersebut berubah menjadi:
– Overthinking
– Kecemasan
– Pikiran negatif berulang

Kebiasaan “Replay” Pikiran

Overthinking sering muncul karena otak terbiasa mengulang kejadian:
– “Tadi aku salah ngomong nggak ya?”
– “Dia kenapa jawabnya dingin?”
– “Kalau aku gagal gimana?”

Semakin sering dipikirkan, semakin kuat pola itu terbentuk.

Kurangnya Waktu untuk “Istirahat Mental”

Banyak remaja sulit benar-benar “offline”. Padahal otak juga butuh istirahat. Tanpa jeda:
– Pikiran terus aktif
– Emosi tidak sempat diproses
– Overthinking jadi makin parah

Cara Mengatasi Overthinking pada Remaja

Tenang, overthinking bukan sesuatu yang tidak bisa diatasi. Berikut beberapa cara sederhana yang bisa dicoba:

  1. Batasi Waktu Bermedia Sosial

    Tidak harus berhenti total, tapi beri batas. Misalnya:
  2. 1–2 jam sehari
  3. Hindari scrolling sebelum tidur

    Ini membantu otak lebih tenang.

  4. Sadari Pola Pikiran Sendiri

    Saat mulai overthinking, coba tanya: “Ini fakta atau cuma asumsi?” Kesadaran ini bisa menghentikan pikiran berulang.

  5. Alihkan Energi ke Aktivitas Nyata

    Daripada terus berpikir:

  6. Olahraga ringan
  7. Menulis
  8. Menggambar
  9. Ngobrol dengan teman

    Aktivitas nyata membantu “memutus” siklus overthinking.

  10. Jangan Simpan Sendiri

    Ceritakan ke orang yang dipercaya:

  11. Teman
  12. Orang tua
  13. Guru

    Kadang, didengar saja sudah cukup membuat pikiran lebih ringan.

  14. Terima Bahwa Tidak Semua Hal Harus Sempurna

    Banyak overthinking muncul dari keinginan untuk selalu “benar” dan “sempurna”. Padahal: Tidak apa-apa salah. Tidak apa-apa gagal. Itu bagian dari proses.

  15. Latih “Diam Sejenak” dari Pikiran

    Coba biasakan:

  16. Tarik napas dalam
  17. Fokus pada momen sekarang
  18. Tidak mengikuti semua pikiran yang muncul

    Tidak semua pikiran harus dipercaya.



Overthinking pada remaja bukan tanda lemah, tapi tanda otak yang sedang mencoba memahami banyak hal sekaligus. Di tengah tekanan sosial media dan lingkungan, wajar jika pikiran jadi lebih aktif. Yang penting bukan menghilangkan overthinking sepenuhnya, tapi belajar mengelolanya, pelan-pelan, dengan cara yang sehat.

Share This Article
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *